Defisit Neraca Pembayaran RI Susut Tajam ke US$0,9 Miliar, BI Sebut Masih Terjaga

Selasa, 25 Agustus 2026 | 06:07:00 WIB

LIPUTANFINANSIAL.COM — "Transaksi modal dan finansial mencatat surplus ditopang oleh peningkatan aliran masuk investasi langsung dan investasi portofolio sehingga mendukung kinerja NPI yang tetap terjaga," ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, Senin (24/8).

Aliran Modal Asing Deras, Investor Kembali Percaya Diri

Surplus transaksi modal dan finansial kali ini disumbang dua sektor utama. Pertama, investasi langsung (PMA) yang mencatat surplus lebih tinggi dari periode sebelumnya, didorong persepsi positif investor terhadap prospek ekonomi dan iklim investasi domestik. Kedua, investasi portofolio yang meningkat seiring imbal hasil instrumen keuangan domestik yang menarik.

Masuknya modal asing ini membuat posisi cadangan devisa Indonesia aman. Pada akhir Juni 2026, cadangan devisa tercatat US$145,6 miliar, setara pembiayaan 5,6 bulan impor—jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

Transaksi Berjalan Melebar, Ini Biang Keroknya

Di sisi lain, transaksi berjalan justru mencatat defisit lebih dalam, yakni US$12,5 miliar atau 3,3 persen dari PDB. Angka ini membengkak dibandingkan defisit US$3,6 miliar (1,0 persen dari PDB) pada triwulan I/2026.

BI menyebut pelebaran ini bersifat temporer. Penyebab utamanya adalah defisit neraca perdagangan migas yang meningkat akibat kenaikan impor minyak seiring tingginya harga minyak dunia. Surplus nonmigas juga ikut tergerus karena impor bahan baku dan barang modal untuk kegiatan ekonomi domestik yang masih tinggi.

Defisit neraca pendapatan primer (pembayaran bunga utang dan dividen ke luar negeri) juga ikut melebar, sementara surplus pendapatan sekunder relatif stabil.

Proyeksi ke Depan: Ekspor Membaik, Tarif AS Turun

Ke depan, BI memproyeksikan NPI tetap sehat. Defisit transaksi berjalan diprakirakan menyempit seiring perbaikan prospek ekspor, didukung kenaikan harga komoditas global dan dampak positif penurunan tarif resiprokal Amerika Serikat (AS) terhadap produk Indonesia.

"Transaksi modal dan finansial diprakirakan tetap surplus ditopang oleh berlanjutnya aliran masuk modal asing seiring imbal hasil instrumen keuangan domestik yang menarik dan prospek ekonomi Indonesia yang positif," jelas Ramdan.

BI menegaskan sinergi kebijakan dengan pemerintah akan terus diperkuat untuk menopang kinerja NPI 2026 di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.

Perbaikan NPI ini menjadi sinyal ketahanan eksternal ekonomi Indonesia tetap solid, meski tekanan global masih membayangi. Stabilitas cadangan devisa yang kuat memberi ruang bagi BI untuk menjaga nilai tukar rupiah dan mengendalikan inflasi ke depan.

Terkini