Metrodata Targetkan Pertumbuhan Pendapatan dan Laba Bersih 10 Persen

Selasa, 11 Agustus 2026 | 02:42:32 WIB
PT Metrodata Electronics Tbk (MTDL). (Foto: NET)

JAKARTA - PT Metrodata Electronics Tbk (MTDL) merasa yakin menatap prospek kinerja selama paruh kedua tahun 2026. Keyakinan tersebut selaras bersama pencapaian positif perseroan dalam rentang waktu separuh tahun pertama kemarin.

Berdasarkan laporan keuangan, MTDL tercatat mencetak kenaikan pendapatan sebesar 16,7% secara tahunan menjadi Rp13,6 triliun, dari Rp11,7 triliun pada semester I-2025. 

Sementara dari koridor profitabilitas, MTDL membukukan laba bersih Rp313,71 miliar pada semester I-2026, menanjak 6,6% dibandingkan Rp294,29 miliar pada kurun waktu serupa tahun sebelumnya.

Direktur Utama MTDL Susanto Djaja mengungkapkan, lonjakan di paruh pertama terutama ditopang oleh unit bisnis distribusi yang melesat di atas 20%. Di sisi lain, lini Business Solutions and Consulting membukukan perluasan sekitar 3%.

"Jadi semester pertama revenue kami growth-nya 16,7%. Itu terdiri dari pertumbuhan business solution and consulting sekitar 3% dan untuk distribution di atas 20%," ujar Susanto, Selasa (11/8).

Ia meneruskan, perkembangan usaha distribusi pada babak pertama dipicu oleh kategori PC, laptop, serta gawai pintar. Situasi ini sejalan bersama momentum Idulfitri serta fase penerimaan mahasiswa baru, ditambah lonjakan harga gawang akibat meningkatnya banderol komponen seperti memori beserta chip.

Khusus buat kategori telepon pintar, eskalasi turut ditopang oleh pergeseran tabiat pembeli yang kian memperhitungkan unsur value for money. Manajemen melihat barang bertarif lebih ekonomis dengan spesifikasi maksimal semakin diminati. 

Salah satu merek yang menjadi tulang punggung MTDL yaitu jenama Infinix, yang kini diklaim menduduki top 3 pangsa pasar di Indonesia.

Memasuki semester II-2026, ia memproyeksikan ekspansi bisnis distribusi tidak bakal setinggi babak pertama. Ponjakan harga perangkat serta tekanan terhadap daya beli masyarakat menjadi salah satu bahan pertimbangan.

Sebaliknya, MTDL bakal mengandalkan eskalasi divisi Business Solutions and Consulting pada separuh akhir tahun ini. Ia memandang kebutuhan penanaman modal teknologi korporasi mulai kembali bergerak seusai sebelumnya cenderung bersikap menunggu dan melihat.

Oleh karena itu, penyertaan modal teknologi khususnya untuk keperluan data, kecerdasan buatan, dan perlindungan siber diprediksi bakal menaik pada paruh kedua ini.

"Kalau kami hari ini yang relevan kan solution consulting. Itu perusahaan yang tadinya banyaknya wait and see. Sekarang mau tidak mau kalau investasi IT-nya harus direalisasikan juga. Karena kalau enggak, (harus) pindah ke tahun depan,” paparnya.

Lewat kondisi tersebut, MTDL mematok target kenaikan omzet serta laba bersih masing-masing sekitar 10% untuk keseluruhan tahun 2026.

Demi memburu sasaran tahun ini, perusahaan bakal berikhtiar mempercepat proses kesepakatan hingga implementasi proyek pada semester II-2026. MTDL sendiri membidik pembeli korporat yang mulai mewujudkan belanja teknologi, termasuk buat keperluan kecerdasan buatan serta pertahanan siber.

Di tengah dinamika nilai tukar rupiah, MTDL turut mengantisipasi pengaruh kenaikan kurs terhadap ongkos pengadaan. 

Di mana, sekitar 70% pembelian perseroan telah dijalankan dalam rupiah, sementara sekira 30% masih memakai dolar Amerika Serikat, terutama untuk sejumlah komoditas dan proyek solusi yang masih berasal dari luar negeri.

Walau begitu, taktik lindung nilai atau hedging tidak dieksekusi terhadap seluruh eksposur valuta asing karena menimbang besaran biaya.

"Udah hedging, tapi nggak bisa semuanya. Kalau semuanya di hedging, ongkosnya terlalu mahal. Sebagian di hedging, sehingga mengurangi dampak kerugian kurs itu," kata Susanto.

Terkini