JAKARTA — Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyatakan 380.000 ton beras yang akan dialihkan ke industri tepung bukan beras turun mutu, melainkan beras dengan usia simpan lebih dari empat bulan yang masih memenuhi standar mutu beras medium.
Direktur Distribusi dan Cadangan Pangan Bapanas Rahmi Widiriani mengatakan beras dengan usia simpan yang lebih lama justru memiliki karakteristik yang sesuai dengan kebutuhan industri tepung, terutama karena kadar airnya lebih rendah dan kandungan patinya tinggi.
“Yang dimaksudkan adalah beras dengan usia simpan yang lama. Kondisinya masih bagus sesuai standar mutu simpan beras medium. Berasnya jadi lebih kering dan kandungan patinya tinggi,” kata Rahmi, Rabu (9/9/2026).
Rahmi menjelaskan industri tepung membutuhkan broken rice atau beras pecah dengan spesifikasi tertentu. Bahan baku tersebut bukan berasal dari beras yang baru dipanen, melainkan beras yang memenuhi karakteristik seperti kadar air kurang dari 14% hingga kadar amilopektin dan protein yang rendah.
“Beras yang akan dilepas ke industri atau UMKM tepung, bukan beras turun mutu. Tapi beras yang usia simpan lebih dari 4 bulan. Seperti kami tahu, industri tepung perlu broken rice dengan syarat beras broken, bukan beras yang baru pane. Syaratnya kadar air kurang dari 14%, kandungan pati tinggi 80–85%, amilopektin rendah dan protein rendah,” terangnya.
Rahmi menegaskan bahwa perputaran stok cadangan beras pemerintah (CBP) pada prinsipnya dilakukan untuk menjaga ketersediaan pangan sekaligus mendukung stabilisasi harga. Lebih lanjut, Rahmi menambahkan kebijakan tersebut juga berpotensi membuka sumber bahan baku domestik bagi industri tepung beras.
Bapanas menyebut stok CBP dapat digunakan untuk memenuhi tambahan kebutuhan bahan baku industri apabila pasokan dari pasar umum dalam negeri belum mencukupi.
“Untuk mendukung tambahan bahan baku UMKM industri tepung beras dapat menggunakan CBP jika pemenuhan dari pasar umum dalam negeri masih kurang. Tidak diperlukan impor beras pecah lagi,” jelasnya.
Perum Bulog sebelumnya menyiapkan sekitar 380.000 ton beras berusia simpan lebih dari 10 bulan untuk dialihkan menjadi bahan baku tepung beras.
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan langkah tersebut diharapkan mencegah stok semakin rusak sekaligus mengurangi ketergantungan industri terhadap impor beras pecah.
“Yang disetujui hanya pengalihan beras turun mutu yang 380.000 ton itu dijadikan beras hilirisasi yaitu menjadi tepung beras,” kata Rizal saat ditemui di Kantor Perum Bulog, Jakarta Selatan, Senin (7/9/2026).
Rizal menjelaskan beras yang akan digunakan memiliki usia simpan di atas 10 bulan dan dinilai sesuai untuk diolah menjadi tepung karena memenuhi persyaratan kandungan amilosa.
Adapun beras tersebut nantinya disiapkan Bulog sebagai bahan baku dan dilelang melalui Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) dengan harga minimum Rp11.000 per kilogram.
Pelaku usaha, termasuk UMKM, dapat membeli beras tersebut sepanjang memiliki fasilitas produksi untuk mengolahnya menjadi tepung beras.