LIPUTANFINANSIAL.COM — Kementerian Luar Negeri RI memastikan 74 pelajar Indonesia masih berada di Kota Makkah, Arab Saudi, menyusul eskalasi serangan kelompok Houthi di kawasan tersebut. Pemantauan dilakukan melalui KBRI Riyadh, KJRI Jeddah, dan KBRI Muscat yang wilayah kerjanya mencakup Yaman. Pemerintah mengimbau WNI di sana mengikuti arahan resmi dan menghubungi hotline darurat bila situasi memburuk.
Juru Bicara Kemlu Vahd Nabyl Achmad Mulachela menyampaikan bahwa dari 77 WNI yang tercatat berada di Makkah, tiga orang telah berhasil keluar dari wilayah tersebut. Sisanya, yang mayoritas pelajar, masih bertahan sambil menunggu perkembangan situasi keamanan.
Pemantauan tidak hanya menyasar WNI di Arab Saudi. Kemlu juga menaruh perhatian pada warga Indonesia yang berada di Yaman, wilayah yang selama ini menjadi basis operasi kelompok Houthi.
KBRI Muscat Jadi Ujung Tombak Pemantauan di Yaman
Karena Indonesia tidak memiliki perwakilan diplomatik di Yaman, fungsi pemantauan dijalankan KBRI Muscat, Oman. Wilayah kerja kedutaan tersebut mencakup Yaman, sehingga menjadi saluran utama untuk memastikan kondisi WNI di sana.
KBRI Riyadh dan KJRI Jeddah mengambil peran serupa untuk wilayah Arab Saudi. Nabyl menegaskan pemantauan ini bertujuan memastikan keselamatan warga di tengah ketegangan yang belum mereda.
"Kita perlu melakukan pemantauan KBRI yang berada di Muscat yang saat ini mencakup wilayah Yaman, wilayah kerjanya dan juga KBRI Riyadh dan KBRI Jeda untuk memastikan kondisi WNI yang berada di sana," ujar Nabyl di Kantor Kemlu, Kamis (17/9/2026).
Indonesia Dorong Deeskalasi Konflik Timur Tengah
Serangan Houthi ke Arab Saudi bukan kali pertama memicu kekhawatiran bagi warga asing di kawasan. Indonesia secara konsisten mendorong penyelesaian damai atas ketegangan di Timur Tengah.
Nabyl menyatakan harapan pemerintah agar konflik tidak semakin meluas. Menurutnya, jalur diplomasi tetap menjadi pilihan utama untuk menekan eskalasi.
"Pada dasarnya kita mengharapkan situasi di Timur Tengah ini bisa diselesaikan secara damai, jika mendorong adanya deeskalasi konflik," kata Nabyl.
Imbauan bagi WNI di Kawasan Konflik
Kemlu mengingatkan WNI di Arab Saudi dan Yaman untuk aktif memantau informasi resmi dari pemerintah. Hotline darurat disiapkan bagi mereka yang menghadapi kondisi mendesak.
Langkah ini sejalan dengan prosedur perlindungan WNI di wilayah rawan konflik, di mana kecepatan informasi menjadi kunci evakuasi bila diperlukan.
"Dihimbau para WNI memperhatikan imbauan-imbauan yang diberikan pemerintah dan agar terus memperhatikan hotline-hotline yang bisa dihubungi apabila ada kondisi yang darurat," ujar Nabyl.
Hingga kini belum ada laporan mengenai WNI yang menjadi korban dalam rangkaian serangan tersebut. Kemlu memastikan pemantauan akan terus berjalan selama situasi keamanan di kawasan belum stabil.