IHSG Bangkit 0,40% ke 6.462, Asing Net Buy Rp 160,16 Miliar

IHSG Bangkit 0,40% ke 6.462, Asing Net Buy Rp 160,16 Miliar

LIPUTANFINANSIAL.COM — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 0,40% atau 25,58 poin ke level 6.462,43 pada perdagangan Kamis (17/9/2026), mengakhiri tren negatif tujuh hari beruntun. Investor asing mencatatkan net buy Rp 160,16 miliar, net buy pertama dalam sepekan terakhir. Penguatan indeks terjadi di tengah tekanan nilai tukar rupiah yang melemah 0,34% ke Rp 17.735/US$.

Bursa saham Indonesia berhasil berbalik arah setelah sepekan tertekan. Sebanyak 384 saham menguat, 244 saham melemah, dan 164 saham bergerak stagnan pada perdagangan tersebut.

Nilai transaksi tercatat Rp 13,92 triliun dengan volume perdagangan 28,52 miliar saham. Frekuensi transaksi mencapai sekitar 1,86 juta kali.

Sektor Konsumer dan Energi Pimpin Penguatan

Mayoritas sektor ditutup di zona hijau. Sektor konsumer, energi, dan teknologi mencatat penguatan terbesar.

Sebaliknya, empat sektor masih tertekan, yakni kesehatan, properti, utilitas, dan barang baku.

Lima Emiten Penopang Utama IHSG

Sejumlah saham menjadi motor penggerak indeks pada perdagangan tersebut:

  • PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI)
  • PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA)
  • PT DCI Indonesia Tbk (DCII)
  • PT Bayan Resources Tbk (BYAN)
  • PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR)

Rupiah Kembali ke Zona Merah

Di pasar mata uang, rupiah melemah 0,34% dan berakhir di posisi Rp 17.735/US$ berdasarkan data Refinitiv. Pelemahan terjadi di tengah sentimen global yang masih dibayangi konflik Timur Tengah dan keputusan kenaikan suku bunga The Federal Reserve.

Imbal Hasil SBN Tenor 10 Tahun Naik

Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun naik ke 7,154% dari 7,141% pada hari sebelumnya. Kenaikan imbal hasil menandakan harga SBN turun akibat banyak dijual investor.

Pergerakan pasar ke depan masih menanti agenda APBN KiTa serta rilis data ekonomi dalam dan luar negeri. Pelaku pasar juga mencermati perkembangan kebijakan fiskal dan moneter yang akan menjadi katalis lanjutan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index