Alasan Menjerit Mampu Redakan Stres Menurut Penjelasan Psikiater

Rabu, 09 September 2026 | 03:43:03 WIB
Ilustrasi berteriak [FOTO: NET].

JAKARTA - Ada saatnya rutinitas harian terasa menekan, hingga cara penanganan stres biasa tidak lagi efektif. Batas waktu pengerjaan yang menumpuk, masalah pribadi, serta kelelahan sanggup membuat tubuh berasa tegang. 

Pikiran yang terus terpacu dan ketegangan fisik yang tak kunjung reda kerap memicu kami mencari pelampiasan lain.

Salah satu cara yang belakangan populer untuk mengusir rasa penat ini yakni dengan bersuara keras, seperti menjerit. Walau awalnya terkesan berlebihan, melepaskan suara ternyata sanggup memberi jalan keluar bagi rasa stres yang selama ini terperangkap di dalam tubuh.

Mengapa Menjerit Bisa Melepaskan Stres?

Memberikan Ruang Bagi Perasaan

Walau terdengar bagai orang yang diselimuti amarah besar, teknik meluapkan emosi ini bukan sekadar meluapkan amarah tanpa arah. Pokok dari penerapannya adalah mengarahkan frustrasi serta kecemasan ke wadah yang semestinya, supaya tidak mengendap di dalam diri.

"Emosi kami bukan sekadar pengalaman mental murni. Emosi juga memiliki komponen fisik," ujar psikoterapis berlisensi Joy Berkheimer, PhD, Rabu (9/9/2026).

Melakukan kegiatan yang mengandalkan pita suara, seperti menjerit atau bernyanyi lantang, terbukti sanggup mengubah respons fisiologis tubuh.

"Aktivitas ini dapat memengaruhi sistem saraf, meningkatkan aliran oksigen, dan menciptakan rasa ekspresi emosional yang lebih besar," tambah Berkheimer.

Menurutnya, memberi ruang suara pada emosi terasa melegakan lantaran mengalihkan pengalaman internal menjadi sesuatu yang dapat diekspresikan, ketimbang terus dipendam.

Psikiater, pakar hubungan, sekaligus pendiri Relationship RX Laura Dabney, MD, menjelaskan bahwa emosi yang kuat dapat memicu dorongan untuk meluapkannya. Sewaktu stres diabaikan, diremehkan, atau ditekan, gejolak tersebut akan terus terkumpul di bawah permukaan.

Kendati demikian, menjerit bukan merupakan satu-satunya muara akhir.

"Ekspresi emosional itu sendiri sehat, yang terpenting adalah bagaimana emosi tersebut diekspresikan dan apa yang kami pelajari darinya," tutur dr. Dabney.

Mengapa Bersuara Keras Terasa Ampuh?

Kunci keberhasilan cara ini terletak pada penyesuaian kadar intensitas emosi. Sewaktu Anda berada di batas kejenuhan, memaksakan diri untuk lekas tenang justru berisiko berujung kegagalan.

Terapis berlisensi dan pendiri Pash Co., Erin Pash, menjabarkan bahwa pada kondisi penuh tekanan, ketenangan tak seirama dengan suasana hati sistem saraf kala itu.

"Memaksa diri untuk rileks seperti meminta teko untuk berhenti bersiul di dapur," ujar dia.

Malahan, bersuara keras mampu menyamai intensitas emosi itu terlebih dahulu, sebelum akhirnya melepaskannya.

"Bersuara melibatkan napas dan diafragma dengan cara yang dapat mengubah seluruh sistem saraf, sehingga menciptakan pelepasan yang mirip dengan tangisan yang melegakan," imbuh Pash.

Ringkasnya, teknik ini menuntun pelepasan perasaan dari dalam tubuh, alih-alih membiarkannya bergejolak di area dada.

Dokter Dabney menyetujui hal itu dengan menambahkan bahwa merangkai emosi ke dalam kata-kata, suara, atau ekspresi fisik, sering kali menjadikan perasaan tersebut lebih mudah dikendalikan.

"Hal ini menjadi alasan mengapa menyanyi, tertawa, atau bahkan berteriak mengikuti musik bisa menciptakan rasa pelepasan karena beban emosi tidak lagi ditahan sepenuhnya di dalam," kata dr. Dabney.

"Gerakan, suara, napas, atau ekspresi fisik membantu seseorang mengakses emosi yang tidak dapat diproses sepenuhnya hanya dengan kata-kata," sambung Berkheimer.

Ia menegaskan bahwa pengelolaan emosi tak melulu soal memicu kondisi menjadi lebih tenang. Kadang kala, ini berkisar pada memberi ruang bagi tubuh untuk ikut serta dalam proses pemulihan.

Cara Menerapkannya Sehari-hari

Metode ini bukan berarti Anda harus menjerit sekencang-kencangnya sampai mengganggu kenyamanan orang lain.

"(Dan) Pelepasan emosi tidak harus selalu dengan berteriak ke bantal," ujar Berkheimer.

Langkah bernyanyi, berolahraga, menari, merangkai narasi dalam jurnal, atau sekadar melatih pernapasan dalam juga dapat menjadi wadah yang sehat.

"Tujuannya bukan untuk memperbesar emosi tanpa batas waktu, melainkan untuk menciptakan kesempatan yang aman untuk mengakui, mengekspresikan, dan melewatinya," lanjut Berkheimer.

Anda dapat mencoba bernyanyi lantang di dalam kendaraan tanpa perlu merisaukan lantunan suara terdengar dari luar. Untuk pelepasan yang cenderung fisik, Pash menyarankan penyediaan media khusus.

"Berteriaklah ke bantal selama 30 detik, atau berolahragalah dengan sekuat tenaga di pusat kebugaran," jelasnya.

Langkah memiliki "saluran khusus" amat krusial agar gejolak perasaan itu tak merembes ke mana-mana, termasuk dalam hubungan interpersonal Anda. Setelahnya, amati kondisi perasaan Anda. Pelepasan yang sehat mestinya menyisakan rasa lega, kejelasan pikiran, serta kesiapan untuk melangkah maju.

Terkini