Lonjakan Harga Pangan Dunia Bulan Juli 2026 Dipicu Berbagai Faktor Utama

Selasa, 11 Agustus 2026 | 23:35:32 WIB
Biaya pangan global kembali menanjak pada Juli 2026 setelah gelombang panas, penguatan harga energi, serta ketegangan geopolitik mendorong lonjakan harga serealia, minyak nabati, serta gula. (Foto: NET)

JAKARTA - Biaya pangan global kembali menanjak pada Juli 2026 setelah gelombang panas, penguatan harga energi, serta ketegangan geopolitik mendorong lonjakan harga serealia, minyak nabati, serta gula. 

Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) mencatat Indeks Harga Pangan FAO rata-rata berada di level 131,1 poin pada Juli 2026, naik 0,6% dari Juni serta 1% dibandingkan Juli 2025. 

Kenaikan terutama terjadi pada kelompok serealia. Indeks Harga Serealia FAO meningkat 3,4% secara bulanan serta 6,9% dibandingkan Juli 2025. 

Harga gandum global melonjak 5,8% akibat kekhawatiran terhadap gangguan arus ekspor yang berkelanjutan melalui Laut Hitam serta potensi dampak gelombang panas terhadap hasil panen di sejumlah negara produsen utama. 

Harga jagung dunia juga meningkat 3,6%. Kenaikan tersebut dipicu kekhawatiran terhadap cuaca panas dan kering di sejumlah wilayah Amerika Serikat serta dampak lanjutan penguatan pasar energi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik.

Harga Beras Sementara itu, Indeks Harga Beras FAO secara umum masih stabil pada Juli 2026. Kenaikan juga terjadi pada kelompok minyak nabati. Indeks Harga Minyak Nabati FAO meningkat 2% dari Juni serta mencapai level tertinggi sejak Juni 2022.

Harga minyak kelapa sawit internasional meningkat seiring kuatnya permintaan dari sektor biodiesel Indonesia serta kenaikan harga minyak mentah. Harga minyak kedelai juga menguat akibat permintaan bahan baku yang tetap kuat di Amerika Serikat serta meningkatnya permintaan impor global. 

Sebaliknya, harga minyak bunga matahari serta minyak rapeseed mengalami penurunan.

Tekanan harga juga terlihat pada komoditas gula. Indeks Harga Gula FAO naik 5,6% pada Juli, terutama akibat kekhawatiran terhadap dampak cuaca panas dan kering berkepanjangan terhadap hasil panen di Uni Eropa. 

Kondisi cuaca yang berkaitan dengan El Niño juga meningkatkan kekhawatiran terhadap prospek produksi di sejumlah negara produsen utama di Asia. 

Ekspektasi peningkatan permintaan etanol di Brasil turut menopang harga gula. Namun, kenaikan harga gula tertahan oleh membaiknya kondisi panen di wilayah sentra produksi utama Brasil bagian tengah-selatan.

Kenaikan sejumlah komoditas tersebut diimbangi penurunan harga daging dan produk susu. Indeks Harga Daging FAO turun 2,8% dari rekor tertinggi pada Juni serta mencatat penurunan bulanan pertama sepanjang tahun ini. 

Harga daging unggas internasional turun terutama akibat penurunan harga di Brasil yang mengalami pasokan ekspor melimpah. 

Harga daging babi juga melemah karena pasokan yang berlimpah di Uni Eropa serta permintaan global yang lesu. Harga daging sapi dunia ikut turun seiring melemahnya permintaan impor dari Asia. Sebaliknya, harga daging domba mencapai rekor tertinggi baru karena pasokan ekspor dari wilayah Oseania masih terbatas.

Indeks Harga Produk Susu FAO juga turun 0,7% pada Juli. Harga susu bubuk penuh lemak, susu bubuk rendah lemak, dan mentega mengalami penurunan. 

Harga keju yang diperdagangkan secara internasional menjadi pengecualian dengan mencatat kenaikan untuk pertama kalinya dalam setahun. 

Kenaikan tersebut didorong terbatasnya pasokan susu musiman di Uni Eropa yang mampu mengimbangi penurunan harga di Oseania serta tekanan dari melimpahnya pasokan ekspor serta meningkatnya persaingan dari Amerika Serikat.

Terkini