10 Siklus Akuntansi Perusahaan Jasa: Langkah Praktis & Mudah Dipahami

10 Siklus Akuntansi Perusahaan Jasa: Langkah Praktis & Mudah Dipahami
siklus akuntansi perusahaan jasa

Jakarta - Siklus akuntansi perusahaan jasa memiliki sejumlah tahapan yang perlu dipahami untuk memastikan pengelolaan keuangan berjalan tertib dan akurat. 

Secara umum, alur pencatatan keuangan pada perusahaan jasa tidak jauh berbeda dengan yang diterapkan pada perusahaan dagang.

Perbedaan utamanya terletak pada jenis aktivitas usaha serta bentuk produk yang ditawarkan, sehingga berdampak pada komponen pencatatan dan lembar kerja yang digunakan. 

Pada praktiknya, sistem pencatatan keuangan perusahaan jasa cenderung lebih sederhana karena tidak berhubungan dengan persediaan barang.

Dalam perusahaan jasa, transaksi penjualan biasanya hanya dicatat sebagai pendapatan jasa. 

Sementara itu, pada perusahaan dagang, transaksi penjualan melibatkan beberapa akun tambahan, seperti akun penjualan, harga pokok persediaan, serta harga pokok penjualan. 

Kompleksitas inilah yang membuat pencatatan keuangan perusahaan dagang umumnya lebih rumit.

Lalu, apa saja langkah-langkah yang termasuk dalam proses pencatatan keuangan pada perusahaan jasa? 

Penjelasan lengkap mengenai setiap tahap akan dibahas secara rinci pada pembahasan berikut mengenai siklus akuntansi perusahaan jasa.

Apa itu Perusahaan Jasa?

Menurut pandangan Kotler, perusahaan jasa merupakan entitas usaha yang menyediakan tindakan atau kinerja yang bersifat tidak berwujud serta tidak mengakibatkan perpindahan hak kepemilikan kepada konsumen. 

Layanan yang diberikan lebih menekankan pada manfaat yang dirasakan daripada produk fisik.

Sejalan dengan pendapat tersebut, Adrian Payne menjelaskan bahwa perusahaan jasa menjalankan kegiatan ekonomi yang menghasilkan manfaat nonfisik. 

Dalam prosesnya, terjadi interaksi antara penyedia layanan dengan pelanggan atau dengan barang milik pelanggan, namun tidak disertai dengan peralihan kepemilikan atas suatu aset.

Sementara itu, Grönroos mendefinisikan perusahaan jasa sebagai organisasi yang melakukan rangkaian aktivitas tidak berwujud yang melibatkan interaksi antara konsumen dan tenaga layanan. 

Aktivitas ini bertujuan untuk membantu menyelesaikan permasalahan atau kebutuhan yang dihadapi oleh pelanggan.

Adapun beberapa bentuk usaha yang termasuk dalam kategori perusahaan jasa antara lain:

  1. Layanan profesional seperti praktik dokter, akuntan, konsultan keuangan, dan konsultan pajak.
  2. Bidang perjalanan dan transportasi, misalnya penjualan tiket perjalanan serta jasa angkutan umum.
  3. Jasa pemasangan dan perbaikan, seperti servis ponsel dan bengkel kendaraan.
  4. Layanan pendidikan dan pelatihan, termasuk bimbingan belajar, kursus bahasa, dan lembaga pendidikan.
  5. Usaha penginapan, seperti hotel, asrama, dan mess.
  6. Penyedia jasa komunikasi, misalnya layanan televisi, radio, dan telepon.
  7. Layanan perawatan diri, seperti salon kecantikan dan spa.

Karakteristik Perusahaan Jasa

Ciri-ciri yang melekat pada perusahaan jasa dapat dijelaskan sebagai berikut:

  1. Fokus utama pada penjualan layanan
    Perusahaan jasa tidak menghasilkan barang, sehingga aktivitas utamanya adalah menawarkan dan memberikan layanan sesuai keahlian atau bidang yang dimiliki.
  2. Tidak menghasilkan produk berwujud
    Layanan yang diberikan bersifat nonfisik, sehingga tidak dapat dilihat, disentuh, atau disimpan. Meski demikian, manfaat dari jasa tersebut tetap dapat dirasakan langsung oleh pelanggan.
  3. Hasil layanan bersifat subjektif
    Kualitas dan hasil jasa sangat bergantung pada persepsi serta tingkat kepuasan masing-masing pelanggan. Oleh karena itu, pengalaman yang dirasakan satu konsumen bisa berbeda dengan konsumen lainnya.
  4. Tidak memiliki biaya produksi barang
    Karena tidak melakukan proses pembuatan produk, perusahaan jasa tidak memerlukan bahan baku. Dampaknya, laporan keuangan tidak memuat komponen harga pokok produksi maupun harga pokok penjualan.
  5. Tidak memiliki patokan harga yang seragam
    Tarif jasa umumnya disesuaikan dengan kebutuhan, permintaan, atau permasalahan yang dihadapi pelanggan. Hal ini membuat harga layanan tidak dapat ditetapkan secara umum dan bersifat fleksibel.

10 Tahap Siklus Akuntansi Perusahaan Jasa

Seperti halnya bentuk usaha lain, perusahaan jasa wajib menyusun laporan keuangan secara terstruktur. 

Untuk menghasilkan laporan yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan, pemahaman terhadap siklus akuntansi perusahaan jasa menjadi hal yang sangat penting.

Dengan mengetahui alur pencatatan keuangan secara menyeluruh, proses penyusunan laporan dapat dilakukan dengan lebih tepat dan sistematis. 

Oleh karena itu, memahami setiap tahapan dalam proses akuntansi akan membantu perusahaan jasa mengelola keuangannya secara lebih baik. 

Berikut ini adalah langkah-langkah pencatatan yang termasuk dalam proses akuntansi atau keuangan pada perusahaan jasa.

1. Pengenalan dan Analisis Transaksi (Pengelompokan)
Tahap awal dalam proses pencatatan keuangan dimulai dengan mengenali serta menelaah setiap transaksi yang terjadi. 

Pada tahap ini, akuntan atau pihak yang bertanggung jawab perlu memastikan bahwa transaksi tersebut layak untuk dicatat.

Perlu dipahami bahwa tidak semua aktivitas dapat dimasukkan ke dalam pembukuan. Hanya transaksi yang memengaruhi kondisi keuangan perusahaan, memiliki bukti yang sah, serta dapat diukur secara objektif dalam satuan uang yang dapat dicatat. 

Contohnya antara lain bukti pembelian, tanda terima penjualan, atau dokumen keuangan lainnya.

Setelah transaksi teridentifikasi, langkah berikutnya adalah menilai dampaknya terhadap kondisi keuangan perusahaan. Untuk membantu analisis ini, dapat digunakan konsep dasar akuntansi berupa persamaan:

Aset = Liabilitas + Modal

2. Pencatatan Transaksi ke Jurnal
Setelah transaksi dianalisis, data tersebut kemudian dituangkan ke dalam jurnal, yang umumnya disebut jurnal umum. 

Jurnal ini berfungsi sebagai catatan kronologis atas seluruh transaksi keuangan yang terjadi dalam satu periode tertentu.

Setiap transaksi perlu dicatat secara rinci dan sistematis berdasarkan informasi yang telah dikumpulkan. 

Pencatatan yang rapi pada tahap ini akan sangat membantu kelancaran proses pada tahapan berikutnya dalam pembukuan.

3. Pemindahan ke Buku Besar
Tahap selanjutnya adalah memindahkan data dari jurnal ke buku besar. Buku besar merupakan kumpulan akun yang digunakan untuk mencatat dan merangkum informasi keuangan berdasarkan jenisnya masing-masing.

Pada tahap ini, transaksi dikelompokkan sesuai kategori akun, seperti kas, piutang, atau beban, lengkap dengan tanggal, nomor, serta keterangan akun. 

Dengan pengelompokan tersebut, seluruh transaksi yang berkaitan dengan akun tertentu akan terkumpul dalam satu tempat. Setelah itu, saldo setiap akun dihitung untuk mengetahui total nilai yang tercatat.

4. Penyusunan Neraca Saldo
Neraca saldo merupakan daftar yang memuat seluruh saldo akun yang terdapat di buku besar pada suatu periode tertentu. 

Tahap ini dilakukan dengan memindahkan saldo masing-masing akun dari buku besar ke dalam satu daftar neraca saldo.

Prosesnya cukup sederhana karena hanya menyatukan saldo debit dan kredit dari setiap akun. Hal penting yang harus diperhatikan adalah jumlah total sisi debit dan kredit harus sama. 

Jika keduanya seimbang, hal tersebut menandakan bahwa pencatatan transaksi telah dilakukan dengan benar dan tidak terdapat kesalahan secara matematis.

5. Pembuatan Jurnal Penyesuaian dan Neraca Saldo Setelah Penyesuaian
Pada akhir periode pencatatan, sering kali ditemukan transaksi yang belum dicatat, terdapat kekeliruan pencatatan, atau akun tertentu yang nilainya perlu disesuaikan. Kondisi ini mengharuskan perusahaan melakukan penyesuaian melalui jurnal penyesuaian.

Penyesuaian biasanya dilakukan secara berkala, terutama menjelang penyusunan laporan keuangan. 

Setelah jurnal penyesuaian dibuat dan dicatat ke buku besar, langkah berikutnya adalah menyusun neraca saldo setelah penyesuaian. 

Caranya dengan memindahkan saldo akun yang sudah diperbarui ke dalam neraca saldo yang baru.

Dalam neraca saldo ini, akun-akun dikelompokkan ke dalam kategori aset dan kewajiban atau modal. Sama seperti neraca saldo sebelumnya, jumlah total debit dan kredit harus tetap seimbang. 

Contoh transaksi yang memerlukan penyesuaian antara lain penyusutan aset tetap, biaya sewa yang masih harus dibayar, atau pendapatan yang belum diterima.

6. Penyusunan Neraca Lajur
Tahapan berikutnya adalah menyusun neraca lajur yang berfungsi sebagai alat bantu sebelum laporan keuangan dibuat. 

Penyusunan neraca lajur mengacu pada neraca saldo serta jurnal penyesuaian yang telah disiapkan sebelumnya.

Jika kedua dokumen tersebut sudah lengkap, proses penyusunan neraca lajur menjadi lebih mudah dan terstruktur. Neraca lajur menyajikan ringkasan data keuangan yang akan diolah menjadi laporan laba rugi dan neraca. 

Kedua laporan inilah yang nantinya digunakan sebagai dasar untuk menggambarkan kinerja serta posisi keuangan perusahaan dalam satu periode akuntansi.

7. Penyusunan Laporan Keuangan Perusahaan Jasa
Tahap berikutnya setelah seluruh proses pencatatan dan penyesuaian selesai adalah menyiapkan laporan keuangan. 

Pada fase ini, data yang telah dirangkum sebelumnya diolah menjadi laporan yang menggambarkan kondisi keuangan perusahaan jasa secara menyeluruh.

Jenis laporan yang disusun meliputi laporan laba rugi untuk mengetahui hasil usaha, laporan perubahan modal untuk melihat pergerakan ekuitas, neraca yang menunjukkan posisi aset, kewajiban, dan modal, serta laporan arus kas yang mencerminkan aliran masuk dan keluar kas selama satu periode. 

Laporan-laporan ini menjadi dasar evaluasi kinerja keuangan perusahaan.

8. Penyusunan Jurnal Penutup
Setelah laporan keuangan selesai dibuat, langkah selanjutnya adalah menyiapkan jurnal penutup. 

Jurnal ini hanya dilakukan pada akhir periode akuntansi dengan tujuan menutup akun-akun tertentu agar siap digunakan pada periode berikutnya.

Akun yang ditutup adalah akun nominal, yaitu akun yang berkaitan dengan pendapatan dan beban, termasuk akun laba rugi serta perubahan modal. 

Proses penutupan dilakukan dengan mengosongkan saldo akun tersebut sehingga bernilai nol. Hal ini penting karena akun nominal hanya digunakan untuk mencatat aktivitas keuangan dalam satu periode tertentu.

9. Pembuatan Jurnal Pembalik
Jurnal pembalik merupakan tahap lanjutan yang bertujuan membalik sebagian pencatatan tertentu agar proses pencatatan pada periode berikutnya menjadi lebih sederhana. Tidak semua akun memerlukan jurnal pembalik.

Akun yang umumnya dibalik adalah akun-akun yang berkaitan dengan pembayaran di muka atau beban yang masih harus dibayar namun belum jatuh tempo. Dengan adanya jurnal ini, risiko terjadinya pencatatan ganda pada periode berikutnya dapat dihindari.

10. Penyusunan Neraca Akhir atau Neraca Awal
Tahap terakhir adalah penyusunan neraca setelah penutupan. Neraca ini disebut sebagai neraca akhir karena disusun pada akhir periode akuntansi. 

Namun, neraca tersebut juga berfungsi sebagai neraca awal untuk periode akuntansi selanjutnya.

Isi neraca ini hanya mencakup akun riil seperti aset, kewajiban, dan modal yang masih memiliki saldo. 

Neraca inilah yang menjadi titik awal pencatatan transaksi pada siklus akuntansi berikutnya.

Sebagai penutup, dengan memahami setiap tahap secara runtut, siklus akuntansi perusahaan jasa membantu penyusunan laporan keuangan yang akurat, rapi, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index