JAKARTA — Kepala Negara Prabowo Subianto menyoroti capaian Nusantara dalam Programme for International Student Assessment yang dinilainya masih tertinggal dibanding sejumlah kawasan maupun negara maju. Hasil PISA tahun 2022 menampilkan potret unik sekaligus menantang bagi dunia pengajaran di tanah air.
Di satu sisi, sistem pembelajaran nasional tidak luput dari dampak buruk wabah Covid-19 yang memicu fenomena learning loss. Akibatnya, skor rata-rata kemampuan pelajar Nusantara pada tiga domain utama mengalami penurunan dibanding hasil PISA tahun 2018.
Namun di sisi lain, penurunan skor Nusantara ternyata jauh lebih landai dibanding kemerosotan tajam yang dialami oleh sebagian besar wilayah lain di bumi. Situasi global tersebut justru membuat peringkat relatif Nusantara secara internasional naik antara 5 hingga 6 posisi.
Berdasarkan dokumen Official PISA 2022 Results yang dirilis oleh Kementerian Pendidikan, pergeseran angka serta posisi ini terlihat jelas pada setiap bidang yang diuji. Pada domain literasi membaca, Nusantara mencatatkan skor sebesar 359.
Angka ini memang menurun dari skor 371 pada tahun 2018, tetapi posisi Nusantara di tingkat global justru berhasil naik sebanyak 5 peringkat. Pola yang sama juga terjadi pada literasi matematika, di mana skor Nusantara terkoreksi dari 379 menjadi 366, namun tetap mampu mendongkrak posisi internasionalnya naik 5 peringkat.
Sementara itu, performa pada literasi sains mencatatkan kenaikan peringkat tertinggi, yaitu melonjak 6 posisi ke atas, meskipun skor riilnya turun dari 396 menjadi 383. Secara keseluruhan, data ini merefleksikan ketangguhan di tengah krisis, sekaligus pengingat akan pentingnya pemulihan mutu pembelajaran secara berkelanjutan.
Meski begitu, Prabowo menilai perbandingan tersebut harus dilihat secara objektif dengan mempertimbangkan tantangan Nusantara sebagai negara kepulauan yang sangat besar.
Hal tersebut disampaikan Prabowo saat memberikan taklimat dalam agenda Pertemuan Presiden RI dengan 150 Periset Badan Riset dan Inovasi Nasional di Halaman Tengah Istana Kepresidenan, JAKARTA, Kamis (6/8/2026).
Presiden kembali menegaskan pentingnya membangun kebijakan berdasarkan fakta, meskipun kenyataan yang dihadapi terkadang tidak menyenangkan.
"Fakta. Nah jadi kadang-kadang fakta menyakitkan. Katanya sekarang ada suatu survei namanya PISA, di mana membandingkan kualitas pendidikan berbagai negara. Kami termasuk tidak terlalu bagus," ujar Prabowo.
Menurutnya, hasil PISA menunjukkan kemampuan membaca peserta didik Nusantara masih berada di bawah sejumlah wilayah, termasuk Thailand, Malaysia, Vietnam, Jepang, Singapura, serta rata-rata negara anggota Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi.
"Skor PISA membaca kami hanya sedikit di atas Filipina. Kami masih di bawah Thailand, di bawah Malaysia, di bawah Vietnam, di bawah rata-rata OECD, di bawah Jepang, di bawah Singapura," katanya.
Namun, Prabowo menilai capaian Singapura tidak bisa dibandingkan secara langsung dengan Nusantara karena perbedaan skala serta tantangan yang dihadapi kedua belah pihak.
"Kalau Singapura saya enggak terlalu khawatir, hanya negara lima juta, satu kota. Menteri Pendidikan Singapura itu sebetulnya enggak bisa dibandingkan dengan Menteri Pendidikan Indonesia," ujarnya.
Prabowo menjelaskan Nusantara memiliki sekitar 388.000 sekolah yang tersebar di berbagai wilayah, mulai dari pegunungan hingga pulau-pulau terluar. Kondisi geografis tersebut membuat penyelenggaraan pembelajaran nasional memiliki tingkat kompleksitas yang jauh lebih tinggi.
"Indonesia punya 388.000 sekolah kalau tidak salah, nanti dicek ya. Ada di tengah gunung, ada di pulau terluar. Jadi bagaimana memberi pendidikan yang terbaik untuk Indonesia," katanya.
Ia bahkan mencontohkan tantangan yang dihadapi pimpinan daerah dalam mengawasi sekolah-sekolah di wilayah kepulauan.
"Jangankan Indonesia, mungkin Kepala Dinas Pendidikan Maluku Utara atau Sulawesi Utara, bagaimana dia harus mengecek sekolah-sekolah di Miangas, di pulau-pulau terpencil," ujarnya.
Meski demikian, Prabowo menegaskan besarnya tantangan tersebut tidak boleh dijadikan alasan untuk menerima ketertinggalan. Sebaliknya, hasil PISA harus dijadikan peringatan sekaligus bahan evaluasi bagi pemerintah guna memperbaiki mutu pengajaran nasional.
"Ini tidak boleh alasan bahwa kami menilai kami tidak perlu mengejar ketertinggalan. Ini yang saya katakan realita," tegasnya.
Presiden menambahkan penilaian internasional terhadap Nusantara perlu diterima secara proporsional. Menurutnya, lembaga-lembaga global hanya melihat hasil akhir, sementara kompleksitas geografis serta tantangan di lapangan tidak selalu tergambarkan secara utuh.
"Orang luar lihat kami, ya kami boleh terima, tapi jangan terlalu takut. Dia hanya lihat gambar dari luar, dia enggak lihat kesulitan-kesulitan yang kami hadapi sebagai negara yang sangat besar," katanya.
Prabowo juga menyinggung bahwa berdasarkan hasil penilaian tersebut, capaian pengajaran Nusantara sempat berada pada posisi yang lebih baik pada periode 2003–2006 sebelum mengalami penurunan dalam aspek membaca, matematika, serta kemampuan lainnya.
"Kami pernah 2003–2006 cukup tinggi, habis itu kami merosot. Ini menurut pandangan mereka ya, dalam membaca, dalam matematik dan sebagainya," ujarnya.
Di hadapan para peneliti BRIN, Prabowo menekankan bahwa peningkatan mutu pembelajaran menjadi fondasi utama bagi kemajuan riset serta inovasi nasional. Menurutnya, berbagai terobosan teknologi, penemuan ilmiah, hingga lahirnya paten-paten baru hanya dapat diwujudkan apabila ditopang oleh sistem pengajaran yang kuat.
"Di sinilah saudara-saudara, maksud saya untuk mencapai tingkat inovasi, untuk mencapai tingkat terobosan, untuk mencapai tingkat penemuan-penemuan, paten-paten dan sebagainya, itu dasarnya pendidikan," kata Prabowo.