JAKARTA — PT MRT Jakarta (Perseroda) memastikan layanan transportasi masal tersebut tetap berjalan secara normal dan terbebas dari hambatan menyusul adanya sebaran debu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau.
Seperti yang telah diketahui bersama, Badan Geologi di bawah naungan Kementerian ESDM mengonfirmasi bahwa status aktivitas dari Gunung Api Anak Krakatau kini masih berada di level siaga atau Level III. Ancaman potensi bahaya dari erupsi saat ini bersumber dari aliran lava yang dapat dibarengi dengan lontaran batu pijar.
“PT MRT Jakarta (Perseroda) menyampaikan bahwa layanan MRT Jakarta saat ini tetap beroperasi normal di tengah kondisi abu vulkanik yang berdampak di sejumlah wilayah Jakarta,” demikian keterangan akun resmi Instagram MRT Jakarta, @mrtjkt, Minggu (6/9/2026).
Meskipun demikian, pihak manajemen MRT Jakarta menegaskan bahwa mereka senantiasa mengawasi situasi serta dampak yang ditimbulkan terhadap jalannya operasional kereta maupun fasilitas di stasiun.
Lebih lanjut, para pengguna jasa MRT Jakarta disarankan agar senantiasa mengenakan masker, khususnya tatkala beraktivitas di kawasan yang terpapar debu vulkanik, serta meningkatkan kehati-hatian selama melakukan perjalanan.
Pihak MRT Jakarta turut menjamin bahwa segala perkembangan situasi serta jalannya layanan akan terus diawasi secara berkala. Segala warta mutakhir berkenaan dengan potensi penyesuaian layanan akan diumumkan lewat saluran komunikasi resmi milik MRT Jakarta.
Sebelumnya, Badan Geologi lewat Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memberikan laporan bahwa Gunung Anak Krakatau menyandang status Level III (Siaga) sejak 2 Juli 2026.
Semenjak kurun waktu tersebut, rentetan letusan berkarakteristik Strombolian yang memuntahkan material batu pijar serta abu vulkanik masih terus berlangsung.
Tepat pada 5 September 2026 pada pukul 23.07 WIB, Gunung Anak Krakatau kembali meletus secara terus-menerus yang dibarengi oleh suara gemuruh. Berlanjut hingga pukul 04.40 WIB, aktivitas letusan terpantau masih terjadi dan suara gemuruh pun masih tertangkap pendengaran dari Pos PGA Krakatau Pasauran.
Walaupun ketinggian kolom abu letusan tidak bisa diamati secara visual, semburan yang memancarkan warna merah menyala tampak secara kontinu.
Gejala tersebut menyerupai fenomena pancaran lava atau lava fountain yang memicu munculnya aliran lava. Badan Geologi menerangkan bahwa letusan beruntun selama beberapa jam yang dihubungkan dengan aktivitas pancaran lava merupakan suatu kejadian yang lazim terjadi.
Di sisi lain, suara dentuman serta getaran yang dilaporkan oleh warga di beberapa daerah meliputi Jawa Barat, Banten, serta Lampung disinyalir memiliki kaitan erat dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau pada kurun waktu yang bersamaan.
Berdasarkan hasil peninjauan hingga detik ini, proses pertumbuhan kembali tubuh Gunung Anak Krakatau pasca erupsi tanggal 22 Desember 2018 tercatat masih tergolong kecil.
Situasi tersebut dipandang tidak mempunyai potensi untuk mengalami keruntuhan dalam besaran yang mampu memicu terjadinya gelombang tsunami. Walau demikian, dinamika aktivitas serta pergeseran bentuk morfologi dari gunung api tersebut tetap diawasi secara ketat.