Bulog NTB Siap Serap 240.660 Ton Beras untuk Tahun 2026

Senin, 26 Januari 2026 | 12:22:46 WIB
Bulog NTB Siap Serap 240.660 Ton Beras untuk Tahun 2026

JAKARTA - Untuk memastikan ketahanan pangan dan stabilitas harga di tingkat petani, Perum Bulog Wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) menargetkan penyerapan beras sebesar 240.660 ton sepanjang tahun 2026. 

Target ambisius ini bertujuan untuk mendukung pengadaan gabah dan beras yang dapat mengoptimalkan serapan hasil panen petani, terutama saat panen raya.

Dengan berbagai strategi dan sinergi antar sektor, Bulog NTB berkomitmen untuk menjaga keberlanjutan pasokan pangan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani di daerah tersebut.

Kepala Bulog Wilayah NTB, Mara Kamin Siregar, menyampaikan bahwa pengadaan beras tetap dilakukan secara simultan dengan pengadaan gabah untuk memaksimalkan penyerapan pada puncak musim panen.

Ia juga menjelaskan bahwa NTB menjadi salah satu daerah dengan pengadaan beras terbesar di Indonesia, dan pencapaian target ini akan didukung oleh sejumlah langkah strategis dalam pengelolaan logistik dan koordinasi dengan berbagai pihak.

Optimalkan Penyerapan dengan Pengadaan Gabah dan Beras Simultan

Menurut Mara, target 240.660 ton setara beras tersebut didasarkan pada pengadaan gabah kering panen (GKP) sebanyak 407.443 ton, gabah kering giling (GKG) sebanyak 24.196 ton, serta beras sebanyak 18.315 ton. 

Hal ini akan memastikan Bulog NTB dapat menyerap hasil panen dari para petani di berbagai wilayah sentra produksi pangan, seperti Sumbawa, Bima, dan Lombok Timur.

Dalam rangka memaksimalkan hasil penyerapan, Bulog NTB akan terus mengoptimalkan berbagai skema pengadaan, termasuk kerja sama dengan mitra pengadaan dan sektor swasta. 

Dengan memanfaatkan gudang sewa yang disediakan mitra dan pihak swasta, kapasitas penyimpanan diharapkan dapat mencakup volume besar hasil panen yang perlu diserap dengan cepat.

Strategi Penguatan Logistik untuk Pencapaian Target Penyerapan

Untuk mendukung pencapaian target serapan, Bulog NTB juga fokus pada penguatan sarana logistik. Salah satu upaya yang dilakukan adalah menambah kapasitas penyimpanan melalui pemanfaatan gudang sewa yang disediakan oleh mitra dan pihak swasta. 

Dengan penambahan kapasitas ini, Bulog NTB diharapkan dapat menyimpan hasil panen lebih banyak dan lebih cepat, sehingga proses distribusi ke pasar dapat berjalan dengan lancar.

"Kami menyiapkan gudang sewa dari mitra maupun swasta agar target serapan dapat tercapai sesuai dengan penugasan pemerintah," ujar Mara. 

Dengan adanya fasilitas penyimpanan yang memadai, proses pengolahan dan distribusi gabah serta beras diharapkan dapat dilakukan secara efisien, tanpa mengganggu kelancaran distribusi di berbagai wilayah.

Koordinasi Lintas Sektor untuk Menjaga Harga Stabil

Selain penguatan logistik, Bulog NTB juga memperkuat koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk TNI dan pemerintah daerah. 

Pembentukan Tim Jemput Pangan (TJP) yang akan memantau lokasi panen serta mengawasi harga gabah dan beras di tingkat petani menjadi salah satu langkah untuk memastikan harga tetap stabil dan tidak berada di bawah Harga Pembelian Pemerintah (HPP). 

HPP sendiri saat ini mengacu pada harga Rp6.500 per kilogram untuk GKP, Rp8.200 per kilogram untuk GKG, dan Rp12.000 per kilogram untuk beras dengan mutu yang sesuai standar.

Langkah ini sangat penting untuk mencegah adanya praktik spekulasi harga yang merugikan petani. Pemerintah melalui Bulog memastikan bahwa petani mendapat harga yang adil untuk hasil panennya, sehingga mereka bisa tetap mendapatkan keuntungan yang wajar, sekaligus menjaga pasokan pangan tetap stabil di pasar.

Pencapaian Realisasi Penyerapan Beras pada Tahun 2025

Pada tahun 2025, Bulog NTB berhasil mencatatkan realisasi serapan yang melebihi target. Dengan total serapan setara beras mencapai 189.862 ton, atau sekitar 104,36 persen dari target yang ditetapkan, pencapaian ini menunjukkan bahwa strategi yang diterapkan oleh Bulog NTB mulai memberikan hasil yang signifikan. 

Keberhasilan ini tentunya menjadi dorongan bagi Bulog NTB untuk terus memperbaiki dan meningkatkan kinerja penyerapan pada tahun 2026.

Mara menambahkan bahwa capaian tersebut bukan hanya hasil kerja keras Bulog NTB, tetapi juga dukungan dari berbagai pihak, termasuk para pembudidaya, pemerintah daerah, serta mitra pengadaan yang telah berperan aktif dalam kelancaran proses serapan beras dan gabah di seluruh wilayah NTB.

Menjaga Ketahanan Pangan Nasional

Target penyerapan beras yang besar ini juga merupakan bagian dari upaya Bulog untuk menjaga ketahanan pangan nasional. Dengan memastikan pasokan beras dari daerah-daerah penghasil utama seperti NTB tetap terjaga, Bulog berperan dalam menjaga ketersediaan pangan bagi seluruh masyarakat Indonesia. 

Selain itu, peningkatan serapan beras juga menjadi salah satu langkah penting untuk menstabilkan harga pangan di tingkat petani, yang pada gilirannya akan mengurangi volatilitas harga di pasar nasional.

Program ini juga sejalan dengan upaya pemerintah dalam memperkuat sektor pertanian dan perikanan untuk mendukung ketahanan pangan, serta mewujudkan program-program sosial yang dapat memperbaiki kesejahteraan masyarakat, termasuk di wilayah NTB yang selama ini menjadi salah satu daerah penghasil padi utama.

Terkini