Sebaran Abu Vulkanik Krakatau Capai 5 Provinsi, Ini Imbauan ESDM

Minggu, 06 September 2026 | 19:42:02 WIB
Lana Saria, selaku Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM. (Foto: NET)

JAKARTA — Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan bahwa material abu vulkanik akibat letusan Gunung Anak Krakatau telah merambah wilayah atmosfer lima provinsi di Indonesia. Kelima daerah tersebut meliputi Banten, Jawa Barat, DKI Jakarta, Lampung, serta Bengkulu.

Lana Saria, selaku Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, menyampaikan bahwa pemetaan distribusi abu vulkanik ini didapatkan dari integrasi laporan letusan dan Volcano Observatory Notice for Aviation (VONA) yang dirilis PVMBG via Magma Indonesia. 

Data tersebut juga didukung oleh pantauan VAAC Darwin serta pengolahan citra satelit Himawari-9 milik BMKG.

"Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau terpantau menyebar di atmosfer ke arah Banten, sebagian Jawa Barat, DKI Jakarta, serta Lampung dan Bengkulu. Arah dan jangkauan sebaran abu dapat berubah bergantung pada arah dan kecepatan angin," ungkap Lana melalui konferensi pers virtual pada Minggu (6/9/2026).

Lana menerangkan bahwa pola penyebaran abu ini sangat dipengaruhi oleh pergerakan angin di berbagai tingkat ketinggian. Oleh karena itu, faktor seperti ketinggian kolom asap, durasi terjadinya erupsi, hingga volume material yang disemburkan menjadi penentu utama ke mana arah abu akan bergerak.

"Oleh sebab itu, arah sebaran abu dapat berubah dalam waktu relatif singkat dan harus diperbarui berdasarkan kondisi meteorologi terkini," tambah Lana.

Ia juga mengingatkan adanya ancaman dampak yang lebih meluas jika tinggi semburan erupsi bertambah, letusan terjadi lebih lama, atau apabila angin mendorong abu vulkanik menuju rute penerbangan komersial dan area permukiman warga.

Peningkatan aktivitas vulkanik di Gunung Anak Krakatau ini telah berlangsung sejak Jumat (4/9/2026). Mengutip informasi dari situs Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), rentetan letusan tersebut dibarengi dengan gemuruh dan dentuman keras yang terdengar jelas dari Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau di Pasauran.

Berdasarkan pengamatan secara visual, tampak pancaran api kemerahan yang menyembur tanpa henti. Walaupun ketinggian pasti dari kolom erupsi ini belum dapat dipastikan, karakteristik letusannya menyerupai fenomena lava air mancur (lava fountain) yang berpotensi memicu munculnya aliran lava pijar.

Menghadapi situasi ini, Lana meminta warga agar tidak panik dan tetap tenang, serta tidak gampang terpengaruh oleh kabar simpang siur mengenai ancaman tsunami yang belum terverifikasi. 

Demi keselamatan bersama, seluruh masyarakat, turis, maupun pendaki dilarang keras untuk mendekat atau beraktivitas di dalam zona radius 3 kilometer (km) dari pusat kawah. 

Di sisi lain, warga yang berada di pesisir Banten dan Lampung dipersilakan untuk menjalankan rutinitas seperti biasa, namun diimbau untuk terus mengikuti pembaruan informasi dari pemerintah.

"Masyarakat diharapkan juga tidak terpancing isu-isu erupsi Gunung Api Krakatau yang berasal dari sumber tidak terpercaya," tegas Lana.

Melalui PVMBG, Kementerian ESDM berkomitmen untuk terus memonitor dan mengevaluasi aktivitas Gunung Anak Krakatau. 

Publik bisa mengakses informasi resmi dengan menghubungi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di nomor (022) 7272606, atau Pos Pengamatan Gunung Krakatau pada kontak (0254) 651449 / 085846324506. 

Selain itu, perkembangan terkini juga tersedia di aplikasi MAGMA Indonesia, serta berbagai kanal media sosial dan situs web resmi milik Kementerian ESDM, Badan Geologi, maupun PVMBG.

Terkini

Sayuran Pasaran Tinggi Serat untuk Cukupi Kebutuhan Harian

Minggu, 06 September 2026 | 21:51:31 WIB

Kenali Perbedaan Cotton Combed 20s, 24s, dan 30s

Minggu, 06 September 2026 | 21:45:02 WIB

Bulog Tegaskan Penyaluran Bantuan Pangan Demi Pemerataan

Minggu, 06 September 2026 | 21:42:02 WIB

BNPB Siapkan Modifikasi Cuaca Atasi Erupsi Anak Krakatau

Minggu, 06 September 2026 | 21:40:32 WIB