El Niño Surutkan Kapuas, Jalur Bauksit Beda dari Batu Bara

Sabtu, 12 September 2026 | 19:45:32 WIB
Asosiasi Bauksit Indonesia (ABI) memastikan fenomena kekeringan El Nino tidak berdampak signifikan terhadap rantai pasok serta penyaluran bauksit nasional. (Foto: NET)

JAKARTA — Asosiasi Bauksit Indonesia (ABI) memastikan fenomena kekeringan El Nino tidak berdampak signifikan terhadap rantai pasok serta penyaluran bauksit nasional. Situasi ini dipicu oleh perbedaan karakteristik dan moda transportasi logistik bauksit apabila dibandingkan dengan komoditas pertambangan lain seperti batu bara.

Ketua Umum ABI Ronald Sulistyanto menjelaskan bahwa mayoritas fasilitas pemurnian atau refinery bauksit berkapasitas besar di Indonesia beroperasi di wilayah pesisir. Posisi geografis tersebut membuat alur pengiriman pasokan bahan baku lebih mengandalkan jalur laut ketimbang sungai-sungai besar.

“Kalau bauksit saya rasa enggak terpengaruh besar ya. Saya tadi coba cek di beberapa refinery [pabrik pemurnian] yang ada, ternyata enggak ada sih, karena memang jalurnya memang beda dengan jalur batu bara,” ungkap Ronald saat dihubungi pada Sabtu (12/9/2026). 

“Kalau di bauksit itu terutama refinery-refinery yang gede itu di pinggir laut. Jadi jalurnya bukan jalur sungai, tetapi pakai laut,” tambahnya.

Ronald menambahkan, berbeda dengan industri batu bara—khususnya di Kalimantan Timur—yang sangat bergantung pada alur sungai besar, pengangkutan bauksit tidak bertumpu secara penuh pada debit air sungai. 

Menurut Ronald, sekalipun harus melalui perairan sungai, tongkang bauksit memiliki ukuran jauh lebih kecil sehingga terasa lebih fleksibel dalam menyesuaikan kedalaman alur sungai lokal sebelum nantinya memindahkan muatan ke kapal atau tongkang berukuran lebih besar di laut lepas. 

Selain itu, kapasitas pengangkutan bauksit yang tidak sebesar batu bara memungkinkan para pelaku usaha memanfaatkan jalur darat menggunakan armada truk apabila debit air sungai mengalami penyusutan.

“Masih bisa menggunakan kendaraan darat, karena kapasitas logistiknya bauksit itu tidak sebesar batu bara,” ungkap Ronald.

ABI mencatat terdapat dua fasilitas pemurnian bauksit berskala besar yang beroperasi di wilayah pesisir Kalimantan Barat. Pabrik pemurnian pertama adalah Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Mempawah yang dikelola oleh PT Borneo Alumina Indonesia di Desa Bukit Batu, Kecamatan Sungai Kunyit, Kabupaten Mempawah. 

Smelter yang dikembangkan oleh konsorsium BUMN MIND ID lewat PT Inalum serta PT Aneka Tambang (Antam) ini telah terintegrasi langsung dengan Terminal Kijing Pelindo demi menunjang mobilitas distribusi hasil olahan di pasar domestik maupun ekspor.

Proyek pemurnian besar berikutnya ialah smelter milik PT Well Harvest Winning Alumina Refinery (PT WHW) yang terletak di Kecamatan Kendawangan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. 

Pabrik tersebut berdiri tepat di tepi pantai Laut Jawa serta dilengkapi Terminal Khusus (Tersus) mandiri berstandar internasional untuk melayani aktivitas bongkar muat kapal tongkang dan kargo berukuran besar. 

Sebagai Smelter Grade Alumina (SGA) pertama di tanah air, PT WHW kini menjadi yang terbesar dengan total kapasitas produksi mencapai 2 juta ton alumina per tahun pascacompleted-nya proyek ekspansi.

“Ya kalau yang besar pakai [jalur] laut misalnya WHW dan BAI. BAI yang BUMN di pinggir laut. Jadi rata-rata di pinggir laut,” ungkap Ronald.

Berbekal keberadaan pabrik pemurnian yang terletak persis di pesisir pantai, ABI optimistis ancaman El Nino tidak bakal mengganggu stabilitas produksi maupun distribusi bauksit nasional. 

“Fleksibilitas ini memastikan pasokan bijih bauksit menuju pabrik pengolahan alumina maupun pengapalan produk jadi ke pasar tujuan tetap berjalan sesuai jadwal tanpa terkendala pasang surut air sungai,” jelasnya.

Meski demikian, Shanghai Metals Market (SMM) pada Rabu (9/9/2026) melaporkan bahwa penurunan tingkat air di Indonesia telah memengaruhi pengiriman dari beberapa tambang bauksit dan berpotensi memicu gangguan produksi alumina apabila situasi tidak kunjung membaik. 

Kendati begitu, pihak SMM sendiri tidak menegaskan apakah hambatan pengiriman bauksit tersebut benar-benar terjadi pada area tambang di wilayah Kalimantan atau bukan.

“Permukaan air di Indonesia rendah dan telah memengaruhi pengiriman beberapa tambang bauksit domestik, yang dapat menyebabkan gangguan pada produksi alumina jika situasi tidak membaik. Hingga saat ini, situasi masih berlanjut dan diperkirakan akan terus berlangsung tanpa batas waktu,” tulis SMM.

Cadangan bauksit Kalimantan Barat sendiri tercatat mencapai lebih dari 840 juta ton, mengkondisikan kawasan ini sebagai pusat pemrosesan alumina terbesar di Indonesia. 

Di samping smelter PT BAI dan WHW, berdiri pula fasilitas pemurnian alumina pertama yaitu PT Indonesia Chemical Alumina (ICA) di Tayan, Sanggau, yang mengampu kapasitas produksi Chemical Grade Alumina (CGA) sebesar 300.000 ton per tahun. 

Ketiga pabrik smelter tersebut secara total menyerap konsumsi bijih bauksit mentah hingga melampaui 14 juta ton tiap tahun guna mencetak produk olahan siap ekspor serta pasokan dalam negeri.

Sebelumnya, kemarau akibat fenomena El Nino memicu penurunan debit air ekstrem serta pendangkalan parah di sejumlah sungai utama Pulau Kalimantan, seperti Sungai Barito, Sungai Mahakam, serta Sungai Kapuas. 

Pada sektor batu bara, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mengonfirmasi bahwa penyusutan debit air di sepanjang aliran Sungai Kapuas menciptakan hambatan berarti terhadap proses distribusi batu bara, meskipun volume produksi saat ini masih berada dalam koridor optimal.

“Memang sejauh ini beberapa sungai dilaporkan mulai surut. Sungai Kapuas dan Sungai Mahakam terdampak oleh kekeringan ini,” ujar Ketua Komite Pertambangan Bidang ESDM Apindo Hendra Sinadia saat dihubungi pada Kamis (10/9/2026).

Senada dengan hal tersebut, Ketua Umum Asosiasi Penambang Batubara Indonesia (APBI) Priyadi Sutarso menjelaskan bahwa pendangkalan air sungai secara signifikan merintangi kelancaran distribusi akibat armada tongkang yang tidak dapat melintas. 

"Mahakam, Sungai Barito kandas, Sungai Kapuas juga iya,” ungkap Priyadi selepas menghadiri agenda Ulang Tahun ke-36 Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) di JIExpo Kemayoran, Kamis (10/9/2026). 

Priyadi mengonfirmasi bahwa ketiga koridor perairan ini serentak mengalami penurunan debit air yang parah, sehingga terhambatnya arus lalu lintas sungai dipastikan mengganggu stabilitas pengiriman batu bara baik untuk keperluan operasional domestik maupun kepentingan ekspor.

Terkini