Proyek Ekspor Listrik Hijau RI ke Singapura Butuh Investasi US$ 20 Miliar

Rabu, 16 September 2026 | 14:01:00 WIB

LIPUTANFINANSIAL.COM — Proyek ekspor listrik energi baru terbarukan (EBT) Indonesia ke Singapura membutuhkan investasi hingga US$ 20 miliar atau setara Rp 354 triliun. Kebutuhan dana jumbo itu muncul karena proyek tidak sekadar membangun pembangkit, tetapi juga infrastruktur pengiriman listrik lewat kabel bawah laut. Minat investor terhadap proyek ini disebut sudah melebihi kapasitas yang tersedia.

Salah satu proyek ekspor listrik hijau dari Indonesia ke Singapura menelan kebutuhan investasi US$ 10 miliar hingga US$ 20 miliar. Dengan kurs Rp 17.687 per dolar AS, nilainya setara Rp 176,9 triliun sampai Rp 354 triliun. Proyek yang dimaksud berkapasitas sekitar 600-700 megawatt (MW) dan menjadi bagian dari tujuh mandat pengembangan ekspor listrik ke Singapura.

Angka itu diungkapkan CEO Standard Chartered Indonesia Donny Donosepoetro dalam diskusi di acara Katadata SAFE 2026 di Jakarta, Rabu (16/8). Standard Chartered Indonesia sendiri tercatat sebagai salah satu penasihat keuangan untuk proyek yang dikembangkan Total Energies dan RGE tersebut.

Kenapa Investasinya Bengkak

Besarnya kebutuhan dana bukan semata karena kapasitas pembangkitnya. Donny menjelaskan, pembangkit energi terbarukan punya sifat intermiten atau pasokannya tidak stabil sepanjang waktu.

Karena itu, proyek ini juga harus membangun infrastruktur pendukung agar listrik bisa dikirim secara andal ke Singapura. Salah satu caranya lewat kabel bawah laut atau subsea cable.

“Kalau kita lihat market testing untuk financing, dan satu proyek itu butuh 600-700 MW, itu salah satu mandat dari tujuh mandat yang ada. Itu butuh sekitar US$ 10 miliar – US$ 20 miliar,” kata Donny.

Investor Sudah Antre, Tiket Masuk US$ 500 Juta

Dari sisi pembiayaan, respons investor disebut di luar dugaan. Donny menyebut investor yang berminat masuk dengan tiket minimum sekitar US$ 500 juta atau Rp 8,84 triliun sudah melebihi kapasitas yang tersedia.

“Market testing, ticket size buat investor yang mau masuk minimum US$ 500 juta. Itu oversubscribed,” ujarnya.

Kondisi itu, menurut dia, membuktikan proyek ekspor listrik ke Singapura bisa jalan secara komersial tanpa bergantung pada subsidi pemerintah. “Purely commercial, jadi tidak ada subsidi,” kata Donny.

Devisa dan Lapangan Kerja Jadi Daya Tarik

Donny melihat ada sejumlah manfaat yang bisa dipetik Indonesia. Selain membuka kebutuhan investasi besar, proyek ini berpotensi menciptakan lapangan pekerjaan dan menghasilkan devisa dari ekspor energi.

“Buat Indonesia sebetulnya very beneficial. Satu lapangan pekerjaan, kedua devisa ekspor,” ujarnya.

Dia menilai perdagangan listrik lintas negara juga memberi Indonesia posisi tawar lebih kuat. Sebab, Indonesia akan menjadi salah satu pemasok listrik bagi Singapura.

“Yang ketiga ya Indonesia punya bargaining position yang cukup kuat politiknya juga, karena kita yang kirimkan listrik ke Singapura,” kata Donny.

Pasar Ekspor Baru bagi Energi Terbarukan

Singapura tengah mendorong pemakaian energi hijau lebih besar dan membuka peluang impor listrik rendah emisi dari negara-negara di kawasan. Sejumlah pengembang Indonesia disebut sudah mendapat mandat memasok listrik ke Singapura, dengan kapasitas proyek mulai 600-700 MW hingga mencapai 1 GW.

Donny berharap pengembangan proyek ini berjalan lancar dan membuka pasar ekspor baru bagi energi terbarukan Indonesia. Menurut dia, peluang ekspor listrik punya karakter berbeda dengan ekspor komoditas sumber daya alam karena sumber energinya berasal dari energi terbarukan.

“Menurut saya, one of the best thing yang Indonesia bisa lakukan adalah itu. Itu nyata sekali buat kita,” ujarnya.

Antrean calon investor yang sudah muncul disebutnya sebagai sinyal bahwa ekspor listrik hijau ke Singapura bukan proyek wacana. Jika terealisasi, aliran devisa dari sektor energi bisa menjadi sumber penerimaan baru di luar komoditas tambang dan migas.

Terkini