Kisah Budi Fung Mengasuh Ashton Alexander, Anak Jenius Ber-IQ 145

Kisah Budi Fung Mengasuh Ashton Alexander, Anak Jenius Ber-IQ 145
Rahasia Pola Asuh Budi Fung di Balik Kecerdasan Anak Ber-IQ 145 [FOTO: NET].

JAKARTA - Menata keseharian buah hati yang dianugerahi kapasitas intelektual di atas rata-rata ternyata menuntut tingkat dedikasi serta komitmen yang mendalam dari pihak keluarga. 

Anak-anak yang memiliki bakat istimewa umumnya dibekali rasa ingin tahu yang meluap-luap, sehingga mereka cenderung melibatkan diri ke dalam pelbagai macam kegiatan padat yang menguras energi sepanjang hari.

Menyikapi gelora hasrat belajar yang masif tersebut, ayah dan ibu tidak boleh sembarangan menerapkan pembatasan atau kekangan. Hasrat ingin tahu sang anak justru harus diakomodasi secara bijak melalui kombinasi antara fleksibilitas jadwal eksplorasi dengan ketegasan mutlak dalam menegakkan aturan istirahat malam.

"Kami sebagai orangtua memang dari awal ada komitmen ya untuk memperkenalkan Ashton sejak sedini mungkin ke berbagai macam bidang," ungkap Budi Fung, ayah dari anak jenius dengan IQ 145 bernama Ashton Alexander Fung, di acara edukatif imersif "S-26 Exceptional Journey: Journey Inside the Brain", Senayan City Mall, Jakarta, Jumat (24/7/2026).

Ashton merupakan figur bocah cilik yang sukses mengharumkan nama bangsa Indonesia setelah merengkuh medali emas pada ajang Olimpiade Matematika tingkat internasional tatkala usianya baru menginjak 6 tahun.

Runa dan Damai yang Lahir dari Gelap Artikel Kompas.id

Bahkan saat usianya masih menginjak 3 tahun, ia telah menguasai konsep dasar perkalian, dan tatkala berumur 4 tahun sudah mampu memahami materi kuadrat beserta akar bilangan.

Rahasia di balik kecerdasan Ashton Alexander Fung

Menemukan bakat lewat pengenalan beragam bidang

Guna mencetak generasi penerus masa depan yang tangguh, Budi beserta istrinya, Marlene, sepakat untuk menolak memberikan batasan sekat pada minat sang buah hati sejak fase usianya masih balita. Mereka konsisten membukakan jalan seluas-luasnya bagi sang anak untuk menjajal pelbagai ranah tanpa membebankan target pencapaian instan.

"Jadi kami tidak cuma dibatasin, 'Ya kamu cuma coba ini, coba satu ini, satu itu,' enggak. Kami coba berusaha untuk memperkenalkan berbagai macam bidang," kata Budi.

Berbekal kebebasan bereksplorasi tersebut, keluarga ini kini mendapati buah hati mereka aktif mendalami disiplin sains, matematika, olahraga golf, berkuda, permainan piano, hingga merintis pengembangan agen edukasi berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence).

Penemuan spektrum bakat yang luas ini bermula dari eksperimen tak terduga, mengingat mulanya pihak keluarga hanya menduga sang anak sekadar memiliki keunggulan spesifik pada ranah numerik semata.

"Mungkin pada awalnya kami cuma melihat kemampuan Ashton itu lebih di bidang matematika gitu kan. Cuma kami terus mengeksplor dia untuk menggali lebih dalam lagi," Budi berujar.

Penyediaan sarana eksperimen yang lapang terbukti menghasilkan pemetaan potensi personal yang akurat tanpa memicu tekanan psikologis.

"Dan akhirnya kami juga bisa menemukan minat si Ashton. Itu yang terpenting sih buat kami sebagai orangtua," imbuhnya.

Lihat Foto Ashton Alexander Fung, anak dengan IQ 145, saat memakai alat Brain Visualizer di acara edukatif imersif S-26 Exceptional Journey: Journey Inside the Brain di Senayan City Mall, Jakarta, Jumat (24/7/2026).(S-26)

Keluwesan dalam mengatur transisi aktivitas

Deretan agenda padat tersebut sekilas tampak melelahkan bagi anak seumurannya. Akan tetapi, energi besar yang terpancar murni bersumber dari kecintaan mendalam terhadap aktivitas yang ditekuninya setiap hari.

"Rahasiaku adalah aku sangat suka melakukan aktivitas-aktivitas tersebut. Itu sebabnya aku tidak pernah gampang lelah dan bosan," ungkap Ashton.

Guna merawat nyala motivasi belajarnya, pihak keluarga mempercayakan kendali penuh pengaturan ritme waktu kepada sang anak sendiri. Budi menuturkan bahwa durasi belajar harian buah hatinya bersifat sangat cair dan amat dipengaruhi oleh suasana hatinya kala itu.

"Karena memang kalau dia udah mulai ngerjain sesuatu tuh dia akan fokus dan akan bertahan lama gitu. Tapi ya tergantung mood juga sih sebenarnya," papar Budi.

Manakala sang anak mendapati kebuntuan pada satu tugas yang menuntut konsentrasi tinggi, Ashton dibiarkan secara mandiri bergeser ke aktivitas lain guna menyegarkan kembali pikirannya.

"Misalnya dia lagi melakukan AI (artificial intelligence) gitu, nanti dia tiba-tiba mungkin dia udah agak capek atau boring, dia bisa lari ke pianonya. Nanti dia akan main piano sendiri," ungkap Budi.

Menjaga tenaga lewat aturan tidur yang ketat

Fleksibilitas durasi eksperimen harian tersebut senantiasa dikawal secara seimbang melalui kedisiplinan ketat terkait kepatuhan jam istirahat malam. Meskipun sang anak diberi keleluasaan merancang sendiri jadwal bermain dan belajarnya, kebijakan tersebut sama sekali tidak berlaku bagi regulasi jam tidur yang telah digariskan oleh sang ibunda.

"Orangtuaku juga menerapkan disiplin yang ketat. Setiap jam sembilan malam, aku harus segera tidur," kata Ashton.

Praktisi kesehatan anak, dr. Yoga Andika, Sp.A, membenarkan bahwa pola ritme kedisiplinan yang diterapkan oleh keluarga Ashton merupakan strategi pengasuhan yang sangat brilian secara medis.

Organisme tubuh manusia memerlukan fase transisi agar organ-organ di dalamnya siap melepaskan sekresi hormon secara optimal.

"Itu bagus karena saat dia mulai tidur, dari dia tidur menuju deep sleep itu butuh waktu setengah jam sampai satu jam," jelas dr. Yoga.

Persiapan waktu tidur lebih awal tersebut menjamin sang anak berhasil mencapai ambang fase rileks paling ideal pada jendela waktu terbaik, yang dimanfaatkan tubuh untuk agenda pemulihan sel serta pertumbuhan jaringan struktur ikat otak.

"Kalau jam tidur yang paling baik itu sebenarnya jam 22.00 sampai jam 02.00 karena di jam tersebut hormon pertumbuhan lagi tumbuh dan keluar dengan sebaik-baiknya," pungkas dr. Yoga.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index