PFI Surabaya Doakan 5 Jurnalis Hilang di Krakatau

Sabtu, 12 September 2026 | 18:41:32 WIB
Pewarta Foto Indonesia (PFI) Surabaya menyelenggarakan kegiatan doa bersama berkenaan dengan kabar raibnya lima jurnalis ketika hendak melaksanakan peliputan kegiatan erupsi yang berlangsung di wilayah Gunung Anak Krakatau. (Foto: NET)

JAKARTA — Pewarta Foto Indonesia (PFI) Surabaya menyelenggarakan kegiatan doa bersama berkenaan dengan kabar raibnya lima jurnalis ketika hendak melaksanakan peliputan kegiatan erupsi yang berlangsung di wilayah Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda. 

Kegiatan itu dilangsungkan di Taman Apsari, Jalan Gubernur Suryo, Surabaya sekitar pukul 17.00 WIB. 

Bukan hanya anggota PFI, puluhan wartawan dari berbagai media massa daring maupun cetak pun ikut serta bersama-sama menghaturkan doa kepada Sang Pencipta guna memohon perlindungan bagi para awak media yang dilaporkan hilang tersebut.

Tampak, dua hingga empat orang menghidupkan lilin sebagai lambang pengharapan untuk kepulangan mereka, serta sebagian yang lain duduk bersila sambil membawa poster berisikan potret muka kelima jurnalis yang kehilangan kontak itu. 

Sebagaimana diketahui, lima jurnalis yang kehilangan kontak saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau, di antaranya yakni Muhammad Bagus Khoirunas dari Kantor Berita Antara, Arie Basuki wartawan Merdeka.com, Daus wartawan agensi berita Anadolu, Yudhistira wartawan iNews, serta Donal Husni fotografer independen. 

Mereka duduk melingkar sembari menampakkan hal tersebut bersamaan dengan lilin yang lebih dulu dilekatkan. Selepas itu, belasan wartawan mulai melafalkan doa bersama tatkala waktu mendekati Magrib.

Ketua Pewarta Foto Indonesia (PFI) Surabaya Suryanto mengungkapkan kegiatan tersebut merupakan bentuk kepedulian rekan seprofesi di daerah setempat terhadap wartawan serta kru kapal yang hingga kini masih dalam tahapan pencarian oleh petugas gabungan di lapangan. 

“Sebenarnya ini bukan aksi, tapi doa bersama untuk lima orang jurnalis dan tiga orang kru yang saat ini masih dalam pencarian,” kata Suryanto. 

Suryanto menyatakan lilin yang dihidupkan itu adalah lambang pengharapan dari wartawan Surabaya supaya kelima wartawan beserta kru kapal lekas ditemukan dalam keadaan selamat. 

“Simbol lilin adalah simbol harapan dari kami semua agar kelima dan tiga orang rekan kami itu bisa segera ditemukan, itu adalah lilin harapan sebenarnya,“ ujarnya.

Di samping itu, PFI pun telah membangun komunikasi secara intens dengan beberapa instansi terkait, baik perusahaan media tempat para jurnalis itu bekerja maupun petugas SAR gabungan agar upaya pencarian semakin dimaksimalkan. 

Di samping itu, mereka juga turut menyediakan pendampingan bagi keluarga korban yang hilang. 

Suryanto menerangkan PFI juga telah berkoordinasi dengan kantor berita Anadolu yang berpusat di Ankara, Turki guna memastikan kabar raibnya Daus agar dapat dijadikan sebagai perhatian yang sungguh-sungguh oleh segenap jajaran redaksi. 

“Teman-teman ini yang tidak hanya bekerja di media nasional. Kayak Mas Daus itu, dia di Anadolu. Saya sudah berkoordinasi dengan teman-teman Anadolu yang lain untuk memastikan apakah pihak dari Turki sudah tahu. Ternyata memang kasus hilangnya Mas Daus saat peliputan ini sudah di-notice sama editor yang ada di Turki,” ujarnya.

Terkini