The Fed Naikkan Suku Bunga ke 3,75%-4%, Sinyal Inflasi AS Masih Panas

The Fed Naikkan Suku Bunga ke 3,75%-4%, Sinyal Inflasi AS Masih Panas

LIPUTANFINANSIAL.COM — Federal Reserve menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%-4%, kenaikan pertama sejak Juli 2023. Keputusan ini diambil karena inflasi Amerika Serikat dinilai masih terlalu tinggi meski pasar tenaga kerja dan ekonomi tetap kuat.

Keputusan tersebut diambil dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada Rabu (16/9/2026) waktu Amerika Serikat atau Kamis (17/9/2026) dini hari waktu Indonesia. Langkah ini membalik sebagian pelonggaran moneter yang sebelumnya dilakukan The Fed.

"Dalam pertemuan tersebut, FOMC memutuskan untuk menaikkan kisaran target FFR menjadi 3,75%—4% untuk mendukung mandat ganda Federal Reserve," ujar Ketua The Fed Kevin Warsh.

Alasan di Balik Kenaikan Suku Bunga

Warsh menjelaskan bahwa pada pertemuan Juli 2026, para pejabat sebenarnya sudah sepakat inflasi masih terlalu tinggi. Namun, mayoritas memilih menunggu tambahan informasi sebelum mengambil tindakan.

Standar yang lebih jelas kemudian ditetapkan Warsh dalam pidatonya di Jackson Hole pada Agustus 2026. Menurutnya, The Fed harus yakin bahwa inflasi yang mendasari bergerak menuju sasaran secara jelas dan dengan kecepatan yang memadai.

Data yang masuk setelah pertemuan Juli 2026 gagal memenuhi standar tersebut. Warsh menyebut masih terlalu banyak kategori harga yang meningkat di atas 3% dalam pengukuran enam bulan maupun 12 bulan.

"Suara bulat komite menunjukkan tekad kami untuk mencapai stabilitas harga dalam waktu yang lebih cepat," ujar Warsh.

Dokumen pernyataan resmi FOMC menggunakan bahasa serupa. Komite menyebut kenaikan suku bunga akan mendukung pengembalian inflasi menuju sasaran 2% secara lebih tepat waktu.

Dampak ke Daya Beli Masyarakat

Warsh mengaitkan stabilitas harga dengan kemampuan rumah tangga mempertahankan daya beli. Menurutnya, kelompok masyarakat dengan kemampuan ekonomi paling rendah memiliki kepentingan paling besar terhadap inflasi yang terkendali.

"Masyarakat yang paling kurang mampu akan mendapatkan manfaat terbesar dari harga yang stabil," katanya.

FOMC menyatakan aktivitas ekonomi masih berkembang solid. Belanja domestik tetap resilien, pertumbuhan produktivitas kuat, dan investasi modal kokoh.

Pertambahan lapangan kerja mampu mengimbangi pertumbuhan angkatan kerja. Tingkat pengangguran juga relatif tidak berubah, sehingga mengurangi tekanan dari sisi ketenagakerjaan.

Warsh bahkan menyebut sisi ketenagakerjaan dari mandat The Fed berada dalam kondisi baik. Dia menyoroti tingkat pengangguran yang rendah, peningkatan jam kerja mingguan, dan tingkat pengajuan tunjangan pengangguran yang relatif rendah.

Proyeksi Suku Bunga dan Inflasi 2026

Berdasarkan dokumen Summary of Economic Projections terbaru, median proyeksi federal funds rate akhir 2026 naik menjadi 4,1%. Angka ini meningkat dibandingkan proyeksi 3,8% pada Juni 2026.

Kenaikan proyeksi suku bunga terjadi bersamaan dengan perkiraan inflasi yang makin tinggi. Median proyeksi inflasi personal consumption expenditures (PCE) 2026 naik menjadi 3,7% dari 3,6%.

Proyeksi core PCE juga meningkat menjadi 3,4% dari 3,3%. Sementara itu, FOMC justru semakin optimistis terhadap pertumbuhan ekonomi dan pasar tenaga kerja.

Proyeksi pertumbuhan produk domestik bruto riil 2026 dinaikkan menjadi 2,3% dari 2,2%. Perkiraan tingkat pengangguran diturunkan menjadi 4,1% dari sebelumnya 4,3%.

Sikap The Fed Soal Keputusan Berikutnya

Warsh berulang kali menghindari memberikan forward guidance mengenai keputusan berikutnya. Sikap tersebut konsisten dengan pidatonya di Jackson Hole yang menilai penggunaan forward guidance dalam kondisi normal seharusnya dibatasi.

Dia menolak menjawab apakah kenaikan September 2026 merupakan awal dari rangkaian kenaikan suku bunga. Warsh menegaskan tidak ingin mendahului keputusan FOMC pada pertemuan mendatang.

Kenaikan bunga diposisikan Warsh sebagai pengurangan sebagian stimulus yang masih melekat pada kebijakan moneter. Dia menggambarkannya sebagai langkah untuk menghapus "a dose of accommodation".

Tujuannya agar kondisi keuangan dan kredit lebih konsisten dengan tujuan The Fed. Bagi investor global, sinyal ini menjadi pertanda bahwa era uang murah belum sepenuhnya kembali.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index