JAKARTA - Ambisi Indonesia untuk mewujudkan kemandirian energi dan memperkuat keandalan listrik di wilayah strategis kini memasuki babak baru yang sangat menentukan. Fokus pemerintah tidak lagi hanya pada pencarian sumber cadangan baru, melainkan pada percepatan pembangunan infrastruktur konektivitas yang mampu menghubungkan sumber kekayaan alam di pelosok negeri langsung ke pusat beban listrik masyarakat. Langkah strategis ini menjadi jawaban atas tantangan distribusi energi yang selama ini menjadi kendala dalam mengoptimalkan potensi gas domestik demi kepentingan nasional.
PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) mendapat kepastian pemanfaatan gas dari Natuna, setelah tercapainya kesepakatan penyambungan pipa (Tie-in Agreement/TIA) untuk proyek pipa West Natuna Transportation System (WNTS) Pulau Pemping. Keberhasilan ini bukan sekadar pencapaian administratif, melainkan sebuah terobosan infrastruktur yang akan menjadi "nadi" baru bagi pasokan energi di wilayah Sumatra dan sekitarnya.
Titik Krusial Pembangunan Fisik dan Target Operasional 2026
Kesepakatan ini ditandatangani bersama oleh PT Medco E&P Natuna Ltd selaku operator WNTS, yang diwakili oleh WNTS Chairman Susanto, Direktur Utama PLN EPI Rakhmad Dewanto dan Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) Djoko Siswanto. Penandatanganan ini menandai berakhirnya masa tunggu dan dimulainya aksi nyata di lapangan.
Direktur Utama PLN EPI Rakhmad Dewanto mengatakan, penyelesaian TIA menjadi titik krusial yang membuka jalan dimulainya pembangunan fisik pipa gas WNTS–Pemping, sekaligus memastikan kesiapan PLN EPI dalam menyerap gas domestik dari Natuna. “Dengan disepakatinya TIA ini, PLN EPI memperoleh kepastian akses pembangunan pipa WNTS-Pemping ke ruas pipa WNTS sehingga proses konstruksi bisa segera di mulai pada awal Februari 2026," tutur Rakhmad, Kamis (5/2/2026). Dengan rampungnya kesepakatan ini, PLN EPI akan segera melakukan konstruksi dengan target commissioning dapat mulai dilakukan di Semester 1 2026.
Realisasi Cita-Cita Dekade: Mendukung Keandalan Listrik Batam-Sumatra
Proyek ini mengemban misi besar untuk mengakhiri ketergantungan pada sumber energi yang tidak stabil dan memastikan wilayah industri seperti Batam mendapatkan pasokan yang konsisten. Pembangunan Pipa WNTS-Pemping merupakan penugasan Menteri ESDM yang diberikan kepada PLN EPI. Untuk melaksanakan penugasan tersebut, PLN EPI telah mengadakan long lead items, menunjuk Engineering, Procurement, and Construction (EPC) dan mendapatkan Ijin Lingkungan.
"Kesepakatan ini menjadi bagian penting dalam merealisasikan terbangunnya pipa WNTS-Pemping yang sudah menjadi cita-cita sejak lebih dari satu dekade lalu untuk mengalirkan gas dari wilayah kerja Natuna ke pasar domestik terutama untuk mendukung keandalan sistem kelistrikan di wilayah Batam dan Sumatra bagian Tengah,” ujar Rakhmad. Integrasi ini juga mencakup aliran gas dari wilayah kerja Duyung dengan kontrak Perjanjian Jual Beli Gas Bumi (PJBG) bersama West Natuna Exploration Limited pada 11 Juli 2025 dengan volume sampai 111 BBTUD selama 11 tahun.
Skema Tanggung Jawab dan Manajemen Risiko Finansial
Dalam aspek bisnis, kesepakatan TIA ini juga mencerminkan tata kelola risiko yang lebih sehat bagi perusahaan negara. Kepastian hukum dan batasan tanggung jawab menjadi poin penting yang diselesaikan agar proyek dapat berjalan tanpa hambatan finansial yang tidak terukur.
Direktur Gas dan BBM PLN EPI Erma Melina Sarahwati mengungkapkan, dalam TIA yang telah disepakati bersama, skema tanggung jawab yang semula unlimited liabilities menjadi limited liabilities, dengan nilai maksimum di bawah USD 100 juta. "Premi asuransi ditanggung sebagian oleh PLN EPI dan sebagian ditanggung bersama oleh WNTS JV Group. Kami mengucapkan terima kasih atas dukungan SKK Migas dan WNTS JV," imbuh Erma.
Bioenergi sebagai Pilar Pendukung Transisi Energi dan Penurunan Emisi
Di sisi lain, PLN EPI juga tidak melupakan komitmen jangka panjang terhadap lingkungan. Sembari memperkuat infrastruktur gas, pengembangan bioenergi tetap digenjot sebagai solusi penurunan emisi pada unit pembangkit yang sudah beroperasi. Direktur Utama PLN EPI Rakhmad Dewanto mengatakan bioenergi memiliki peran strategis karena menjadi satu-satunya sumber energi terbarukan yang secara langsung menurunkan emisi karbon pada sistem pembangkit eksisting.
“Dalam kerangka net zero emission, bioenergi menjadi kunci karena tidak sekadar mengganti kapasitas, tetapi benar-benar menekan emisi karbon pada sistem yang sudah berjalan. Ini penting untuk memastikan transisi energi tetap realistis dan berkelanjutan,” kata Rakhmad, Sabtu (10/1/2025). Dalam mengembangkan bioenergi, PLN EPI menggandeng Balai Besar Survei dan Pengujian Ketenagalistrikan, Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (BBSP KEBTKE) Kementerian ESDM.
Sinergi Teknis dan Standarisasi Mutu Bioenergi Nasional
Kerja sama dengan BBSP KEBTKE difokuskan pada pengujian, standardisasi, hingga penyusunan kajian teknis bioenergi guna mendukung target transisi energi dan ketahanan energi nasional. Kepala BBSP KEBTKE Trois Dilisusendi menilai bioenergi merupakan salah satu jawaban penting dalam agenda transisi energi nasional. “Bioenergi itu lengkap. Ketika kita bicara gas ada biogas, bicara batubara ada biomassa, bicara BBM ada biofuel. Bahkan bioenergi tidak hanya net zero, tapi berpotensi menuju karbon negatif," kata Trois.
Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir menambahkan bahwa kerja sama ini menjadi salah satu yang tercepat direalisasikan karena kebutuhan teknis di lapangan sudah sangat jelas. Saat ini, PLN EPI mengelola pasokan bioenergi lebih dari dua juta ton per tahun dengan hampir seratus mitra. “Kualitas terus membaik dari tahun ke tahun, tapi itu belum cukup. Kami butuh pengujian yang kredibel dan independen sejak awal agar standar bisa dijaga konsisten,” ujar Hokkop.
Melalui kombinasi penguatan infrastruktur gas dari Natuna dan pengembangan bioenergi yang terukur, PLN EPI menunjukkan komitmennya dalam menjaga kedaulatan energi Indonesia. Proyek pipa WNTS-Pemping diharapkan menjadi tonggak sejarah yang membuktikan bahwa gas bumi dari bumi pertiwi kini benar-benar hadir untuk melistriki dan menggerakkan roda ekonomi rakyatnya sendiri.