Potensi Tsunami Anak Krakatau & Mitigasinya

Selasa, 08 September 2026 | 03:04:02 WIB
Gunung Anak Krakatau mempunyai riwayat letusan dahsyat pada tahun 1883 yang erupsinya sempat memicu gelombang tsunami besar di pesisir Banten tahun 2018 silam. (Foto: NET)

JAKARTA — Gunung Anak Krakatau mempunyai riwayat letusan dahsyat pada tahun 1883 yang erupsinya sempat memicu gelombang tsunami besar di pesisir Banten tahun 2018 silam. Kini, pertanyaan yang muncul adalah apakah letusan dalam periode ini turut berpotensi mendatangkan tsunami?

Berdasarkan laporan laman resmi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Gunung Anak Krakatau menunjukkan keaktifan vulkanik sejak 2 Juli 2026 sehingga statusnya naik menjadi Siaga (Level III). 

Letusan beruntun kemudian terjadi pada 4 September 2026 selama kurang lebih 25 jam hingga tanggal 6 September 2026 pukul 00.04 WIB. 

Selanjutnya, letusan strombolian yang tergolong ringan berlangsung pada 6 sampai 7 September, dengan sebaran abu vulkanik yang mencapai wilayah Banten, DKI Jakarta, serta sebagian Jawa Barat. 

Walau letusan menerus itu telah berhenti, Kementerian ESDM mencatat masih ada kemungkinan tinggi terjadinya letusan lanjutan dalam beberapa waktu ke depan yang dapat memicu lontaran batu, lelehan lava, serta hujan abu pekat.

Letak Gunung Anak Krakatau yang berada di tengah perairan Selat Sunda menjadikan aktivitas vulkaniknya—seperti longsoran ke laut, getaran gunung, maupun muntahan material—berisiko memicu tsunami, berkaca pada peristiwa di pesisir Banten pada Desember 2018 lalu ketika erupsi menyebabkan longsor lereng dan memicu gelombang setinggi 1 hingga 3 meter.

Meski demikian, letusan Gunung Anak Krakatau tidak serta-merta memastikan terjadinya tsunami. Walau begitu, tingkat aktivitas gunung yang masih tinggi menuntut kewaspadaan serta antisipasi warga terhadap letusan susulan. 

Berdasarkan analisis Badan Geologi, masyarakat di sekitar pesisir Banten dan Lampung diimbau agar tetap tenang serta tidak langsung memercayai informasi keliru mengenai erupsi Anak Krakatau yang diklaim bakal mendatangkan tsunami.

Guna mengantisipasi risiko tersebut, masyarakat dapat menjalankan sejumlah langkah mitigasi berikut:

Pantau informasi perkembangan gunung: Pastikan untuk mengikuti informasi dari kanal resmi, seperti Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), BPBD, BMKG, serta pemerintah daerah. Jangan hanya bergantung pada kabar dari media sosial yang tidak jelas kebenaran sumbernya.

Hindari beraktivitas di dekat gunung: Masyarakat tidak diperbolehkan masuk dalam wilayah radius 3 km dari pusat gunung sebagai antisipasi terhadap ancaman abu lebat, awan panas, serta lontaran batu.

Pelajari jalur evakuasi: Bagi masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir pantai Banten maupun Lampung, penting untuk mengenali lokasi dan rute-rute menuju tempat evakuasi atau dataran yang lebih tinggi guna menghindari tsunami.

Kenali tanda awal bencana: Apabila mulai terasa guncangan gempa yang kuat dan kondisi air laut yang surut secara tidak biasa pasca erupsi, segera menjauh dari pantai dan melakukan evakuasi ke tempat yang lebih aman.

Siapkan kebutuhan darurat: Penting untuk menyiapkan tas siaga bencana yang berisikan dokumen-dokumen penting, obat-obatan pribadi dan P3K, persediaan air minum, makanan yang tahan lama, serta perlengkapan penting, seperti senter, masker, dan lain-lain.

Tragedi tsunami Banten pada 2018 patut menjadi pelajaran berharga bagi pemerintah maupun masyarakat. Pada saat itu, sistem deteksi dini gempa milik BMKG tidak menangkap adanya gempa tektonik karena getaran bersumber dari aktivitas vulkanik gunung, di mana laporan baru diterima lewat pemantauan air laut yang menunjukkan kondisi tidak normal. 

Oleh sebab itu, warga di wilayah pesisir diimbau agar memahami potensi tsunami di kawasan Selat Sunda sekaligus mempelajari langkah-langkah mitigasi bencana sebagai bentuk kesiapsiagaan.

Terkini

Apakah Olahraga Efektif Redakan Kesedihan? Simak Penjelasannya

Selasa, 08 September 2026 | 05:39:02 WIB

3 Cara Sopan Akhiri Percakapan Tanpa Harus Berbohong

Selasa, 08 September 2026 | 05:31:32 WIB

Perbedaan Herpes Bibir dan Sariawan yang Wajib Diketahui

Selasa, 08 September 2026 | 05:28:31 WIB

Siasat Kurangi Paparan Abu Vulkanik dan Debu saat Kemarau

Selasa, 08 September 2026 | 05:25:02 WIB