Pelatihan Tanggap Bencana untuk Perempuan Cilacap

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 22:42:31 WIB
PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) meningkatkan ketahanan serta kesiapsiagaan warga perempuan pesisir di Desa Bunton, Kecamatan Adipala, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. (Foto: NET)

JAKARTA – PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) meningkatkan ketahanan serta kesiapsiagaan warga perempuan pesisir di Desa Bunton, Kecamatan Adipala, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, demi mengantisipasi potensi ancaman bencana.

Sekretaris Perusahaan PLN EPI, Mamit Setiawan, dalam keterangan resminya di Jakarta pada hari Sabtu, menyampaikan bahwa program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) ini dirancang guna membekali kaum perempuan sebagai penggerak utama mitigasi risiko bencana berbasis komunitas, sekaligus menyukseskan penerapan program Desa Tangguh Bencana (Destana) dari BNPB.

Agenda bertajuk "Srikandi Movement, Perempuan Tangguh Bencana" tersebut merupakan wujud nyata komitmen PLN EPI untuk memperkokoh ketahanan sosial warga di sekitar area operasional PLTU Jawa Tengah 2 Adipala, Cilacap, lewat pemberdayaan yang berkesinambungan.

Pelaksanaan pelatihan yang berjalan selama tiga hari terhitung sejak tanggal 29 hingga 31 Juli 2026 itu menggabungkan materi teori, praktek langsung di lapangan, simulasi tanggap darurat, serta penguatan kelembagaan kelompok.

Sebanyak 20 perempuan asal Desa Bunton mendapatkan berbagai materi penting, mulai dari pengurangan risiko bencana, komunikasi risiko, sistem peringatan dini, teknik pertolongan pertama, evakuasi mandiri, perlindungan bagi kelompok rentan, dukungan psikososial pascabencana, hingga perumusan rencana aksi berbasis komunitas.

Di samping itu, PLN EPI turut menyerahkan bantuan perlengkapan darurat yang mencakup alat keselamatan, kotak P3K, perangkat komunikasi, serta sarana administrasi kelompok demi menunjang kesiapsiagaan di level akar rumput.

Lewat langkah ini, diharapkan lahir kelompok yang memiliki struktur organisasi kokoh, legalitas jelas, program kerja terarah, serta mampu berkolaborasi aktif dengan aparat desa, BPBD, dan para relawan kebencanaan demi mewujudkan sistem siaga bencana yang berlanjut.

Ketua Srikandi PLN EPI yang juga menjabat sebagai Direktur Gas dan BBM PLN EPI, Erma Melina Sarahwati, mengutarakan bahwa kaum perempuan memiliki posisi yang sangat penting dalam menumbuhkan budaya siaga bencana karena berfungsi ganda sebagai pelindung keluarga sekaligus motor penggerak kesiapsiagaan lingkungan sekitar.

"Desa Bunton merupakan kawasan pesisir yang berhadapan langsung dengan Samudra Hindia sehingga memiliki potensi ancaman gempa bumi, tsunami, banjir rob, abrasi, hingga cuaca ekstrem. Karena itu, pengurangan risiko bencana harus dimulai jauh sebelum bencana terjadi melalui peningkatan kapasitas masyarakat," ujarnya.

Erma meyakini bahwa kesadaran dan budaya tanggap darurat berawal dari unit terkecil yaitu keluarga, dengan sosok ibu sebagai pendidik pertama bagi anak-anak.

Apabila seorang ibu telah menguasai cara mengenali bahaya, menyelamatkan diri, serta melindungi seisi rumah, maka ilmu tersebut akan diteruskan kepada keturunannya sehingga menjadi fondasi terciptanya masyarakat yang tangguh.

Menurut pandangan Erma, program ini tidak sekadar memberikan pelatihan semata, melainkan sebuah bentuk investasi sosial jangka panjang untuk memperkokoh kapasitas kelembagaan warga agar siap menjadi garda terdepan dalam setiap tahapan mitigasi, kesiapsiagaan, tanggap darurat, hingga pemulihan pascabencana.

"Kami berharap Kelompok Perempuan Tangguh Bencana dapat berkembang menjadi motor penggerak desa tangguh bencana yang aktif dan mandiri," katanya.

Camat Adipala, Firdaus Azy Mutia, memberikan apresiasi tinggi atas kepedulian dan kontribusi PLN EPI dalam mendongkrak kesiapsiagaan warga di kawasan pesisir.

"Kami berharap kelompok perempuan tangguh ini dapat menjadi garda terdepan dalam melindungi keluarga sekaligus menjadi mitra pemerintah dalam membangun masyarakat yang semakin siap menghadapi kondisi darurat," ujarnya.

Sementara itu, Kepala UPT BPBD Kroya, Edi Purwanto, menegaskan bahwa paradigma penanggulangan bencana masa kini tidak lagi bertumpu pada penanganan saat musibah melanda, melainkan mempersiapkan masyarakat agar siap siaga sebelum bencana itu datang.

"Salah satu langkah pentingnya adalah meningkatkan kapasitas komunitas, termasuk perempuan yang memiliki peran strategis dalam melindungi keluarga, menyebarluaskan informasi kebencanaan, dan mendukung proses pemulihan masyarakat," katanya.

Ketua Kelompok Perempuan Tangguh Bencana Desa Bunton, Rastiani, mengungkapkan bahwa pelatihan tersebut menyumbangkan manfaat yang sangat besar bagi warga setempat.

"Kami kini lebih memahami potensi bencana di desa kami, mengetahui langkah-langkah evakuasi, pertolongan pertama, hingga cara melindungi anak-anak, lansia, dan kelompok rentan," ujarnya.

Terkini

Nindya Karya Kebut Proyek Garam Nasional Di Rote Ndao

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 23:47:39 WIB

Belanja Pemerintah Jadi Penopang Ekonomi Kuartal II-2026

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 23:46:02 WIB

OJK Dorong Transformasi Digital Industri Dana Pensiun

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 23:44:33 WIB

Panduan Lengkap Beli Tiket GIIAS 2026 Online

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 23:43:01 WIB