JAKARTA - Chief Executive Officer (CEO) Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara), Rosan Roeslani mengungkapkan bahwa pemerintah menyediakan insentif bernilai besar demi memacu penguatan sumber daya manusia (SDM), inovasi, serta penelitian dan pengembangan (R&D) di Indonesia.
Hal itu diutarakannya kala menyampaikan sambutan pada ajang Jakarta Investment Festival (JIF) 2026 di Shangri-La, Jakarta Pusat, Jumat (28/8/2026).
Rosan membeberkan bahwa besaran insentif sanggup menembus angka 300%. Menurut penilaiannya, penyaluran insentif ini merupakan bagian dari langkah afirmatif pemerintah guna memperkokoh kualitas SDM sekaligus mengerek kapasitas penelitian dan pengembangan di Tanah Air.
"Untuk sumber daya manusia serta inovasi, kami memberikan insentif yang besar untuk pelatihan serta penelitian dan pengembangan. Kami juga menyambut universitas-universitas global, para peneliti, perusahaan, dan para inovator untuk tumbuh bersama dengan talenta dan perusahaan rintisan Indonesia," jelasnya.
Rosan menerangkan bahwa entitas perusahaan yang menjalankan agenda R&D di Indonesia berhak mengantongi insentif hingga 300%. Di sisi lain, korporasi yang aktif berkontribusi dalam program pelatihan serta pendidikan vokasi bisa memperoleh insentif sampai 200%.
"Jika perusahaan melakukan penelitian dan pengembangan di sini, di Indonesia, kami dapat memberikan insentif hingga 300%. 300%. Selain itu, jika perusahaan terlibat dan memberikan banyak pelatihan serta pendidikan vokasi, pemerintah kami juga memberikan insentif hingga 200%," ucapnya.
Rosan turut menyampaikan kabar kepada para investor bahwasanya Indonesia tengah membangun Indonesia International Finance Center (PFII) yang berlokasi di Jakarta dan Bali.
Ia memaparkan bahwa pihak parlemen telah mengesahkan payung hukum terkait sehingga pusat keuangan berskala internasional tersebut diproyeksikan dapat secepatnya direalisasikan.
Menurut pandangannya, arus modal investasi secara global pada saat ini mulai bergeser menuju sektor-sektor yang dinilai bakal menjadi pilar penentu masa depan.
"Saat ini, investor mencari lebih dari itu, yaitu stabilitas, kepastian, kemitraan yang terpercaya, infrastruktur yang danal, tenaga kerja terampil, serta visi jangka panjang yang jelas," katanya.
Ragam bidang strategis tersebut mencakup infrastruktur digital, kecerdasan buatan (AI), energi bersih, manufaktur tingkat lanjut, hingga komoditas mineral kritis.
"Itulah sebabnya strategi hilirisasi kami terus berkembang. Tahap berikutnya dari hilirisasi tidak hanya mengenai mineral dan pengolahan, tetapi juga mencakup infrastruktur digital, teknologi, inovasi, dan industri yang akan menentukan pertumbuhan di masa depan," ucapnya.