LIPUTANFINANSIAL.COM — Langkah tersebut disampaikan Kiai Cholil dalam talkshow bertema "Transformasi Pesantren dalam Meningkatkan Kualitas SDM Indonesia melalui Pendidikan Tinggi" yang digelar BAZNAS RI bersama Majelis Alumni IPNU di Pondok Pesantren Al Wahabiyah, Tambak Beras, Jombang, Jawa Timur, Sabtu (29/8/2026). Gagasan ini lahir dari kebutuhan mendesak agar pesantren tidak lagi bergantung pada donasi eksternal untuk membiayai operasional sehari-hari.
Model Bisnis Terpadu: dari Ayam Petelur hingga Greenhouse
GAPI yang diinisiasi sebagai wadah kolaborasi antar-pengasuh pesantren tidak hanya fokus pada penguatan kurikulum pendidikan, tetapi juga pengembangan jaringan usaha antar-lembaga. Kiai Cholil memaparkan sejumlah unit usaha yang tengah dikembangkan secara kolektif, mulai dari peternakan ayam petelur, budi daya ikan sistem bioflok, hingga pertanian greenhouse.
"Di GAPI ini kita jalin kerja sama ekonomi antarpesantren. Mulai dari usaha ayam petelur, sistem budi daya bioflok, hingga greenhouse. Bahkan kami sedang menyiapkan lahan wakaf seluas 7 hektar di Bekasi untuk ditanami padi. Nanti kebutuhan beras, ikan, dan sayur bisa dipenuhi sendiri dari internal pesantren tanpa perlu beli," ujar Kiai Cholil yang juga menjabat Rais Syuriah PBNU.
Pesantren sebagai Pemain Utama Rantai Pasok Modern
Praktik bisnis yang dijalankan Kiai Cholil di Pesantren Cendekia Amanah Depok menjadi bukti awal bahwa model ini layak direplikasi. Lembaga yang diasuhnya kini berperan sebagai agregator bisnis hidroponik untuk wilayah Jabodetabek dan menjadi pemasok utama jaringan ritel modern.
Menurutnya, kemandirian finansial pesantren bukan sekadar upaya menutup biaya operasional harian. Lebih dari itu, ini menyangkut martabat lembaga pendidikan Islam dalam mengelola sumber dayanya sendiri. Dengan unit usaha yang kokoh, pesantren memiliki ruang fiskal untuk meningkatkan kualitas fasilitas santri dan menjamin kesejahteraan tenaga pengajar.
Dari Pola Permohonan ke Kemitraan Strategis
Perubahan pola pikir menjadi fondasi utama transformasi ini. Kiai Cholil menegaskan bahwa hubungan antar-pesantren ke depan harus dibangun di atas prinsip kemitraan bisnis yang saling menguntungkan, bukan lagi berbasis permohonan bantuan. Sinergi ekonomi terintegrasi yang dirancang GAPI diharapkan dapat direplikasi secara meluas di seluruh Indonesia.
Langkah ini sejalan dengan kebutuhan pesantren modern yang tidak hanya dituntut mencetak lulusan berkualitas, tetapi juga mampu menjadi penggerak ekonomi komunitas di sekitarnya. Dengan skala jaringan yang dimiliki GAPI, potensi pengembangan usaha antar-pesantren dinilai cukup besar untuk menciptakan ekosistem ekonomi mandiri yang berkelanjutan.