Pemerintah Targetkan Eurasia Serta Afrika Jadi Pasar Ekspor Tekstil

Jumat, 07 Agustus 2026 | 02:23:31 WIB
Deputi Menteri Bidang Koordinasi Kerja Sama Ekonomi serta Investasi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Edi Pambudi. (Foto: NET)

JAKARTA — Kabinet memperluas strategi diversifikasi pasaran ekspor dengan mengincar wilayah Eurasia serta Afrika sebagai tujuan anyar bagi komoditas tekstil, garmen, serta alas kaki Nusantara. 

Langkah tersebut ditempuh guna memperlebar jangkauan pasar sekaligus meredakan ketergantungan terhadap pasaran ekspor konvensional layaknya Amerika Serikat serta Uni Eropa.

Deputi Menteri Bidang Koordinasi Kerja Sama Ekonomi serta Investasi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Edi Pambudi mengutarakan pemerintah telah memetakan sejumlah kawasan yang mempunyai daya serap masif guna menampung barang manufaktur Indonesia, khususnya sektor padat karya. 

Wilayah Eurasia menjadi salah satu pasar yang dinilai prospektif sebab mengantongi total populasi melampaui 200 juta jiwa serta karakteristik cuaca yang menyokong tingginya permintaan komoditas tekstil dan alas kaki.

"Nah ini negara yang sebenarnya penduduknya cukup besar, sekitar lebih dari 200 juta dan mereka memiliki empat musim sehingga artinya untuk tekstil ini bagus. Dan kebetulan mereka juga banyak menyukai sportwear dari Indonesia, baik itu sepatu maupun alas kaki," ujar Edi dalam Seminar Nasional Asosiasi Garmen dan Tekstil Indonesia (AGTI) di JIExpo, Kemayoran, Jakarta, Kamis (6/8/2026).

Dia menerangkan kabinet tengah memacu pemanfaatan pasaran di lima negara Eurasia, mencakup Rusia, Belarus, serta Kazakhstan. Selain memperluas akses pasar, pihak berwenang turut berupaya merampungkan hambatan sistem pembayaran agar aktivitas pengiriman ke wilayah itu semakin lancar.

"Yang kami upayakan sekarang bagaimana sistem pembayarannya supaya lancar sehingga Bapak-Ibu bisa mengekspor," sebutnya.

Di samping Eurasia, pemerintah pun mulai menggarap pasaran Afrika yang dipandang mempunyai potensi masif seiring jumlah penduduk yang menyentuh angka sekitar 1,4 miliar jiwa. 

Berdasarkan pandangan Edi, keberhasilan komoditas pangan Indonesia menembus pasaran Afrika menjadi modal guna memperluas penetrasi pengiriman barang manufaktur lainnya, mencakup tekstil dan alas kaki.

"Kita sudah sukses memasukkan Indomie, nah berikutnya harus memasukkan produk alas kaki dan tekstil," kata Edi.

Pada sisi lain, pihak berwenang senantiasa melanjutkan ikhtiar memperkokoh jangkauan pasar di negara-negara tujuan pengiriman utama. Guna pasaran Amerika Serikat, kabinet tengah mengusahakan pemangkasan tarif bagi komoditas tekstil, garmen, serta alas kaki supaya bertambah kompetitif ketimbang negara rival.

Sementara itu, pada Uni Eropa, pemerintah berharap penerapan traktat perdagangan bisa lekas berlangsung sehingga memunculkan peluang pengiriman yang jauh lebih besar. Edi memaparkan, nominal pengiriman alas kaki Indonesia ke Uni Eropa telah menggapai sekitar US$1,76 miliar serta masih menyegel ruang ekspansi yang substansial.

Sekalipun akses pasar terus diperlebar, Edi mengingatkan bahwasanya para palaku industri perlu beradaptasi dengan dinamika tuntutan perdagangan global. 

Menurut keterangannya, negara target pengiriman kini tidak sekadar mempertimbangkan bea masuk, melainkan pula bertambah ketat mengaplikasikan ketentuan perihal asal muasal bahan baku, keterlacakan komoditas, praktik ketenagakerjaan, serta dimensi keberlanjutan.

"Paling penting sekarang kami harus mengenal dulu pasarnya seperti apa, karena pasar itu sudah terbuka, tetapi syaratnya kadang berubah-ubah. Satu pasar dengan pasar yang lain berbeda," tuturnya.

Oleh sebab itu, pemerintah mendorong para pelaku industri bukan cuma memanfaatkan beragam traktat perdagangan yang telah dimiliki Indonesia, melainkan pula menyelaraskan siasat produksi bersama karakteristik masing-masing pasaran tujuan.

"Kami harapkan ekspor Indonesia untuk produk tekstil dan alas kaki bisa terus meningkat dan pada akhirnya mampu menyerap lebih banyak tenaga kerja," pungkas Edi.

Terkini