Mitigasi Karhutla, BNPB Pertimbangkan Teknologi Sambonesia

Jumat, 11 September 2026 | 00:04:31 WIB
Ketua Harian Unsur Pengarah BNPB Brigjen Pol (Purn) Ary Laksmana Widjaja. (Foto: NET)

JAKARTA — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mulai mempertimbangkan pemanfaatan teknologi pembasahan gambut untuk meningkatkan mitigasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya guna mengantisipasi ancaman El Nino pada 2027.

Ketua Harian Unsur Pengarah BNPB Brigjen Pol (Purn) Ary Laksmana Widjaja menjelaskan bahwa perangkat penanganan kebakaran gambut bernama Sambonesia—yang dikembangkan oleh tim penanggulangan karhutla APP Group—memiliki potensi besar untuk diterapkan pada wilayah-wilayah lain. 

Menurutnya, inovasi ini bekerja secara komprehensif karena tidak hanya memadamkan titik api di permukaan, melainkan juga menyuntikkan air langsung ke dalam lapisan gambut bawah yang rentan menyimpan bara tersembunyi.

"Penanganan menggunakan Sambonesia sudah sangat bagus. Kami coba adopsi untuk diterapkan di tempat lain. Sambonesia bagus untuk lahan terbakar karena selain menyemprotkan air ke permukaan, terdapat injeksi yang masuk ke gambut sehingga lapisan bawahnya ikut dibasahi," ucap Ary saat berada di Palembang, dikutip Jumat (11/9/2026).

Ary menambahkan, teknologi pembasahan tersebut sangat efektif apabila difungsikan sebagai langkah pencegahan preventif sebelum api meluas. Menjaga kadar kelembapan tanah gambut di area-area rawan dipandang vital demi meminimalisasi potensi menjalarnya api bawah tanah. 

Pengalaman penanganan karhutla sepanjang tahun ini pun wajib dijadikan bahan evaluasi matang demi memperkokoh tingkat kesiagaan menyambut tahun-tahun mendatang yang diprediksi membawa tantangan iklim lebih ekstrem.

"Sekarang saatnya kami belajar untuk mitigasi kebencanaan, terutama karhutla. Pertarungannya ada di tahun 2027 saat El Nino tiba, jadi persiapannya harus dilakukan dari sekarang. Bagaimana mencegah dan memadamkan api, apalagi kami sudah mendapatkan komplain dari mancanegara," tuturnya.

Lebih lanjut, BNPB telah memetakan enam wilayah prioritas dalam pengawasan karhutla meliputi Sumatra Selatan, Jambi, Riau, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, serta Kalimantan Barat. 

Penanganan masalah ini ditegaskan tidak boleh sekadar mengandalkan tindakan pemadaman pasca-kejadian, melainkan harus mencakup aspek pencegahan, deteksi dini, tanggap darurat, hingga tahap pascabencana secara terpadu. 

Sinergi lintas sektor melalui komponen Pentahelix yang melibatkan pemda, TNI, Polri, Manggala Agni, masyarakat, hingga sektor swasta dinilai sudah berjalan optimal di lapangan.

Pernyataan tersebut disampaikan menyusul peninjauan langsung yang dilakukan Ary ke sejumlah kawasan rawan karhutla di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) pada akhir Agustus lalu. 

Dalam kunjungan tersebut, beliau menyoroti arti penting komitmen kalangan dunia usaha dalam mengantisipasi potensi kebakaran di luar wilayah konsesi yang berbatasan langsung dengan area industri, guna mencegah perambatan api yang membahayakan tanaman produktif.

"Di Kabupaten OKI, saya tidak melihat adanya upaya APP melakukan pembakaran hutan, namun sebaliknya saya menemukan adanya keseriusan APP Group dalam ikut menanggulangi permasalahan karhutla. Karena perusahaan tentunya akan menderita kerugian yang cukup besar jika terjadi kebakaran lahan di wilayah konsesinya. Dan juga ada kekhawatiran jika terjadi kebakaran di lahan luar yang berbatasan dengan wilayah konsesi, karena bisa menjadi asal api yang membakar tanaman industri yang ada di konsesi, seperti yang diduga selama ini," pungkasnya.

Terkini