JAKARTA - Pilihan warna pada pakaian sering kali dinilai sanggup mencerminkan suasana emosional atau karakter pemakainya. Sebagai contoh, individu yang kerap mengenakan pakaian berwarna hitam tak jarang diidentikkan dengan persona yang serius, tertutup, hingga diduga tengah mengalamai kondisi emosional yang buruk.
Padahal, asumsi demikian tidak sepenuhnya tepat jika ditinjau dari kacamata psikologi warna. Keputusan mengenakan pakaian hitam dapat dilandasi beragam faktor, mulai dari preferensi pribadi hingga impresi emosional tertentu yang ingin dibangun lewat penampilan.
Bagi sebagian orang, busana berwarna hitam justru menjadi opsi utama yang membuat mereka merasa jauh lebih nyaman serta percaya diri sewaktu melakoni aktivitas harian.
Memakai Baju Hitam Tak Berarti Tidak Bahagia Warna hitam memang memiliki berbagai representasi, termasuk gambaran tentang duka atau suasana muram. Walau demikian, Bernard Charles, seorang pakar psikologi warna sekaligus penulis, mengutarakan bahwa hitam merupakan salah satu warna yang paling kerap salah dipahami tatkala dikaitkan dengan aspek emosional.
“Sementara sebagian orang mengaitkannya dengan kesedihan, banyak yang memilih memakai warna hitam karena membuat mereka merasa kuat, berkelas, terlindungi, fokus, atau elegan,” kata Charles.
Ia memaparkan, dalam arena psikologi warna, warna hitam pun acap kali menyimbolkan kekuatan, rahasia, otoritas, hingga batasan personal. Hal ini membuktikan bahwa esensi warna hitam dapat sangat bervariasi bagi setiap individu, tergantung pada latar pengalaman, selera, serta konteks situasi saat warna itu dikenakan.
Maka dari itu, kebiasaan memakai busana hitam tidak dapat difungsikan sebagai tolok ukur tunggal untuk menyimpulkan apakah seseorang sedang bahagia atau tidak. Seseorang yang mengenakan pakaian hitam saban hari pun belum tentu tengah menyembunyikan perasaan tertentu atau sedang didera suasana hati yang muram.
Bisa Berkaitan dengan Kepercayaan Diri Terdapat pendorong lain mengapa seseorang merasa begitu cocok mengenakan pakaian hitam, yang salah satunya berkaitan dengan persepsi terhadap diri sendiri.
Mengutip tulisan Fitinline, pakaian sanggup memengaruhi pandangan seseorang terhadap dirinya sendiri lewat konsep enclothed cognition, yakni suatu gagasan bahwa busana yang dipakai dapat memberikan dampak pada cara seseorang berpikir, merasa, serta bersikap dalam situasi tertentu.
Lantaran hal tersebut, seseorang bisa saja menjatuhkan pilihan pada blazer hitam tatkala ingin mengesankan citra yang lebih profesional, atau memilih pakaian hitam lantaran merasa penampilannya tampak lebih rapi dan selaras dengan identitas yang hendak diperlihatkan.
Keputusan itu juga mampu memberikan ketenangan karena individu tersebut telah paham betul bagaimana impresi dirinya saat mengenakan warna tersebut.
Warna hitam juga relatif mudah dipadupadankan dengan deretan warna lain sehingga menjadi pilihan yang amat praktis untuk dinamika harian. Di samping itu, warna ini fleksibel dipakai dalam berbagai momentum, mulai dari acara santai hingga agenda yang tergolong resmi.
Atas dasar pertimbangan itu, kecenderungan memakai busana hitam bisa jadi murni berakar pada alasan kepraktisan dan gaya personal, alih-alih cerminan dari kondisi psikologis seseorang.
Tak Ada Warna yang Bisa Menentukan Kebahagiaan Pakar psikologi warna lainnya, Michelle Lewis, turut menilai bahwa motivasi mendasar seseorang dalam memakai warna tertentu jauh lebih krusial untuk dicermati ketimbang warna pakaian itu sendiri.
“Bagi sebagian orang, ini tentang efisiensi dan penguasaan diri. Bagi yang lain, ini tentang ketidakterlihatan,” kata Lewis.
Atas dasar itu, dua individu yang sama-sama hobi memakai pakaian hitam sangat mungkin mengantongi latar belakang alasan yang berlainan. Seseorang bisa saja menyukai hitam karena merasa kian percaya diri, sedangkan individu lain memilihnya demi alasan efisiensi, tuntutan lingkungan kerja, atau murni bagian dari identitas berbusana.
Ada pula kelompok orang yang mantap memilih warna hitam lantaran merasa sudah sangat cocok dengan warna tersebut, sehingga tidak perlu menyita banyak waktu untuk memikirkan padu padan busana setiap kali hendak beraktivitas.
Hingga kini, belum ada pijakan ilmiah yang valid untuk menetapkan karakter kepribadian seseorang semata-mata dari warna pakaian yang ia kenakan.
Oleh sebab itu, kebiasaan seseorang mengenakan warna tertentu hendaknya tidak serta-merta dijadikan acuan untuk menilai bagaimana perasaan atau watak asli individu tersebut. Begitu pula dengan warna hitam yang sejatinya menyimpan hamparan spektrum makna bagi para pemakainya.