Batu Bara

Analisis Harga Batu Bara: Aksi Ambil Untung Tekan Laju Bullish

Analisis Harga Batu Bara: Aksi Ambil Untung Tekan Laju Bullish
Analisis Harga Batu Bara: Aksi Ambil Untung Tekan Laju Bullish

JAKARTA - Laju kenaikan harga batu bara global akhirnya menemui titik jenuh setelah sempat mencatatkan reli positif dalam beberapa hari terakhir. Fenomena ini menjadi sinyal penting bagi para pelaku pasar bahwa pergerakan harga komoditas energi tidak selamanya bergerak searah, terutama saat level harga telah menyentuh rekor tertinggi tahunan. Tekanan jual yang muncul di awal pekan ini dipandang sebagai dinamika wajar dalam pasar modal, di mana para investor mulai melakukan evaluasi terhadap portofolio mereka setelah meraup keuntungan signifikan dari kenaikan harga yang cukup tajam.

Harga batu bara anjlok pada perdagangan kemarin. Kejatuhan datang usai harga si batu hitam naik empat hari beruntun. Kondisi ini menghentikan euforia pasar yang sebelumnya sempat terbakar oleh tren penguatan yang konsisten.

Koreksi Newcastle di Tengah Tren Profit Taking

Pada perdagangan Senin, harga batu bara di pasar ICE Newcastle untuk kontrak pengiriman bulan mendatang ditutup di US$ 116/ton. Angka ini menunjukkan penurunan atau amblas 1,28% dibandingkan penutupan perdagangan akhir pekan lalu. Koreksi ini terjadi tepat setelah harga sempat mencicipi level puncaknya.

Sebagai kilas balik, pada Jumat, harga batu bara melesat 5,14% ke US$ 117,5/ton. Ini menjadi yang tertinggi dalam setahun terakhir. Kenaikan drastis di akhir pekan tersebut rupanya menjadi batas psikologis bagi para pedagang untuk mulai melakukan aksi jual.

Sebelum kejatuhan kemarin, harga batu bara menguat empat hari berturut-turut. Selama empat hari tersebut, harga terangkat 10,28%. Oleh karena itu, sepertinya aroma ambil untung (profit taking) tercium kuat dari koreksi harga batu bara. Maklum, kenaikannya sudah begitu tinggi sehingga membuat investor ‘gatal’ untuk mencairkan keuntungan. Perilaku pasar ini jamak terjadi ketika sebuah komoditas mengalami lonjakan dua digit dalam waktu kurang dari satu minggu perdagangan.

Proyeksi Harga Berdasarkan Indikator Teknikal Harian

Memasuki hari Selasa, muncul pertanyaan besar mengenai arah pergerakan harga selanjutnya. Apakah batu bara memiliki tenaga untuk kembali bangkit atau justru akan terjebak dalam zona merah yang lebih dalam? Jika menilik analisis teknikal dengan perspektif harian (daily time frame), batu bara sebenarnya masih berada di zona bullish.

Hal ini terbukti dengan Relative Strength Index (RSI) 14 hari yang berada di level 53. Secara teoritis, RSI di atas 50 menunjukkan suatu aset sedang dalam posisi bullish. Namun, posisi RSI batu bara yang belum jauh dari angka 50 membuatnya cenderung berada dalam kategori netral. Di sisi lain, indikator Stochastic RSI 14 hari menunjukkan angka 34, yang berarti sedang menghuni area jual (short) yang cukup kuat.

Target Support dan Resisten dalam Perdagangan Terbaru

Melihat kondisi indikator yang ada, peluang terjadinya koreksi lanjutan masih sangat terbuka lebar pada perdagangan hari ini. Para analis memprediksi harga batu bara sepertinya masih bisa turun lagi, bahkan ada kemungkinan koreksinya lumayan dalam jika sentimen negatif global turut memberikan tekanan tambahan pada permintaan energi.

Fokus pelaku pasar saat ini tertuju pada level-level krusial. Target support terdekat berada pada posisi US$ 109/ton. Jika level pertahanan ini tertembus, maka support berikutnya ada di level US$ 108-106/ton. Penurunan hingga ke level tersebut akan menghapus sebagian besar keuntungan yang diraih selama reli pekan lalu.

Namun, skenario pembalikan arah atau rebound tetap terbuka apabila terdapat sentimen positif yang mampu memicu minat beli kembali. Andai harga batu bara berhasil bangkit, maka level US$ 118/ton sepertinya menjadi resisten terdekat yang harus ditembus. Penembusan di titik resisten ini berpotensi mengangkat harga kembali ke rentang US$ 119-123/ton, yang sekaligus akan memperkokoh posisi batu bara di level tertinggi barunya dalam setahun terakhir.

Dinamika ini menunjukkan bahwa meskipun fundamental energi masih kuat, pasar tetap sangat sensitif terhadap perubahan harga yang terlalu cepat, sehingga kewaspadaan terhadap fluktuasi jangka pendek menjadi kunci bagi para pemangku kepentingan di industri batu bara.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index