JAKARTA — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Bali menyatakan bahwa para debitur di Pulau Dewata lebih banyak berkecimpung di sektor usaha produktif pencipta barang serta jasa, alih-alih kredit konsumtif hingga paruh pertama tahun 2026.
"Penyaluran kredit dari lembaga jasa keuangan itu paling banyak untuk investasi dan modal kerja," kata Kepala OJK Provinsi Bali Parjiman di Denpasar, Bali, Selasa.
Beliau memaparkan bahwa sokongan dari institusi keuangan di Bali per Juni 2026 memperlihatkan tiga bidang lapangan usaha dengan serapan kredit tertinggi meliputi sektor perdagangan, akomodasi serta makan minum, dan pertanian.
Di sisi lain, beliau menerangkan bahwa pemantauan terhadap macam pemanfaatan kredit tersebut memperlihatkan alokasi terbesar jatuh pada modal investasi yang menyentuh angka Rp44,15 triliun atau setara 35,85 persen, lalu disusul pembiayaan konsumsi senilai Rp40,51 triliun atau 32,89 persen.
Di samping itu, kredit untuk modal kerja turut mencatatkan angka sebesar 38,49 triliun atau berkisar 31,25 persen dari total pembiayaan yang dicairkan oleh pihak bank.
"Dengan realisasi itu menunjukkan potensi peningkatan produksi yang pada gilirannya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat," ucapnya.
Pihak pengawas lembaga keuangan tersebut merasa yakin bahwa pencapaian kredit produktif ini selaras bersama tren kebangkitan ekonomi di Bali yang sukses menanjak hingga 5,78 persen pada kuartal kedua tahun 2026.
Capaian kenaikan ekonomi di wilayah Pulau Dewata tersebut tercatat melampaui angka rata-rata nasional yang berada di kisaran 5,29 persen.
Merujuk pada catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali, tercatat ada tiga pilar utama penggerak ekspansi ekonomi di kawasan tersebut yakni sektor akomodasi beserta makan minum, bidang pertanian, serta sektor transportasi.
Sementara itu, bidang akomodasi, makan serta minum memiliki keterikatan kuat dengan industri pariwisata yang selama ini diandalkan sebagai penopang utama dinamika perekonomian Bali.
BPS melaporkan adanya koreksi negatif pada angka kedatangan pelancong mancanegara ke Bali selama semester pertama 2026 sebesar 2,42 persen dengan total 3,20 juta kunjungan, yang berarti menurun jika dikomparasikan dengan kurun waktu serupa di tahun 2025 yang mencapai 3,28 juta kunjungan.
Deretan lima negara teratas asal turis asing tersebut diduduki oleh Australia pada peringkat pertama, kemudian diikuti oleh China, India, serta dilanjutkan oleh Inggris dan Amerika Serikat.