JAKARTA — Obrolan bersama teman, rekan kerja, maupun orang baru dapat berjalan lebih lama dari perkiraan semula. Ketika seseorang harus beranjak atau beralih ke aktivitas lain, ia perlu mencari waktu yang tepat guna menyudahi pembicaraan tersebut.
Cara berpamitan pun mampu memengaruhi impresi lawan bicara usai interaksi rampung. Jurnalis peraih penghargaan Emmy sekaligus salah satu pemandu siniar Were You Raised By Wolves?, Nick Leighton, bersama CEO Houston Outplacement LLC serta pakar etiket tersertifikasi, Bridget Batson, membagikan tiga tahapan untuk menyudahi percakapan secara santun.
Memberikan Isyarat Sebelum Berpamitan Berdasarkan pandangan Leighton, seseorang tidak perlu merasa terpaksa terus berada dalam percakapan apabila sudah waktunya undur diri.
Ia menganjurkan agar seseorang memberi isyarat terlebih dahulu bahwa obrolan akan segera rampung, contohnya lewat pernyataan bahwa dirinya merasa senang bisa mengobrol atau bersua dengan lawan bicara.
Pendekatan ini menjadikan transisi dari obrolan menuju momen pamit terasa lebih natural tanpa kesan memutus pembicaraan secara mendadak.
“Tidak apa-apa untuk pergi,” kata Leighton, disadur dari Parade.
Memperlihatkan Bahwa Lawan Bicara Disimak Usai memberikan isyarat pamit, Leighton menyarankan agar seseorang menunjukkan penghargaan terhadap obrolan yang baru saja berlangsung.
Batson turut memberikan contoh berupa pengungkitan kembali topik yang baru dibahas, seperti kemajuan pekerjaan atau proyek milik lawan bicara. Langkah tersebut menjadikan ucapan perpisahan terasa lebih personal karena bersumber langsung dari obrolan sebelumnya, bukan sekadar alasan demi lekas pergi.
“Tambahkan sedikit rasa terima kasih,” ujarnya.
Menutup dengan Pernyataan Tegas Manakala isyarat serta apresiasi telah disampaikan, percakapan perlu benar-benar disudahi lewat kalimat yang lugas.
Batson menyarankan penutup bernuansa hangat yang fleksibel menyesuaikan situasi, seperti mengungkapkan rasa senang telah berjumpa serta komitmen untuk kembali berkomunikasi ke depannya. Dalam interaksi sehari-hari, kalimat ringkas pun sudah memadai sebagai penanda usainya obrolan.
“Terakhir, tutup dengan kalimat yang jelas,” kata Leighton.
Menghindari Pembuatan Alasan Palsu Selain memahami teknik berpamitan, terdapat satu kebiasaan yang wajib dijauhi, yakni mereka-reka alasan fiktif demi bisa meninggalkan obrolan.
Leighton mengungkapkan bahwa alasan rekaan umumnya tidak diperlukan dan berisiko berbalik menjadi bumerang manakala kebohongan itu terbongkar oleh lawan bicara.
Batson menambahkan bahwa tindakan tersebut merupakan kekeliruan fatal lantaran berpotensi merusak kredibilitas seseorang, sebab etiket yang ideal seharusnya menjunjung tinggi respek serta keaslian.
Urgensi Kesan Terakhir Cara menyudahi interaksi memegang peranan penting mengingat bagian penutup suatu percakapan kerap menjadi hal yang paling membekas dalam ingatan.
Leighton memaparkan bahwa kesan pertama masih berpeluang dimodifikasi lewat interaksi lanjutan, sedangkan kesan terakhir tidak lagi menyisakan ruang perubahan.
Batson menyambung bahwa interaksi yang semula berjalan positif justru dapat menyisakan kesan keliru apabila ditutup secara canggung, mendadak, maupun tatkala atensi telanjur teralih kepada pihak lain.
Dengan demikian, tatkala seseorang harus beranjak, tidak diperlukan alasan rumit untuk menyudahi obrolan, melainkan cukup dengan memberikan isyarat, menghargai interaksi yang terjalin, serta menyampaikan pamit secara lugas.