JAKARTA — Produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14% selama Januari hingga Oktober 2026 diperkirakan mencapai 14,25 juta ton. Angka tersebut meningkat 1,25% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono mengatakan, kenaikan produksi terutama ditopang oleh potensi produksi pada Agustus hingga Oktober yang diproyeksikan tumbuh 3,22%.
Potensi produksi jagung pipilan kering pada Agustus hingga Oktober 2026 diperkirakan mencapai 4,17 juta ton. Jumlah tersebut naik sekitar 0,13 juta ton dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
“Potensi luas panen jagung pipilan pada kondisi Agustus sampai dengan Oktober tahun 2026 diperkirakan mencapai 0,68 juta hektare,” ujarnya dalam konferensi pers, Selasa (1/9/2026).
Luas panen pada periode Agustus hingga Oktober diproyeksikan bertambah 0,03 juta hektare atau meningkat 4,03% dibandingkan tahun sebelumnya.
Dengan demikian, total luas panen jagung pipilan sepanjang Januari hingga Oktober 2026 diperkirakan mencapai 2,41 juta hektare. Angka itu meningkat 0,02 juta hektare atau 0,64% dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Meski prospek hingga Oktober menunjukkan kenaikan, perkembangan pada Juli 2026 masih mencatat penurunan. Luas panen jagung pipilan pada Juli diperkirakan mencapai 0,23 juta hektare, lebih rendah dibandingkan Juli 2025 yang mencapai 0,25 juta hektare.
Penurunan luas panen tersebut turut berdampak pada produksi jagung pipilan kering yang diperkirakan sebesar 1,38 juta ton, turun dari 1,48 juta ton pada Juli tahun lalu.
BPS menjelaskan bahwa data potensi luas panen juga mencakup tanaman jagung yang dipanen untuk kebutuhan selain pipilan, seperti jagung muda maupun hijauan pakan ternak.
Ateng menegaskan, angka potensi produksi dan luas panen masih dapat berubah sesuai perkembangan kondisi di lapangan.
“Tergantung beberapa kondisi terkini hasil amatan di lapangan seperti ya serangan hama atau organisme pengganggu dan lain-lainnya,” lanjutnya.
Sepuluh provinsi yang diperkirakan menjadi sentra produksi jagung pipilan kering terbesar pada Januari–September 2026 meliputi Jawa Timur, Jawa Tengah, Lampung, Sulawesi Selatan, Sumatra Utara, Nusa Tenggara Barat, Jawa Barat, Gorontalo, Sumatra Barat, dan Sumatra Selatan.