JAKARTA - Stabilitas pasar komoditas energi global pada awal pekan ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan diplomasi di kawasan Timur Tengah. Tekanan pada harga energi mulai mereda seiring dengan berkurangnya spekulasi konflik bersenjata yang sebelumnya sempat memanas. Harga minyak dunia dibuka melemah pada Senin lebih dari 1 persen pada perdagangan Senin setelah kekhawatiran pasar terhadap potensi konflik di Timur Tengah antara AA dan Iran mereda. Sentimen tersebut muncul menyusul selesainya satu putaran pembicaraan kedua negara pada Jumat.
Pergeseran sentimen ini memberikan napas lega bagi pasar yang sebelumnya sempat dihantui oleh ketidakpastian jalur distribusi energi global. Investor kini cenderung mengalihkan fokus mereka pada progres meja perundingan yang tengah berlangsung, yang secara langsung berdampak pada penyesuaian nilai kontrak di pasar berjangka.
Koreksi Tajam Harga Minyak Mentah Brent dan WTI
Data perdagangan menunjukkan penurunan yang cukup signifikan bagi dua acuan utama minyak mentah dunia. Kontrak berjangka minyak mentah Brent tercatat turun 89 sen atau 1,31 persen menjadi USD 67,16 per barel pada pukul 23.09 GMT. Sementara itu, minyak mentah acuan AS, West Texas Intermediate (WTI), berada di level USD 62,76 per barel setelah turun 79 sen atau 1,24 persen.
Penurunan ini merupakan respons teknis pasar terhadap iklim politik yang lebih kondusif. Pergerakan harga ini terjadi setelah adanya perkembangan positif dalam dialog nuklir antara Washington dan Teheran. Iran menyampaikan sinyal optimistis terhadap kelanjutan perundingan yang dimediasi oleh Oman. Optimisme ini menjadi faktor fundamental yang mendorong harga minyak menjauh dari level tertingginya dalam beberapa pekan terakhir.
Dinamika Komoditas CPO dan Batu Bara di Pasar Berjangka
Tidak hanya sektor minyak mentah, sektor komoditas perkebunan dan tambang lainnya juga menunjukkan tren yang serupa. Harga minyak kelapa sawit atau Crude Palm Oil (CPO) terpantau mengalami pelemahan pada penutupan hari Jumat. Berdasarkan situs Barchart, harga CPO melemah 1,24 persen menjadi MYR 4.154 per ton. Koreksi pada CPO sering kali berkorelasi dengan pergerakan harga minyak mentah karena posisi keduanya yang saling bersubstitusi dalam industri energi terbarukan.
Kondisi serupa terjadi pada pasar emas hitam. Selain itu harga batu bara penutupan Jumat terpantau melemah. Berdasarkan situs ICE Newcastle, harga batu bara turun 0,30 persen ke level USD 117.25 per ton. Meskipun penurunannya relatif tipis dibandingkan minyak mentah, hal ini mencerminkan sikap hati-hati pasar terhadap permintaan energi global di masa transisi diplomasi ini.
Logam Industri: Nikel dan Timah Bergerak Kontra di Jalur Hijau
Berseberangan dengan sektor energi dan perkebunan, kelompok logam industri justru berhasil mencatatkan penguatan tipis di bursa London. Hal ini mengindikasikan adanya permintaan yang tetap stabil untuk kebutuhan manufaktur dan teknologi dunia. Harga nikel berdasarkan London Metal Exchange (LME) terpantau naik 0,11 persen di angka USD 17.090.
Penguatan yang lebih terlihat justru dialami oleh komoditas timah. Harga timah berdasarkan London Metal Exchange (LME) naik 0,56 persen menjadi USD 46.718 per ton. Pergerakan positif pada sektor logam menunjukkan bahwa meski isu geopolitik energi sedang mereda, fundamental industri di sektor elektronik dan pembangunan masih menjadi penopang yang kuat bagi harga logam dasar di kancah internasional.