Bank DKI Salurkan Kredit Pedagang Pasar Rp326 Miliar, Tembus 2.388 Debitur

Bank DKI Salurkan Kredit Pedagang Pasar Rp326 Miliar, Tembus 2.388 Debitur

LIPUTANFINANSIAL.COM — Untuk menjangkau para pedagang, Bank DKI mengoperasikan 243 Sentra Mikro yang tersebar di seluruh wilayah Jakarta. Titik-titik layanan ini sengaja ditempatkan dekat dengan pusat aktivitas ekonomi masyarakat, seperti pasar tradisional dan kawasan usaha kecil.

Dana Mengalir ke Jantung Ekonomi Ibu Kota

Direktur Utama Bank DKI Agus H. Widodo menyebut keberadaan Sentra Mikro bukan sekadar kantor cabang biasa. Kehadirannya membantu bank memahami karakteristik dan kebutuhan pembiayaan di masing-masing ekosistem usaha.

"Sebagai bank milik masyarakat Jakarta, transformasi Bank DKI tidak boleh hanya membuat kami semakin besar, semakin modern, dan semakin digital. Transformasi harus membuat Bank DKI semakin dekat dengan masyarakat dan semakin relevan bagi perekonomian Jakarta," kata Agus dalam keterangan tertulis, Selasa (1/9/2026).

Pendekatan ini tampaknya berbuah hasil. Hingga semester pertama tahun ini, total plafon kredit yang mengalir ke pedagang pasar sudah menembus angka Rp326 miliar, dengan rata-rata pinjaman di kisaran Rp136 juta per debitur.

Kramat Jati: Ladang Potensial yang Baru Tergarap Sebagian

Salah satu titik konsentrasi penyaluran berada di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur. Di lokasi ini, Bank DKI telah mengucurkan kredit sebesar Rp48 miliar kepada 167 pedagang.

Angka tersebut masih jauh dari potensi yang ada. Pasar induk tersebut memiliki lebih dari 5.000 tempat usaha, artinya baru sekitar 3 persen pedagang yang terjangkau pembiayaan perbankan. Masih ada ruang besar bagi bank untuk memperluas penetrasi di sana.

Di Kramat Jati, skema yang ditawarkan mencakup Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan pembiayaan non-KUR, dengan plafon maksimal hingga Rp500 juta per nasabah. Variasi plafon ini dirancang untuk mengakomodasi kebutuhan modal kerja yang berbeda-beda, mulai dari pedagang kecil yang butuh tambahan stok hingga pedagang yang ingin memperluas lapak.

Jauh dari Rentenir, Melek Digital

Program ini tidak hanya berhenti pada penyaluran uang. Para pedagang didorong untuk terhubung dengan ekosistem digital dan memperbaiki pengelolaan keuangan usaha. Langkah itu diambil agar pelaku usaha tidak sekadar menerima pinjaman, tapi juga mampu mengelola arus kas dan memperluas pasar penjualan.

"Hari ini mungkin nasabah mikro, besok berkembang menjadi usaha kecil, kemudian menjadi usaha menengah. Bank DKI harus tetap hadir dan tumbuh bersama mereka," tutup Agus.

Dorongan ke arah formal ini penting bagi perekonomian Jakarta. Semakin banyak pedagang yang masuk ke sistem pembiayaan resmi, semakin sehat struktur modal usaha kecil, dan semakin kecil pula risiko jeratan utang berbunga tinggi dari pinjaman informal.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index