Laba Bersih Darma Henwa Melejit 89 Persen Menjadi Rp 354,28 Miliar Pada Semester I Tahun 2026

Laba Bersih Darma Henwa Melejit 89 Persen Menjadi Rp 354,28 Miliar Pada Semester I Tahun 2026
PT Darma Henwa Tbk (DEWA). (Foto: NET)

JAKARTA - PT Darma Henwa Tbk (DEWA) mendulang laba bersih senilai Rp 354,28 miliar pada paruh pertama tahun ini. Keuntungan DEWA melesat 89% dibandingkan perolehan Rp 187,44 miliar pada kurun waktu yang serupa tahun lalu. 

Kenaikan laba DEWA terdorong oleh kinerja positif dari sisi pemasukan yang mengalami peningkatan 3,22% secara tahunan atau year on year (yoy) dari Rp 3,10 triliun menjadi Rp 3,20 triliun pada semester I-2026. Seluruh pemasukan DEWA pada masa ini didapat dari sektor jasa pertambangan.

Sementara itu, beban pokok pemasukan DEWA merosot 0,76% (yoy) menjadi Rp 2,59 triliun, dari sebelumnya Rp 2,61 triliun. 

Penurunan beban pokok pemasukan mendongkrak laba bruto DEWA sebanyak 23,45% (yoy) dari Rp 495,87 miliar menjadi Rp 612,16 miliar pada semester I-2026. Kinerja DEWA sanggup bertumbuh sekalipun terdapat dekonsolidasi anak usaha PT Dire Pratama pada pengujung tahun 2025.

Pertumbuhan pemasukan serta laba DEWA ditunjang oleh kenaikan volume waste removal dengan penambahan kapasitas internal, serta peningkatan marjin laba kotor dan marjin operasional.

Sepanjang enam bulan pertama 2026, marjin laba kotor dan marjin operasional DEWA tercatat sebesar 19,1% dan 12,8%. Meningkat jika dibandingkan marjin laba kotor serta marjin operasional sebesar 16% dan 11,8% pada semester I-2025. 

Hasil tersebut mendongkrak perolehan laba kotor dan laba operasional DEWA. Pada semester I-2026, laba operasional DEWA meningkat 11,4% (yoy) menjadi Rp 409,7 miliar. 

Pada kurun waktu yang sama, DEWA membukukan keuntungan lain-lain sebesar Rp 255,7 miliar, yang mayoritas bersumber dari keuntungan yang belum direalisasikan atas perubahan nilai wajar investasi.

Sementara itu, posisi EBITDA tumbuh 20,2% (yoy) dari Rp 780,7 miliar menjadi Rp 938,1 miliar. Hasil ini terdorong oleh kenaikan marjin EBITDA dari 25,1% menjadi 29,3%.

Dari sisi operasional, volume waste removal tercatat mengalami kenaikan 10,4% (yoy) menjadi 75,3 juta bank cubic meters (bcm) pada semester I-2026, utamanya ditunjang oleh volume in-house yang meningkat 38,9% menjadi 62,5 juta bcm. 

Sementara pada kurun waktu yang sama volume waste removal yang dikerjakan subkontraktor turun 44,9% (yoy) menjadi 12,8 juta bcm.

Sepanjang enam bulan pertama 2026, volume produksi batubara DEWA tercatat sebanyak 8,2 juta ton, turun 1,6% secara tahunan. Penurunan tersebut utamanya diakibatkan oleh turunnya volume produksi batubara dari subkontraktor.

Direktur Darma Henwa, Ricardo Silaen mengemukakan pemasukan dan laba DEWA sanggup bertumbuh di tengah tantangan pemotongan volume Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026, yang cenderung membawa dampak negatif terhadap sektor batubara. 

Kendati demikian, DEWA terus berupaya meningkatkan kapabilitas operasionalnya, khususnya bagi klien utama yakni PT Kaltim Prima Coal (KPC) serta PT Arutmin Indonesia.

"Perseroan akan terus berfokus produktivitas dan efisiensi operasional, optimalisasi kapasitas in-house, serta penguatan pelaksanaan proyek. Langkah ini diharapkan dapat mendukung pertumbuhan pendapatan sekaligus menjaga profitabilitas Perseroan secara berkelanjutan," kata Ricardo, Minggu (9/8/2026).

Proyeksi dan Strategi Kinerja Semester II-2026

Ricardo optimis DEWA bisa melanjutkan kinerja positif pada semester II-2026. Terdapat empat faktor yang berpotensi mendorong kinerja DEWA.

Pertama, adanya proyek baru dari Sebuku Sejaka Coal (SSC) yang mulai beroperasi pada Agustus 2026. SSC merupakan tambang batubara di Pulau Laut, Kalimantan Selatan yang sanggup memproduksi hingga 5 juta ton batubara dan 55 juta bcm waste removal, bergantung dari RKAB. 

Estimasi jumlah tersebut mencapai sekitar 40% dari total volume waste removal DEWA pada 2025. Secara keseluruhan, estimasi nilai dari kontrak SSC tersebut mencapai Rp 22 triliun.

"Kami optimis dengan diperolehnya kontrak baru dari Sebuku Sejaka Coal yang dapat mendorong pertumbuhan volume produksi dan pendapatan secara signifikan ke depannya," ungkap Ricardo.

Kedua, perbaikan margin. Salah satu faktor pendorongnya yakni Proyek Bengalon yang kini telah 100% di bawah DEWA dan tidak lagi memakai subkontraktor efektif sejak akhir Mei 2026. Dus, dampak penuh dari pengambilalihan ini diharapkan mulai terlihat pada kuartal III-2026 atau pada semester kedua ini.

Ketiga, DEWA sedang berupaya memperoleh kontrak baru yang sifatnya jangka panjang yang diharapkan mampu meningkatkan volume serta pemasukan.

"Untuk semester II-2026, selain menambah kapasitas dan beroperasi di Sebuku, Perseroan juga terus mencari proyek baru untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang," imbuh Ricardo.

Keempat, Pemerintah sedang mengevaluasi revisi RKAB, termasuk untuk kuota produksi batubara nasional.

"Harapannya ini juga akan membantu kontraktor seperti Darma Henwa dalam mendapatkan volume tambahan," tandas Ricardo.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index