Krisis Gas Melon Bangka Belitung: Harga Meroket, Pedagang Menjerit

Selasa, 03 Februari 2026 | 09:04:49 WIB
Krisis Gas Melon Bangka Belitung: Harga Meroket, Pedagang Menjerit

JAKARTA - Stabilitas ekonomi masyarakat kecil di Kepulauan Bangka Belitung kini berada di titik nadir akibat terganggunya rantai pasok energi bersubsidi. Kelangkaan gas elpiji tiga kilogram atau yang populer disebut "gas melon" telah menciptakan efek domino yang memukul langsung para pelaku usaha mikro dan pedagang kaki lima. Di tengah ketidakpastian stok, harga di pasar gelap merangkak naik hingga ke level yang tidak masuk akal, memaksa warga untuk memilih antara menghentikan produksi atau menelan kerugian demi mendapatkan satu tabung gas.

Harga gas melon atau gas elpiji subsidi tabung tiga kilogram di Kepulauan Bangka Belitung melonjak drastis imbas kelangkaan pasokan yang terjadi sejak sepekan terakhir. Warga terpaksa membeli di warung eceran meskipun harga meroket, karena tidak mendapatkan jatah di pangkalan resmi. Kondisi ini menjadi ironi di tengah upaya pemerintah menjaga daya beli masyarakat menjelang hari-hari besar keagamaan.

Jeritan Pedagang Akibat Disparitas Harga yang Ekstrem

Ketidaksesuaian antara regulasi harga di atas kertas dengan realitas di lapangan menjadi sorotan utama dalam audiensi dengan perwakilan pedagang di kantor DPRD Bangka Belitung, Senin. Para pelaku usaha merasa terjepit oleh situasi yang sudah berlangsung berulang kali tanpa solusi permanen.

"Permainan harga sudah sering terjadi, jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET)," kata Abdul Kodir, salah satu pedagang saat audiensi di kantor dewan. Ia mengungkapkan bahwa HET senilai Rp 18.000 untuk tabung tiga kilogram kerap tidak sesuai kenyataan. Akibatnya, biaya operasional membengkak drastis. "Kondisi saat ini sangat memberatkan pedagang, bagaimana ekonomi mau jalan. Bilang HET di pangkalan, tapi barangnya tidak ada. Belum apa-apa sudah habis," ujar Kodir dengan nada kecewa.

Beban Berat Sektor Informal Menjelang Hari Raya

Dampak nyata dari kelangkaan ini dirasakan langsung oleh mereka yang menggantungkan hidup dari berjualan makanan setiap hari. Joko, seorang pedagang kaki lima di Pasar Induk Pangkalpinang, mengaku harus membayar Rp 50.000 untuk mendapatkan elpiji tiga kilogram di warung pengecer. Angka ini naik hampir tiga kali lipat dari harga resmi.

Pembelian di warung terpaksa dilakukan Joko karena stok yang terbatas di pangkalan, sementara usahanya harus berjalan setiap hari. Ia pun mengingatkan otoritas terkait mengenai ancaman inflasi jika hal ini tidak segera diatasi. "Sebaiknya ini sudah diantisipasi, apalagi menjelang bulan puasa, ada juga Imlek sebentar lagi," jelas Joko menekankan urgensi stabilisasi pasokan.

Desakan Pembentukan Tim Terpadu dan Pengawasan Ketat

Merespons keluhan masyarakat yang kian memanas, legislatif daerah mendesak adanya tindakan konkret dan investigasi menyeluruh terhadap jalur distribusi elpiji. Transparansi dalam penyaluran menjadi kunci untuk memutus rantai spekulasi di tingkat bawah.

Ketua DPRD Bangka Belitung Didit Srigusjaya meminta segera dibentuk tim terpadu agar kelangkaan gas elpiji tidak berlarut-larut. "Tim terpadu menjadi langkah strategis agar distribusi elpiji tiga kilogram dapat ditelusuri secara menyeluruh, objektif, dan transparan," ujar Didit.

Ia juga berharap kepolisian untuk mengambil tindakan tegas jika ada yang menyalahgunakan peruntukan gas elpiji subsidi. Menurutnya, tanpa penegakan hukum yang kuat, oknum penimbun akan terus memainkan harga. "Keterlibatan polisi dalam tim terpadu sangat diperlukan agar pengawasan berjalan maksimal. Termasuk evaluasi jalur distribusi hingga sampai kepada masyarakat yang membutuhkan," tambah Didit.

Janji Pemulihan Pasokan dari Pihak Pertamina

Di sisi lain, pihak regulator energi memastikan bahwa pasokan akan kembali mengalir ke masyarakat dalam waktu dekat. Kendala teknis yang menghambat distribusi diklaim tengah ditangani secara intensif agar pangkalan-pangkalan resmi kembali terisi.

Sales Area Manager Bangka Belitung Pertamina, Satriyo Wibowo Wicaksono yang hadir dalam pertemuan di DPRD mengatakan bahwa masyarakat bisa kembali mendapatkan gas di pangkalan resmi dalam waktu satu sampai dua hari ke depan. "Bapak ibu sudah bisa mendapatkan gas elpiji kembali dalam satu atau dua hari nanti. Silakan datang ke pangkalan masing-masing. Kalau tidak ditemukan, hubungi contact person kami,” ujar Satriyo.

Meski menjanjikan ketersediaan stok, Satriyo meminta masyarakat untuk bersabar karena proses distribusi yang melibatkan beberapa tahapan teknis. "Pengantaran tidak bisa cepat karena ada beberapa tahapan, bisa dua sampai tiga hari," tambah dia. Harapan kini tertumpu pada realisasi janji tersebut agar denyut nadi ekonomi pedagang kecil di Bangka Belitung dapat kembali normal.

Terkini