LIPUTANFINANSIAL.COM — Rencana tersebut akan dimintakan restu pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada 30 September 2026. Setelah seluruh portofolio bisnis dan aset dialihkan, InfraNexia akan mengelola sekitar 112.000 kilometer jaringan fiber optik, termasuk 26.000 kilometer Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) domestik yang membentang di seluruh Indonesia—setara hampir tiga kali keliling bumi.
Skema Transaksi dan Target Penyelesaian
Direktur Strategic Business Development Portfolio Telkom, Seno Soemadji, mengatakan proses carve out InfraCo telah memasuki tahap lanjutan setelah fase pertama yang dilakukan pada 2025. Perusahaan menargetkan pemisahan tahap kedua rampung pada akhir September 2026."Targetnya akhir September hingga 1 Oktober itu sudah full operation," kata Seno di sela acara BATIC 2026 di Nusa Dua, Bali, Rabu (26/8).
Dalam transaksi tahap kedua, Telkom akan mengalihkan segmen usaha Wholesale Fiber Connectivity kepada InfraCo melalui skema non-tunai. Sebagai kompensasi, TIF akan menerbitkan 498,58 juta saham baru kepada Telkom dengan nilai konversi Rp 100.000 per saham. Pasca-transaksi, kepemilikan Telkom di InfraCo menjadi 99,9999999%, sedangkan PT Multimedia Nusantara memegang 0,0000001% saham.
Strategi Unlock Value dan Konsolidasi BUMN
Langkah ini merupakan bagian dari transformasi bisnis TelkomGroup yang berfokus pada delayering serta pemisahan pengelolaan aset infrastruktur dari bisnis utama. Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini, menegaskan spin off ini sejalan dengan agenda Danantara Asset Management (DAM) untuk mengonsolidasikan aset-aset BUMN."Spin-Off InfraCo Tahap 2 sebagai langkah strategis dalam perjalanan transformasi TLKM 30 untuk memperkuat InfraNexia sebagai mesin pertumbuhan baru," ujar Dian.
Aksi korporasi ini juga mendukung strategi TLKM 30 melalui pilar unlock value, yang mencakup percepatan monetisasi aset infrastruktur bernilai tinggi seperti data center, menara, dan jaringan fiber. Dengan penguasaan aset tersebut, InfraNexia diharapkan menjadi penyedia layanan wholesale connectivity yang lebih fokus dan kompetitif.
Dampak bagi Kinerja dan Pelanggan
Pemisahan ini membuat Telkom lebih fokus mengelola bisnis utamanya, sementara InfraNexia mengelola infrastruktur digital secara lebih mandiri. Dengan struktur baru, perusahaan disebut dapat lebih cepat merespons peluang pasar dan memperluas kerja sama.Dian menambahkan, inisiatif ini tidak hanya bertujuan menghadirkan bisnis infrastruktur yang lebih agile dan berdaya saing, tetapi juga meningkatkan pengalaman pelanggan. Setelah seluruh aset dialihkan, portofolio InfraNexia mencakup jaringan akses pelanggan, core backbone, hingga berbagai infrastruktur pendukung lainnya.
"Spin-Off InfraCo Tahap 2 merupakan strategic initiative dari TelkomGroup yang tidak hanya bertujuan untuk menghadirkan bisnis infrastruktur yang lebih fokus, agile, dan berdaya saing," tutup Dian.