JAKARTA — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah mendalami potensi pemanfaatan singkong sebagai alternatif penanganan masalah kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kepala BRIN Arif Satria mengungkapkan bahwa analisis secara teoretis memperlihatkan efektivitas singkong untuk keperluan tersebut sangat bisa direalisasikan.
Pernyataan itu disampaikan Arif ketika memberikan keterangan pers menjelang rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (28/8/2026).
- Baca Juga Skema Utang Whoosh Dibahas 15 September
“Ya, BRIN sudah mengkaji. Artinya secara teoritik itu memang sangat memungkinkan,” kata Arif.
Lebih lanjut, Arif menjelaskan bahwa institusinya telah membangun koordinasi bersama Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) guna mematangkan implementasi gagasan tersebut. Kendati demikian, pihaknya masih menantikan perkembangan lebih lanjut mengenai kesiapan aspek teknis di lapangan.
“Dan BRIN sudah berkoordinasi dengan Polri dalam rangka untuk menyiapkan itu. Nah sekarang persiapan seperti apa ini kami juga sedang terus kami tunggu update-nya, mudah-mudahan dalam waktu dekat ini sudah ada hasilnya,” ujarnya.
Di samping meneliti potensi singkong, Arif menuturkan bahwa pihaknya turut bekerja sama dengan Polri serta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) guna mengoptimalkan penanggulangan karhutla melalui penerapan teknologi modifikasi cuaca.
Berdasarkan kajian tersebut, BRIN mendapati beberapa jenis bahan yang dinilai efektif menunjang proses modifikasi cuaca.
Arif menyebutkan bahwa material seperti Jumakron serta natrium klorida (NaCl) berukuran 25 mikron menjadi temuan penting dalam riset tersebut.
“Yang jelas kami dengan Polri terkait dengan Karhutla ini, termasuk dengan BMKG, kami juga sudah koordinasi untuk modifikasi cuaca,” ucap Arif.
Ia menambahkan, penggunaan berbagai material itu dinilai jauh lebih hemat dan efisien dalam menyukseskan pelaksanaan teknologi modifikasi cuaca.
“Karena memang BRIN menemukan juga beberapa teknologi ya, material untuk modifikasi cuaca seperti Jumakron, NaCl 25 mikron yang memang itu lebih efisien untuk mengatasi, untuk digunakan, dalam teknologi modifikasi cuaca,” tuturnya.