Normalisasi Sungai Atasi Kekeringan Sawah Lamongan

Normalisasi Sungai Atasi Kekeringan Sawah Lamongan
Menteri PU Dody Hanggodo. (Foto: NET)

JAKARTA — Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo secara konsisten mengintensifkan langkah-langkah mitigasi kekeringan pada lahan pertanian di kawasan Bengawan Jero, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.

Menteri PU Dody Hanggodo menyampaikan bahwa pihaknya terus meningkatkan kesiapsiagaan serta kecepatan tanggap darurat terhadap pengaruh kekeringan, yang dijalankan melalui pemanfaatan optimal infrastruktur sumber daya air demi menjamin kelangsungan suplai irigasi bagi warga.

“Air merupakan fondasi penting bagi pembangunan berkelanjutan. Karena itu, penanganan kekeringan harus dilakukan secara cepat, terukur dan terpadu, termasuk dengan mengoptimalkan infrastruktur sumber daya air agar air yang tersedia dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk memenuhi kebutuhan masyarakat,” kata Dody dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (12/9/2026).

Mitigasi tersebut diwujudkan lewat pengerukan atau normalisasi alur sungai, pengaturan skema distribusi air, serta pengoperasian unit pompa guna mendongkrak ketersediaan air irigasi.

Proses pengerjaan dipusatkan di Desa Sidomulyo, Kecamatan Glagah, Kabupaten Lamongan, dengan prioritas utama pada normalisasi Sungai Deket (orde 3) demi memperlancar laju air dari Sungai Blawi menuju saluran irigasi serta lahan persawahan.

Pengerjaan normalisasi Sungai Deket ini memanfaatkan beberapa alat berat, meliputi excavator amphibi Komatsu PC 70, excavator amphibi Ultratek PC 45, serta satu unit alat serupa dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur. 

Per tanggal 9 September 2026, akumulasi hasil pembentukan alur sungai tercatat menyentuh angka 3.335 meter dari target keseluruhan sejauh 4.000 meter.

Pada agenda operasional hari ini, excavator amphibi Ultratek PC 45 berhasil merampungkan pembuatan alur sepanjang 50 meter dengan lebar kisaran 2 meter serta kedalaman 1 meter. 

Di sisi lain, pengerjaan via excavator amphibi Komatsu PC 70 mencatatkan total realisasi 580 meter, sementara unit milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur telah merampungkan total 1.120 meter.

Di samping Sungai Deket, pihak BBWS Bengawan Solo turut menjalankan normalisasi pada Sungai Corong serta Sungai Malang demi memperlancar sebaran pasokan air menuju jaringan irigasi.

Perluasan suplai air juga ditempuh lewat optimalisasi fungsi pompa di Pintu Melik II guna memperbesar debit air masuk (inflow) dari Sungai Bengawan Solo ke arah Sungai Blawi.

Langkah ini dirancang guna membantu mencukupi pasokan air irigasi di sebagian kawasan Kecamatan Deket, Glagah, Turi, Karangbinangun, dan Kalitengah yang mencakup area layanan seluas kira-kira 3.386 hektare. 

Dari total luasan tersebut, sekitar 3.379 hektare sudah teraliri air, sedangkan sisa 7 hektare masih dalam tahap penuntasan kebutuhan air.

Pada titik operasional yang lain, BBWS Bengawan Solo mengoperasikan 3 unit pompa alkon berukuran 6 inci, 3 unit pompa alkon berukuran 3 inci, 1 unit pompa bergerak berkapasitas 250 liter per detik, serta 1 unit pompa gandeng berkapasitas 250 liter per detik. 

Seluruh perangkat pompa ini difungsikan untuk memompa air dari Sungai Deket mengalir ke saluran sekunder serta petak-petak sawah seluas kurang lebih 41 hektare.

Sementara itu, merujuk pada catatan operasional pompa kawasan Bengawan Jero per 9 September 2026, terdapat empat mesin pompa di Pintu Melik II yang aktif bekerja dengan durasi masing-masing 8 jam serta kapasitas sekitar 250 liter per detik tiap unitnya.

Secara kumulatif, jumlah volume air keluar (outflow) di titik Pintu Melik II terpantau berada di angka sekitar 28.800 meter kubik. Seluruh rangkaian penanggulangan kekeringan ini turut disokong penerapan sistem giliran distribusi air demi memaksimalkan pemerataan bagi para petani pengguna air.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index