Penyebab Rupiah Melemah ke Rp17.646/US$: Geopolitik hingga Erupsi

Senin, 07 September 2026 | 21:52:13 WIB
Pegawai menunjukan mata uang Dolar Amerika Serikat dan Rupiah [FOTO: NET].

JAKARTA — Nilai tukar rupiah atas dolar AS kembali tersungkur pada pembukaan sesi perdagangan Senin (7/9/2026). Tekanan pada mata uang Garuda ini salah satunya disulut oleh memanasnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah yang ikut memacu penguatan indeks dolar AS beserta harga minyak mentah dunia.

Mengutip laporan Antaranews, pada awal sesi perdagangan hari ini, rupiah melandai 4 poin atau 0,02% menuju posisi Rp17.646 per dolar AS. Posisinya terhitung melorot jika disandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp17.642 per dolar AS.

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi memaparkan bahwa penurunan rupiah pada perdagangan Senin ini dipengaruhi oleh sederet sentimen global, utamanya eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah.

“Dalam perdagangan pagi ini rupiah melemah, salah satu penyebabnya adalah tensi geopolitik di Timur Tengah,” kata Ibrahim.

Menurut penuturan Ibrahim, melonjaknya ketegangan geopolitik tersebut berimbas pada penguatan indeks dolar AS sekaligus harga minyak mentah. Situasi ini kemudian menghadirkan beban tambahan terhadap pergerakan rupiah.

Banderol minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) tercatat berada pada kisaran 91,92 dolar AS per barel atau setara Rp1,62 juta per barel. Di saat yang sama, harga minyak mentah jenis Brent mengangkut ke posisi sekitar 96,55 dolar AS per barel atau senilai Rp1,70 juta per barel.

Harga Minyak Naik Tekan Rupiah

Melonjaknya harga minyak mentah turut menjadi faktor krusial yang patut dicermati karena dapat mengerek volume kebutuhan valuta asing demi membiayai impor komoditas energi tersebut.

Ibrahim merincikan, mahalnya harga minyak membendung lonjakan kebutuhan dolar AS untuk pasokan impor. Alhasil, dinamika tersebut pada akhirnya memberikan guncangan bagi rupiah.

“Permintaan untuk impor minyak dengan harga yang lebih mahal membuat pemerintah harus mempersiapkan dolar yang cukup banyak. Sehingga wajar kalau dalam transaksi pagi mepagi ini rupiah mengalami pelemahan,” ujarnya.

Aktivitas Gunung Anak Krakatau Jadi Sentimen Domestik

Di luar konstelasi global, para pelaku pasar juga memantau dari dekat dinamika erupsi Gunung Anak Krakatau. Menurut penilaian Ibrahim, gejolak aktivitas vulkanik gunung tersebut dapat memicu dampak buruk terhadap roda ekonomi, utamanya jika sampai melumpuhkan rute penerbangan.

“Walaupun tidak terlalu besar, tapi ini berindikasi terhadap ekonomi di Indonesia. Kami lihat bahwa penerbangan dari tanggal 6 sampai tanggal 7 masih ditutup,” tutur dia.

Meski efeknya terbilang terbatas terhadap pergerakan rupiah, berhentinya operasional penerbangan tetap menjelma sebagai sentimen dalam negeri yang diantisipasi pasar pada awal pekan.

Para investor ke depannya akan mencermati sejumlah indikator makroekonomi Indonesia, termasuk perkembangan cadangan devisa, angka penjualan eceran, hingga indeks keyakinan konsumen.

Data Ekonomi AS Tekan Rupiah

Beralih ke Amerika Serikat, tekanan pada rupiah juga dipicu oleh perilisan data ketenagakerjaan yang melampaui proyeksi pasar.

Chief Economist Permata Bank Josua Pardede memaparkan bahwa solidnya data tenaga kerja AS meningkatkan probabilitas kenaikan suku bunga acuan The Fed pada agenda pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) September 2026.

Tercatat nonfarm payrolls AS bertambah 162 ribu pada Agustus 2026. Realisasi ini jauh melampaui ekspektasi pasar yang berada di kisaran 55 ribu serta jauh di atas capaian bulan sebelumnya yang telah direvisi menjadi 21 ribu. Di saat yang sama, tingkat pengangguran bertahan kukuh pada level 4,1%.

“Data tenaga kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan tersebut meningkatkan ekspektasi pasar yang tercermin dalam pricing terhadap kenaikan suku bunga kebijakan menjadi sekitar 60 persen, dari sekitar 50 persen, sehingga mendukung penguatan dolar AS,” ujar Josua.

Keperkasaan dolar AS ini menjadi batu sandungan bagi rupiah lantaran membuat mata uang lokal relatif kian tertekan. Josua memproyeksikan pergerakan rupiah pada perdagangan Senin ini bakal bergulir dalam rentang Rp17.600 hingga Rp17.725 per dolar AS.

Dengan demikian, laju rupiah hari ini dikendalikan oleh perpaduan sentimen global dan domestik, mulai dari tensi geopolitik Timur Tengah, kenaikan harga minyak, hingga erupsi Gunung Anak Krakatau serta ekspektasi arah suku bunga The Fed.

Terkini