Rupiah Melemah, Kalbe (KLBF) Buka Peluang Naikkan Harga Obat

Rupiah Melemah, Kalbe (KLBF) Buka Peluang Naikkan Harga Obat
PT Kalbe Farma Tbk [FOTO: NET].

JAKARTA - Dampak dari melemahnya nilai tukar rupiah atas dolar AS, emiten sektor kesehatan PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF) kembali mempertimbangkan kenaikan harga jual produk guna memangkas tekanan terhadap margin perseroan.

Direktur Kalbe Farma, Kartika Setiabudy, menjelaskan bahwa sepanjang semester I/2026, tekanan berat yang dirasakan Kalbe utamanya bersumber dari melandainya gross profit margin lantaran mayoritas bahan baku masih didatangkan melalui impor.

Diketahui lini produk KLBF meliputi obat-obatan dengan merek Komix, Promag, Entrostop, Procold, Mixagrip, hingga suplemen kesehatan.

”Ke depan memang pelemahan kurs dan kenaikan harga bahan baku masih menjadi suatu kendala untuk perusahaan. Kami akan berupaya untuk baik secara jangka pendek atau jangka menengah akan melakukan strategi kenaikan harga dan juga akan melakukan manajemen portofolio supaya bisa mengoptimalkan kontribusi produk yang memiliki margin lebih baik,” katanya dalam Public Expose Live 2026, Jumat (11/9/2026).

Kartika menyampaikan, taktik mengalihkan tekanan kepada konsumen lewat penyesuaian harga sebenarnya sudah dijalankan perseroan sepanjang tahun ini secara selektif pada sejumlah produk konsumen.

Walau demikian, untuk ke depannya Kartika menegaskan bahwa penyesuaian harga bakalan dieksekusi perseroan secara ekstra hati-hati. Langkah ini berkaitan dengan tingkat daya beli masyarakat yang terbilang peka terhadap kenaikan harga.

”Untuk kenaikan harga itu kami lakukan dengan sangat hati-hati, dengan sangat selektif mengingat kondisi ekonomi yang saat ini juga belum kondusif, sehingga kenaikan harga tentunya kami lakukan untuk beberapa produk konsumen saja,” tambahnya.

Merujuk laporan keuangan perseroan, KLBF sejatinya sanggup mengantongi penjualan hingga Rp19,47 triliun selama paruh pertama 2026. Capaian itu mencerminkan pertumbuhan 14,04% year-on-year (YoY) dibandingkan angka Rp17,07 triliun pada rentang sama tahun 2025.

Hanya saja, membengkaknya biaya penjualan menjadi Rp3,85 triliun pada periode Januari—Juni 2026 dari Rp3,58 triliun pada periode sama tahun 2025, membuat perolehan laba bersih Kalbe mengalami penyusutan.

Laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk alias laba bersih Kalbe tergerus dari posisi Rp1,97 triliun pada paruh pertama 2025 menjadi Rp1,91 triliun pada semester I/2026.

Menyinggung estimasi kinerja 2026, Kartika memprediksikan tekanan terhadap margin masih akan berlangsung. Meski begitu, pihaknya memilih tidak merincikan target kinerja yang dijadikan acuan perseroan untuk tahun ini.

”Untuk tahun ini, kami melihat bahwa tekanan terhadap margin akan tetap ada karena memang secara fundamental kondisi rupiah akhir-akhir ini sudah ada penguatan, tapi karena ada dampak dari inventory juga mungkin sepanjang tahun ini, kami belum melihat adanya perbaikan margin secara signifikan,” tegasnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index