Soal Pendidikan RI dan Singapura, Prabowo: Tantangannya Berbeda

Jumat, 07 Agustus 2026 | 18:29:01 WIB
Presiden Prabowo Subianto [FOTO: NET].

JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto mengimbau agar komparasi sistem pendidikan Indonesia dengan Singapura dipandang secara proporsional lantaran kedua negara menyimpan tantangan yang sangat kontras, utamanya pada ranah luas wilayah, populasi penduduk, serta cakupan layanan pendidikan.

Pernyataan itu diutarakan Presiden tatkala menyampaikan pengarahan dalam agenda Pertemuan Presiden RI bersama 150 Periset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Halaman Tengah Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (6/8/2026).

"Kalau Singapura saya nggak terlalu-nggak usah kami terlalu khawatir kok, hanya negara 5 juta kok, satu kota, ya kan. Kalau Menteri Pendidikan Singapura itu sebetulnya nggak bisa dibandingkan dengan Menteri Pendidikan Indonesia," kata Prabowo.

Presiden menguraikan Indonesia mengelola kisaran 388.000 sekolah yang tersebar hingga ke kawasan pegunungan, pulau-pulau terluar, serta area terpencil. Kondisi itu menjadikan kompleksitas tata kelola pendidikan nasional jauh lebih besar ketimbang negara dengan wilayah yang lebih sempit.

"Indonesia punya 388.000 sekolah kalau tidak salah, nanti dicek ya. Ada di tengah gunung, ada di pulau terluar. Jadi bagaimana memberi pendidikan yang terbaik untuk Indonesia," ujarnya.

Menurut Prabowo, kendala serupa turut dialami pemerintah daerah demi menjamin layanan pendidikan menjangkau seluruh kawasan.

"Jangankan Indonesia, mungkin Kepala Dinas Pendidikan Maluku Utara atau Kepala Dinas Pendidikan Sulawesi Utara, bagaimana dia harus mengecek sekolah-sekolah di Miangas, di pulau-pulau terpencil," katanya.

Kendati mengapresiasi pencapaian Singapura dalam membenahi sistem pendidikan, Prabowo menilai realitas negara tetangga tersebut tidak bisa disetarakan dengan Indonesia.

"Singapura oke dia berhasil di satu kota, ya kan. Menteri Pendidikan tinggal keliling seluruh Singapura mungkin dua jam dia bisa cek hampir semua sekolah di situ, terjangkau dari kantor dia. No, it's real, it's reality, dia berhasil, tapi kesulitan kami sangat besar," ujar Presiden.

Meskipun begitu, Prabowo menekankan kesenjangan tantangan ini pantang dijadikan dalih untuk menyurutkan semangat mengejar ketertinggalan di sektor pendidikan.

"Ini tidak boleh alasan bahwa kami menilai bahwa kami tidak perlu kejar ketertinggalan. Ini saya sampaikan ini yang saya katakan realita," katanya.

Presiden turut mengingatkan agar Indonesia selalu terbuka menerima kritik maupun penilaian pihak asing, namun mesti tetap menyelami konteks tantangan yang dihadapi selaku negara kepulauan berwilayah membentang luas.

"Ini orang luar lihat kami, ya kami boleh kami terima tapi kami jangan terlalu juga terlalu takut. Dia hanya lihat gambar dari luar, dia nggak lihat kesulitan-kesulitan yang kami hadapi sebagai negara yang sangat besar. Jadi ini yang saya maksud, sudah kami terima ini sebagai katakanlah peringatan, koreksi, dan kami cari bagaimana kami akan atasi," ujar Prabowo.

Terkini