Strategi Emiten Ritel ACES, HERO, ERAA dan MDIY Kejar Pertumbuhan 2026

Strategi Emiten Ritel ACES, HERO, ERAA dan MDIY Kejar Pertumbuhan 2026
Strategi emiten ritel ACES, HERO, dan ERAA fokus pada omnichannel untuk dongkrak kinerja, sementara MDIY andalkan ekspansi gerai fisik di 2026. (Foto: NET)

JAKARTA - Emiten ritel menyiapkan langkah berbeda untuk menjaga perluasan usaha sepanjang 2026. Di tengah hambatan daya beli serta pergeseran kebiasaan pembeli, sejumlah peritel memadukan penguatan saluran digital bersama jaringan toko fisik, sementara sebagian lainnya masih mengandalkan pelebaran gerai sebagai motor utama kemajuan. 

PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk. (ACES), PT DFI Retail Nusantara Tbk. (HERO), dan PT Erajaya Swasembada Tbk. (ERAA) menjadikan pemantapan omnichannel sebagai komponen penting dari taktik usaha. 

Di sisi lain, PT Daya Intiguna Yasa Tbk. (MDIY) atau MR.DIY Indonesia masih menaruh perluasan gerai sebagai tumpuan utama untuk memperluas jangkauan pasar. 

Perbedaan taktik tersebut memperlihatkan bagaimana masing-masing emiten merespons sifat konsumen serta situasi pasar ritel tanah air. Saluran digital dipakai untuk memperluas akses, membangun loyalitas, serta menaikkan frekuensi transaksi, sedangkan jaringan fisik tetap memegang peran penting guna menjajaki pembeli di berbagai daerah.

ACES Padukan Saluran Digital serta Fisik ACES menempatkan omnichannel sebagai salah satu penggerak kemajuan usaha dengan menyatukan jaringan toko fisik dan saluran digital. 

Perseroan menilai kedua saluran tersebut telah menjelma menjadi satu ekosistem untuk memberi pengalaman belanja yang lebih fleksibel kepada pelanggan. 

Head of Corporate Communications & Sustainability ACES Melinda Pudjo menyatakan peluang pengembangan omnichannel masih terbuka seiring pergeseran kebiasaan pembeli yang menghendaki pengalaman belanja terpadu. 

“Omnichannel menjadi salah satu bagian penting dalam mendukung pertumbuhan penjualan perusahaan,” ujarnya, Selasa (18/8/2026).

ACES Andalkan Data Pelanggan untuk Ekspansi AZKO dan NEKA Kuda-kuda Aspirasi Hidup (ACES) Hadapi Kembalinya Ace Hardware ACES mengembangkan beberapa fitur seperti Scan & Shop, Scan & Go, serta Buy Online Pick Up In Store (BOPIS). 

Pemanfaatan data dan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau AI, juga diarahkan untuk memproduksi saran produk yang lebih relevan serta menaikkan personalisasi pengalaman pelanggan. Perseroan bahkan mempunyai dua studio live streaming yang bertempat di Azko Living Plaza Bintaro dan Azko Living World Alam Sutera. 

Saluran tersebut dipakai untuk memperkuat interaksi bersama konsumen lewat platform digital. 

“Omnichannel tidak hanya menjadi kanal transaksi, tetapi juga menjadi bagian dari ekosistem yang memperluas jangkauan dan mendukung pertumbuhan bisnis,” imbuh Melinda.

Penguatan saluran digital juga mulai menopang keputusan perluasan fisik ACES. Data transaksi dan basis member memberi gambaran mengenai sebaran pelanggan, kesukaan produk hingga potensi permintaan di suatu wilayah. 

Insight tersebut menjadi salah satu bahan pertimbangan perseroan dalam menetapkan lokasi gerai baru, bersama unsur lokasi, potensi pasar dan prospek usaha toko. 

Taktik tersebut berjalan beriringan dengan penambahan jaringan AZKO dan NEKA. Pada semester I/2026, ACES telah membuka 10 toko AZKO dan 10 toko NEKA sehingga total gerai baru menggapai 20 toko. 

Perluasan AZKO juga membawa perseroan masuk ke lima wilayah baru, yakni Berau, Pasuruan, Pekalongan, Timika dan Kuningan. Sampai akhir 2026, ACES menargetkan pembukaan sekitar 25—30 toko AZKO, terutama di kota tier 2 dan tier 3. 

Perseroan juga membidik pembukaan 40—50 toko NEKA di berbagai wilayah Indonesia. Taktik tersebut ditopang oleh kinerja yang masih tumbuh. 

Pada semester I/2026, penjualan bersih ACES menggapai Rp4,5 triliun atau naik 6,3% secara tahunan. Laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk melonjak 33,3% menjadi Rp390,3 miliar. Dari sisi same store sales growth atau SSSG, ACES mencatat kemajuan nasional 2,2% pada semester I/2026.

HERO Perkuat Loyalitas Pelanggan Sementara itu, PT DFI Retail Nusantara Tbk. (HERO) mengarahkan penguatan omnichannel untuk menjaga kemajuan penjualan sekaligus menaikkan loyalitas pelanggan. Perseroan mengelola jaringan Guardian dan IKEA. 

Pada usaha Guardian, taktik digital diarahkan untuk menghubungkan pelanggan dengan jaringan toko, aplikasi, platform digital, program loyalitas hingga berbagai layanan yang menaikkan pengalaman berbelanja. 

Head of Corporate Communications and Affairs HERO Diky Risbianto mengatakan omnichannel diarahkan untuk menghubungkan pelanggan dengan jaringan toko, aplikasi, platform digital, program loyalitas hingga berbagai layanan yang menaikkan pengalaman berbelanja. 

“Pada bisnis Guardian, penguatan omnichannel dilakukan melalui integrasi pengalaman belanja offline dan online. Perseroan mengembangkan aplikasi dan website Guardian serta official store di sejumlah platform e-commerce,” ujarnya, Selasa (18/8/2026).

Saluran digital juga dimanfaatkan untuk memberi pengalaman yang lebih personal dan relevan kepada pelanggan. Sampai semester I/2026, manajemen menyebut saluran omnichannel terus memperlihatkan perkembangan positif dan berkontribusi terhadap perluasan akses serta engagement pelanggan.

Pada semester II/2026, penyatuan tersebut bakal diperkuat agar pelanggan dapat berpindah dari saluran digital ke toko fisik maupun sebaliknya secara lebih seamless. 

“Targetnya tidak berhenti pada peningkatan transaksi, tetapi juga mendorong frekuensi kunjungan, loyalitas pelanggan, dan kualitas pengalaman berbelanja,” kata Diky.

Taktik tersebut berjalan bersamaan dengan pelebaran kategori health, beauty and wellness pada Guardian. Sampai pertengahan 2026, Guardian telah mempunyai lebih dari 370 gerai dari total lebih dari 377 gerai DFI Nusantara. 

Sementara untuk IKEA, saat ini HERO sudah mempunyai tujuh gerai dan bakal fokus pada kenaikan produktivitas ketujuh toko tersebut sekaligus memperkuat saluran online. 

Penguatan omnichannel menjadi semakin penting bagi HERO karena kemajuan pendapatan pada semester I/2026 belum sepenuhnya berujung pada kenaikan laba bersih. 

Mengutip laporan keuangan, pendapatan bersih HERO naik 15,32% menjadi Rp2,71 triliun pada semester I/2026 dari Rp2,35 triliun pada kurun yang sama tahun sebelumnya. Namun, laba tahun berjalan justru turun 16,60% menjadi Rp62,69 miliar dari Rp75,17 miliar.

ERAA Andalkan Ekosistem Digital Berbeda dengan HERO yang tengah mengejar kenaikan kualitas kemajuan, PT Erajaya Swasembada Tbk. (ERAA) mencatat kemajuan penjualan dan laba yang kuat pada semester I/2026. Penguatan omnichannel menjadi bagian dari taktik ERAA untuk menopang kemajuan tersebut. 

Perseroan menjalankan usaha lewat tiga vertikal, yakni Erajaya Digital, Erajaya Active Lifestyle, dan Erajaya Food & Nourishment. 

Head of Legal Counsel & Corporate Affair Erajaya Group Amelia Allen mengatakan kinerja sepanjang semester I/2026 didorong oleh konsistensi perseroan dalam menjalankan taktik diversifikasi usaha serta pelebaran yang dijalankan secara terukur. 

Ketiga vertikal usaha ERAA, yakni Erajaya Digital, Erajaya Active Lifestyle, dan Erajaya Food & Nourishment, terus memperlihatkan kinerja yang solid dan memberi sumbangan positif terhadap kemajuan pendapatan maupun profitabilitas perusahaan. 

“Perseroan juga terus memperkuat ekosistem omnichannel terintegrasi sebagai bagian dari upaya meningkatkan pengalaman pelanggan di seluruh lini bisnis,” ujarnya.

Sampai kuartal I/2026, Erajaya mengoperasikan lebih dari 2.400 jaringan ritel di Indonesia. Jaringan tersebut didukung oleh penguatan ekosistem digital commerce serta program loyalitas pelanggan MyEraspace yang telah mempunyai lebih dari 17,5 juta anggota. 

Skala basis pelanggan tersebut menjadi modal bagi perseroan untuk menyatukan jaringan toko dengan saluran digital dan program loyalitas. Dari sisi kinerja, berdasarkan laporan keuangan konsolidasian untuk kurun yang berakhir 30 Juni 2026, ERAA membukukan penjualan senilai Rp42,90 triliun. 

Angka tersebut meningkat 22,39% secara tahunan dibandingkan dengan kurun yang sama tahun lalu sebesar Rp35,05 triliun. Sejalan dengan kemajuan penjualan, laba bersih ERAA pada semester I/2026 menggapai Rp784,02 miliar, tumbuh 37,96% dibandingkan dengan Rp568,30 miliar pada semester I/2025.

MDIY Pilih Perluasan Gerai Di tengah tren penguatan omnichannel yang dijalankan ACES, HERO, dan ERAA, PT Daya Intiguna Yasa Tbk. (MDIY) atau MR.DIY Indonesia mengambil arah berbeda. 

Perseroan masih menempatkan gerai fisik sebagai taktik utama kemajuan dengan memperluas jaringan hingga kota tier 2, tier 3, dan kabupaten. 

Deputy Head of Purchasing MDIY Natalia Hana Refinawati mengatakan keputusan tersebut berkenaan dengan sifat pasar Indonesia yang mempunyai wilayah geografis luas serta kebutuhan konsumen yang beraneka ragam. 

“Untuk melayani masyarakat Indonesia sampai ke seluruh pelosok Indonesia, sampai saat ini fokus kami masih gerai fisik atau offline,” ujarnya.

Taktik tersebut tercermin dari agresifnya pelebaran jaringan MDIY. Sampai semester I/2026, perseroan telah membuka sebanyak 1.300 gerai yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Sepanjang 2026, MDIY menargetkan penambahan sekitar 270 gerai baru. 

Perluasan menyasar kota besar sekaligus wilayah tier 2 dan tier 3 hingga kabupaten. Konsep hemat, lengkap dan dekat menjadi salah satu penopang taktik tersebut. Dengan memperbanyak titik gerai, perseroan berupaya mendekatkan akses produk kepada konsumen di berbagai wilayah. 

Taktik pelebaran tersebut masih menghasilkan kemajuan kinerja. Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian per 30 Juni 2026, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk menggapai Rp589,68 miliar, meningkat 16,61% secara tahunan dari Rp505,69 miliar. 

Pendapatan perseroan tumbuh 24,5% secara tahunan menjadi Rp4,6 triliun. Laba kotor juga naik 15,7% menjadi Rp2,4 triliun.

Omnichannel Dorong Retensi Pelanggan Perbedaan taktik di antara emiten ritel tersebut memperlihatkan bahwa omnichannel dan pelebaran fisik mempunyai fungsi yang berlainan dalam mendorong kemajuan usaha. 

Analis Sucor Sekuritas Christofer Kojongian menilai keberadaan omnichannel memberi sentimen positif bagi emiten ritel karena dapat menaikkan customer retention. 

Menurutnya, penyatuan aplikasi dan membership juga berpotensi menaikkan frekuensi transaksi serta nilai belanja pelanggan. Dampak tersebut pada akhirnya dapat menopang SSSG dan margin, meskipun manfaat terhadap laba baru terasa berarti setelah investasi digital menggapai skala ekonomis. 

“Ya, dapat meningkatkan frekuensi transaksi dan nilai belanja melalui aplikasi dan membership. Ujungnya memperbaiki SSSG dan margin, tapi dampak ke laba baru terasa signifikan setelah investasi digital mencapai skala ekonomis,” ujarnya.

Dengan begitu, ACES, HERO, dan ERAA menjadikan penyatuan saluran digital dan fisik sebagai bagian dari upaya memperkuat hubungan dengan konsumen. Sementara MDIY masih mengandalkan kedekatan gerai secara fisik untuk memperluas penetrasi pasar. 

Empat taktik tersebut memperlihatkan bahwa di tengah pergeseran kebiasaan konsumen, kemajuan usaha ritel tidak mempunyai satu rumus tunggal. Peritel dapat memilih memperkuat ekosistem digital, mengoptimalkan jaringan toko yang ada, atau terus memperluas titik penjualan sesuai sifat pasar yang dibidik.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index