JAKARTA — Harga masker mulai mengalami tekanan setelah erupsi Gunung Anak Krakatau mendorong peningkatan kebutuhan masyarakat terhadap alat pelindung pernapasan.
Sejumlah gerai ritel mulai mengalami kekosongan stok, sementara harga masker KN-95 di platform perdagangan elektronik menunjukkan variasi yang cukup lebar.
Kondisi tersebut terjadi di tengah kapasitas produksi masker dalam negeri yang sebenarnya masih sangat longgar. Industri alat kesehatan nasional diperkirakan memiliki kapasitas terpasang hingga 200 juta–250 juta lembar masker per bulan, tetapi utilisasinya saat ini baru berada di kisaran 8%–10%.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Alat Kesehatan Indonesia 2025–2029 Erwin Hermanto menyatakan bahwa industri dalam negeri masih memiliki kemampuan untuk merespons apabila peningkatan permintaan masker terus berlanjut.
“Pada saat ini kami memandang ini hanya fenomena sesaat. Para produsen belum melihat adanya lonjakan signifikan yang berkelanjutan,” kata Erwin, Rabu (9/9/2026).
Erwin menjelaskan peningkatan kapasitas industri masker dalam negeri terjadi sejak pandemi Covid-19. Dengan kapasitas terpasang yang besar dan tingkat produksi yang masih rendah, produsen dinilai masih memiliki ruang untuk meningkatkan pasokan.
“Perhitungan konservatif kami saat ini mempunyai kapasitas terpasang antara 200–250 juta lembar per bulan. Namun saat ini kapasitas berjalan hanya di kisaran 8–10% dari kapasitas berjalan. Apabila permintaan meningkat bertahap tentu saja industri masih sangat siap untuk memenuhi,” ujarnya.
Erwin menambahkan sejak pandemi Covid-19, masker bukan lagi produk yang bergerak cepat sehingga distributor, penyalur, dan pengecer cenderung enggan menyimpan stok besar.
Kondisi tersebut membuat stok di tingkat eceran rentan terganggu saat terjadi kepanikan membeli atau lonjakan permintaan mendadak. Meski demikian, dia menegaskan saat ini tidak ada kendala bahan baku, baik dari dalam negeri maupun impor.
Terkait perbedaan harga masker KN-95 di sejumlah platform perdagangan elektronik, Erwin menyampaikan pihaknya telah memperoleh laporan dari Kementerian Kesehatan. Kendati demikian, hingga saat ini belum ada anggota asosiasi yang melaporkan kenaikan harga maupun lonjakan permintaan yang sangat signifikan.
Peningkatan kebutuhan masker terjadi setelah pemerintah mengimbau masyarakat menggunakan masker apabila harus beraktivitas di luar rumah menyusul erupsi Gunung Anak Krakatau. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin secara khusus menganjurkan penggunaan masker tipe KN-95.
“Utamakan memakai masker dengan tipe KN-95. Kalau tidak ada masker KN-95, cari apapun masker yg ada atau setidak-tidaknya tutup hidung dan mulut Anda kalau kami terpaksa harus keluar rumah,” kata Budi dalam unggahannya di akun Instagram resmi @bgsadikin, dikutip pada Senin (7/9/2026).
Berdasarkan penelusuran di lapangan, stok masker di sejumlah gerai minimarket terpantau kosong, sementara sebagian kecil masih menyediakan pilihan yang sangat terbatas.
Di tengah keterbatasan stok tersebut, harga masker KN-95 di berbagai platform perdagangan elektronik juga menunjukkan variasi harga yang cukup lebar dari berbagai penjual.
Secara terpisah, Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan pemerintah terus bekerja sama dengan pemasok untuk memastikan masyarakat memiliki pilihan masker dengan harga yang wajar. Pemerintah juga berkoordinasi dengan jaringan ritel sebagai salah satu pembanding ketersediaan dan harga produk di pasar.
“Jadi kan banyak pilihan ya. Silakan pilih yang sesuai, sesuai dengan harga yang ada. Kami ngasih pilihan aja. Nah, sekarang ya silakan cari yang sesuai dengan harga yang wajar, tapi kualitas kan juga sama,” ucap Budi saat ditemui di Tangerang, Rabu (9/9/2026).
Di sisi lain, Badan Perlindungan Konsumen Nasional telah menerima pengaduan mengenai fenomena kepanikan membeli masker setelah erupsi.
Ketua badan tersebut, Muhammad Mufti Mubarok, menilai pemerintah perlu melakukan pengawasan terhadap rantai pasok masker, mulai dari logistik hingga titik penjualan, agar kelangkaan sementara tidak dimanfaatkan untuk menaikkan harga secara tidak wajar.
Sementara itu, Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Erwin Aksa berpendapat bahwa erupsi Gunung Anak Krakatau dan sebaran abu vulkanik memang mendorong peningkatan permintaan yang wajar bagi masyarakat untuk melindungi diri.
Kendati demikian, pihak dunia usaha berharap peningkatan tersebut tidak berkembang menjadi kepanikan yang memicu kelangkaan buatan.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M. Rizal Taufikurahman menilai kelangkaan masker pascaerupsi sejauh ini lebih mencerminkan lonjakan permintaan dan gangguan distribusi ritel, bukan kekurangan pasokan skala nasional.
Menurutnya, pemerintah perlu memperkuat sisi pasokan dan pengawasan distribusi, alih-alih menerapkan pengaturan harga secara kaku di pasar.