LIPUTANFINANSIAL.COM — Kepala Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia (Bakom RI) Muhammad Qodari menyatakan elektrifikasi perdesaan mulai mengubah struktur ekonomi warga, dari warung kelontong beromzet terbatas menjadi usaha es batu dan minuman dingin. Perubahan paling mencolok terlihat di Desa Noemuke, Nusa Tenggara Timur, tempat pendapatan warga melonjak dari Rp300.000 menjadi Rp1.000.000 per bulan. Pemerintah menargetkan program ini menjangkau 10.068 lokasi di 36 provinsi hingga 2029.
Qodari menyampaikan hal itu dalam konferensi pers Update Program Prioritas/PHTC serta Percepatan Penyediaan Hunian Layak dan Terjangkau bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) di Auditorium Bakom, Jakarta Pusat, Rabu (16/9/2026). Menurutnya, listrik tidak lagi berhenti pada fungsi penerangan rumah dan fasilitas umum.
"Dampak tersebut tercermin dari perkembangan kegiatan ekonomi desa. Antara lain, industri kecil dan mikro, seperti toko kelontong, rumah makan, koperasi, serta peningkatan aktivitas ketenagakerjaan," kata Qodari.
Desa Noemuke: Dari Warung Kelontong ke Es Batu
Di Desa Noemuke, NTT, warga yang sebelumnya hanya mengandalkan warung kelontong kini memanfaatkan listrik untuk membuka lini usaha baru. Penghasilan bulanan mereka naik lebih dari tiga kali lipat setelah berjualan es batu dan minuman dingin.
"Sebelumnya mereka hanya mendapatkan penghasilan sekitar Rp300.000 per bulan dari warung kelontong masing-masing. Kini mereka memanfaatkan listrik untuk membuka usaha es batu dan minuman dingin dengan omset mencapai Rp1.000.000 per bulan," ujar Qodari.
Kelompok Tani Kala Lili: Omzet Panen Naik Tiga Kali Lipat
Dampak serupa terjadi pada Kelompok Tani Kala Lili di Tomohon, Sulawesi Utara. Listrik dipakai memenuhi kebutuhan pencahayaan tanaman sehingga aktivitas pertanian bisa ditingkatkan.
"Setelah listrik tersedia untuk mendukung kebutuhan pencahayaan tanaman, omzet panen meningkat hingga Rp15 juta dari Rp5 juta per bulan," kata Qodari.
Peningkatan produktivitas itu membuka akses pasar lebih luas. Kelompok tani tersebut sempat menembus pasar ekspor hingga Singapura.
Listrik Saja Tak Cukup
Qodari menilai akses listrik saja belum cukup mengoptimalkan potensi ekonomi desa. Dampaknya akan lebih besar jika berjalan beriringan dengan infrastruktur jalan, akses pasar, lembaga keuangan, dan jaringan telekomunikasi.
"Kisah-kisah ini menunjukkan bahwa listrik dapat menjadi pemicu aktivitas ekonomi baru di tingkat masyarakat. Ini menunjukkan bahwa elektrifikasi dapat memberikan manfaat yang jauh melampaui sekadar penerangan," ujarnya.
Realisasi Baru 15 Persen dari Target
Program elektrifikasi pemerintah menargetkan 10.068 lokasi di 36 provinsi. Sasaran tersebut mencakup sekitar 770 ribu rumah tangga, 8.561 desa, 2.295 kecamatan, serta 375 kabupaten/kota.
Hingga Agustus 2026, realisasi baru mencapai 1.516 lokasi atau sekitar 15 persen dari total sasaran. Program dibiayai melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dengan total anggaran Rp61,6 triliun.
Pelaksanaan dilakukan bertahap mengikuti peta jalan listrik perdesaan 2025-2029. Selain memperluas akses penerangan, program diarahkan meningkatkan produktivitas dan membuka lebih banyak kegiatan ekonomi di wilayah perdesaan.