ESDM Pastikan Erupsi Gunung Anak Krakatau Aman dari Tsunami

Minggu, 06 September 2026 | 19:56:31 WIB
Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria. (Foto: NET)

JAKARTA - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menjamin bahwa aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, tidak memicu terjadinya tsunami.

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria, menerangkan bahwa tidak semua erupsi dari Gunung Anak Krakatau akan berujung pada tsunami. 

Ia menjelaskan, tragedi tsunami Selat Sunda pada 22 Desember 2018 lalu dipicu oleh gugurnya sebagian badan gunung api ke laut dalam volume besar, bukan semata-mata karena efek kolom erupsi.

Lana memaparkan bahwa kondisi morfologi Gunung Anak Krakatau saat ini sudah berbeda dibanding sebelum kejadian 2018. Ia menuturkan, sebagian besar badan gunung di sisi tertentu telah luruh pada tahun 2018, lalu mengalami pertumbuhan serta perubahan bentuk lagi akibat rentetan aktivitas erupsi selanjutnya. 

Berdasarkan pemetaan wujud terbaru, dasar struktur tubuh gunung dan kawah utamanya tidak memperlihatkan perubahan signifikan jika disandingkan dengan hasil pemetaan sebelumnya.

"Berdasarkan hasil evaluasi hingga saat ini pertumbuhan tubuh gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali pasca erupsi 22 Desember 2018 ini masih relatif kecil. Dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami," kata Lana dalam konferensi pers secara virtual, Minggu (6/9/2026).

Walau demikian, instansinya terus mengawasi secara ketat perkembangan aktivitas dan perubahan bentuk Gunung Anak Krakatau. Aktivitas vulkanik gunung ini sendiri telah tercatat sejak Jumat (4/9/2026).

Mengutip informasi dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), erupsi Gunung Anak Krakatau turut dibarengi dentuman dan suara gemuruh yang terdengar dari Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau di Pasauran. Rentetan suara tersebut merupakan bagian dari proses erupsi yang kini masih berlangsung. 

Masyarakat pun diimbau untuk tidak mendekat ke area gunung api guna menyaksikan erupsi atau merekam visual, mengingat masih adanya ancaman lontaran material dari kawah yang aktif.

Kecemasan warga, terutama yang bermukim di sepanjang pesisir Banten dan Lampung, terkait potensi tsunami akibat erupsi ini menjadi sorotan tersendiri bagi pemerintah. 

Rasa waswas tersebut sangat wajar karena memori masyarakat yang belum lepas dari tragedi tsunami 22 Desember 2018 yang berkaitan erat dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Berdasarkan hasil evaluasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) hingga detik ini, pertumbuhan badan Gunung Anak Krakatau pasca erupsi akhir 2018 masih tergolong kecil dan tidak memiliki potensi runtuh dalam skala besar yang memicu tsunami. Oleh karena itu, masyarakat diharap tidak panik.

Kendati demikian, PVMBG akan terus melakukan pemantauan secara intensif terhadap pergerakan aktivitas serta perubahan morfologi gunung tersebut. 

Masyarakat diminta untuk selalu berpegang teguh pada informasi serta arahan resmi dari PVMBG, dan tidak mengambil kesimpulan sendiri hanya dari pandangan visual maupun suara dentuman yang terdengar.

Terkini

Status Siaga Anak Krakatau Berlanjut Usai Erupsi 25 Jam

Minggu, 06 September 2026 | 21:54:32 WIB

Sayuran Pasaran Tinggi Serat untuk Cukupi Kebutuhan Harian

Minggu, 06 September 2026 | 21:51:31 WIB

Kenali Perbedaan Cotton Combed 20s, 24s, dan 30s

Minggu, 06 September 2026 | 21:45:02 WIB

Bulog Tegaskan Penyaluran Bantuan Pangan Demi Pemerataan

Minggu, 06 September 2026 | 21:42:02 WIB