Laba Naik Tajam, Ini Alasan Maybank Pangkas Harga INCO

Laba Naik Tajam, Ini Alasan Maybank Pangkas Harga INCO
PT Vale Indonesia Tbk (INCO) (Foto: NET)

JAKARTA — PT Vale Indonesia Tbk (INCO) dipandang masih memegang potensi ekspansi yang solid usai mencatatkan lonjakan penjualan bijih nikel sepanjang paruh pertama 2026. 

Maybank Sekuritas Indonesia tetap menyematkan rekomendasi beli bagi saham INCO, kendati merevisi turun target harga ke level Rp 7.000 per saham dari posisi sebelumnya Rp 7.800 akibat penyesuaian proyeksi asumsi harga jual rata-rata (average selling price/ASP) komoditas tersebut.

Analis Maybank Sekuritas Indonesia, Hasan Barakwan, dalam laporan riset tertanggal 31 Juli 2026 mengemukakan bahwa percepatan volume penjualan bijih nikel bertindak sebagai motor penggerak utama aktivitas operasional INCO menjelang paruh kedua tahun 2026. 

"Kami tetap positif terhadap pertumbuhan volume INCO, meskipun harga bijih nikel yang terealisasi lebih rendah memberikan tekanan terhadap prospek laba," tulis Hasan.

Kinerja keuangan perseroan pada paruh pertama 2026 memperlihatkan pemulihan yang amat kentara. Emiten membukukan pendapatan senilai US$ 543 juta, yang berarti menanjak 27,3% dibandingkan rentang waktu serupa tahun lalu. Laba kotor melompat tinggi hingga 404,9% secara tahunan ke angka US$ 152 juta, sementara laba operasional terkerek naik menjadi US$ 134 juta dari posisi terdahulu yang hanya menginjak US$ 6 juta pada paruh pertama 2025.

Dari sudut pandang profitabilitas, perolehan EBITDA INCO sukses melesat dua kali lipat lebih hingga menyentuh US$ 196 juta, diiringi penguatan margin EBITDA ke level 37,4% dari sebelumnya 20,4%. Perolehan laba bersih turut terbang 313% secara tahunan (YoY) hingga membukukan US$ 104 juta. 

Capaian tersebut merepresentasikan kisaran 46,4% dari target konsensus pasar serta 42,1% dari estimasi laba bersih yang dipatok Maybank untuk keseluruhan tahun 2026.

Hasan berpandangan bahwa pencapaian tersebut secara garis besar masih sekeliling dengan proyeksi pasar, sekalipun berada sedikit di bawah kalkulasi Maybank akibat realisasi harga jual bijih nikel yang lebih rendah ketimbang proyeksi mula-mula. 

Satu di antara katalis krusial bagi kinerja INCO bersumber dari akselerasi penjualan bijih nikel. Sepanjang semester I 2026, penjualan bijih nikel meroket hingga 1.625,8% YoY menembus 2,55 juta wet metric ton (wmt).

Total volume tersebut setara kira-kira 32% dari kuota Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) yang diperoleh korporasi pada awal tahun, sehingga menyiratkan potensi eskalasi aktivitas niaga yang jauh lebih masif pada semester II 2026.

Sepanjang kuartal II 2026 saja, volume penjualan bijih nikel bertambah 61% secara kuartalan menjadi 1,57 juta wmt. Kontribusi terbesar disumbangkan oleh wilayah Bahodopi sebesar 1,07 juta wmt serta wilayah Pomalaa sebanyak 496 ribu wmt.

Harga jual rata-rata komoditas bijih nikel pada semester I 2026 tercatat mengalami kenaikan 70,4% YoY ke posisi US$ 55,89 per wmt. Walau demikian, khusus pada kuartal II 2026 harga tersebut justru mengalami koreksi 8,6% secara kuartalan menjadi US$ 53,94 per wmt. 

Selaras dengan penyesuaian asumsi harga pasar, pihak Maybank merevisi turun proyeksi ASP gabungan bijih nikel ke angka US$ 51,14 per wmt untuk tahun 2026, US$ 45,75 per wmt untuk tahun 2027, serta US$ 34,40 per wmt untuk tahun 2028.

Sebelumnya, pihak Maybank menerapkan asumsi harga masing-masing di level US$ 55, US$ 47, dan US$ 40 per wmt. Penyesuaian kalkulasi tersebut mendorong Maybank untuk memangkas proyeksi perolehan pendapatan INCO sebesar 2,6% untuk tahun 2026, 1,1% untuk tahun 2027, serta 6% untuk tahun 2028. 

Estimasi perolehan EBITDA turut dikoreksi berturut-turut sebanyak 6,3%, 2,4%, dan 12,5%. Di sisi lain, proyeksi laba bersih yang dapat diatribusikan kepada para pemegang saham (NPATMI) diturunkan menjadi US$ 208 juta pada 2026, US$ 398 juta pada 2027, dan US$ 408 juta pada 2028.

Meskipun terdapat tekanan dari fluktuasi harga jual bijih nikel, Maybank tetap memandang prospek INCO secara optimis berkat ekspansi volume produksi dan penjualan yang kian tangguh. Berbekal dinamika operasional yang terus menanjak, saham INCO dinilai tetap menyimpan daya tarik investasi untuk jangka waktu menengah. 

Nilai saham INCO sendiri pada pukul 14.03 WIB berada di kisaran Rp 5.450 per saham, menguat 4,81% pada perdagangan Selasa (4/8/2026).

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index