JAKARTA - Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Dr. Hermawan Saputra, SKM., MARS., CICS mengutarakan bahwa langkah penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) membutuhkan penguatan kerja sama terpadu dari berbagai lini.
Menurut pandangannya, karhutla tergolong fenomena tahunan sehingga agenda pencegahan harus digalakkan seawal mungkin, utamanya menyasar ragam kebiasaan yang berisiko memantik timbulnya titik api.
“Jangan lupa kasus ini adalah kasus tahunan. Jadi jangan sampai kami sibuk memadamkan apinya tanpa bisa mencegah sedari dini risiko terkait dengan musim dan juga perilaku yang mengarah kepada karhutla ini,” kata Hermawan.
Dari aspek lingkungan, Hermawan memaparkan strategi preventif karhutla dilakukan dengan menghindari serangkaian tindakan yang memicu timbulnya api, seperti tidak membuang puntung rokok sembarangan, menghentikan kebiasaan membakar sampah secara bebas, hingga tidak membuka area lahan mengandalkan metode pembakaran, khususnya sepanjang musim kemarau tatkala kondisi vegetasi mengering dan rentan terbakar.
Proses pencegahan turut menuntut keterlibatan lintas sektor, tidak sebatas berpusat pada jajaran kesehatan, melainkan melibatkan jajaran dinas kehutanan, perkebunan, dinas sosial, sampai dinas ketenagakerjaan. Sinergi ini krusial guna membendung beraneka aktivitas yang berisiko memperparah ancaman kebakaran hutan dan lahan.
“Makanya yang paling penting itu ya adalah kerja sama multipihak, multi stakeholders tidak hanya lingkungan kesehatan. Kesehatan ini cenderung menjadi dampak dan akhirnya terbebani," imbuh dia.
Meninjau dari sudut pandang perlindungan pribadi, Hermawan menyarankan masyarakat mengupayakan pencegahan dari paparan asap dengan cara membatasi aktivitas luar ruang atau mengungsi sementara waktu dari area terdampak karhutla. Apabila kabut asap masih menyelimuti pemukiman, warga diimbau mengenakan pelindung pernapasan sesuai standar seperti masker N95 yang efektif menyaring partikel udara berbahaya.
Di samping itu, masyarakat dianjurkan memperbanyak konsumsi air putih guna menjaga kestabilan suhu serta kelembapan tubuh, utamanya pada area saluran pernapasan.
“Juga senantiasa menggunakan pakaian yang tertutup ya kalau misalnya memang harus ada di luar rumah. Karena juga ini dampaknya terhadap risiko berbagai paparan yang bisa mengiritasi baik itu mata, juga yang terhirup dan bahkan bisa menimbulkan alergi untuk sebagian orang,” ujar Hermawan.
Hermawan menerangkan bahwa asap karhutla mengangkut beragam partikel hasil sisa pembakaran, mulai dari jaringan lunak vegetasi pohon dan dedaunan hingga pembakaran material sintetis seperti plastik. Partikel halus tersebut sangat membahayakan kesehatan karena mengangkut zat beracun yang dapat terhirup melewati saluran pernapasan hingga merusak paru-paru dan organ dalam lainnya.
Inhalasi asap pekat tersebut memicu kemunculan gejala klinis seperti pusing, rasa mual, iritasi, hingga keluhan sesak napas. Kondisi ini diprediksi kian mengancam jiwa bagi kelompok yang mengidap penyakit penyerta (komorbid) lantaran memaksa jantung dan paru-paru bekerja ekstra keras. Risiko serupa juga mengintai kelompok rentan seperti ibu hamil, kalangan lansia, anak-anak, hingga bayi.
Ia menegaskan bahwa Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) menjadi komplikasi kesehatan yang paling sering ditemukan akibat kabut asap karhutla, yang memicu munculnya gangguan paru berlanjut seperti Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), kekambuhan asma, hingga komplikasi pernapasan lainnya.
“Layanan kesehatan yang paling penting tentu saja masker paling utama ya. Oksigen harus ada di setiap sentra pelayanan rescue, dan yang paling utama juga adanya kesiapsiagaan tenaga kesehatan, fasilitas kesehatan sedari dini untuk daerah-daerah terdampak kabut dan asap itu,” tutur dia.
Sebelumnya, Kementerian Kesehatan telah memperkuat pengiriman pasokan logistik mencakup bantuan masker hingga alat konsentrator oksigen guna merespons dampak karhutla yang mengancam sekitar 5,4 juta jiwa di tujuh provinsi.
Rangkaian langkah antisipasi yang dijalankan Kemenkes mencakup pengetatan edukasi serta promosi kesehatan; pemantauan insidensi penyakit seperti ISPA, pneumonia, asma, hingga iritasi mata dan kulit; pengawasan berkala atas kualitas udara, serta penerbitan surat edaran kewaspadaan.
Selain itu, Kemenkes menyiagakan unit Public Safety Center, posko layanan kesehatan darurat, jaringan RS rujukan, hingga mobilisasi armada logistik secara terpadu.
Sejauh ini, sebanyak tujuh provinsi telah menetapkan status siaga darurat bencana karhutla, mencakup Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Jambi, Riau, dan Sumatera Selatan.