PLTS 100 GWp: Hemat APBN dan Pangkas Impor BBM

Jumat, 04 September 2026 | 04:33:32 WIB
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia. (Foto: NET)

JAKARTA — Pemerintah secara resmi memperkenalkan Program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 gigawatt peak (GWp) pada penghujung bulan Agustus lalu sebagai langkah taktis dalam mewujudkan kemandirian energi serta mendongkrak pertumbuhan ekonomi dalam negeri. 

Penggunaan energi surya berskala masif yang dipadukan bersama Battery Energy Storage System (BESS) ini membuka peluang bagi PT PLN (Persero) untuk memaksimalkan potensi sumber energi lokal demi mewujudkan pasokan listrik yang jauh lebih efisien, ramah lingkungan, sekaligus menekan ketergantungan pasokan terhadap bahan bakar fosil pada infrastruktur kelistrikan nasional.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengutarakan bahwa realisasi proyek PLTS 100 GWp yang didukung perangkat teknologi BESS ini menyimpan potensi efisiensi anggaran yang masif bagi negara, terutama dalam menekan konsumsi bahan bakar pada sektor pembangkit listrik.

"Ini mampu menghemat APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) kami dari subsidi solar. Dan rata-rata kami targetkan total listrik yang ada di Indonesia masih ada 12,6 GW yang memakai solar. Dari 12,6 GW itu kami menghasilkan minyak kami, itu kurang lebih equal dengan 230 sampai dengan 250 ribu barel per day. Jadi kalau ini mampu kami lakukan, maka penurunan terhadap impor BBM khususnya dari solar akan turun dan semuanya akan memakai energi nasional," ujar Bahlil.

Lebih lanjut, Bahlil menerangkan bahwa inisiatif PLTS 100 GWp ini menyimpan potensi penghematan dana hingga mencapai Rp73,9 triliun setiap tahunnya, yang bersumber langsung dari optimalisasi PLTS serta BESS dibandingkan penggunaan pembangkit berbahan bakar gas uap maupun diesel. 

Di samping menghadirkan keunggulan di sektor fiskal, program tersebut turut dirancang guna memperkuat lini industri domestik, memperluas akses serta jaminan ketahanan energi, sekaligus mengawal proses transisi energi dan pembangunan yang berkelanjutan.

"Terlebih lagi, Indonesia sudah memiliki industri panel surya dan industri baterai penyimpanan listrik/BESS di dalam negeri, sehingga melalui PLTS 100 GWp kami betul-betul akan berdiri di atas kaki kami sendiri," ucap Bahlil.

Selain memangkas ketergantungan terhadap sumber daya fosil, pemanfaatan energi surya turut mendatangkan dampak ekologis yang konstruktif lewat reduksi emisi gas rumah kaca (GRK). 

Secara akumulatif, Program PLTS 100 GWp ini berpotensi menekan emisi GRK hingga kisaran 140,16 juta ton CO? setiap tahunnya, di samping membuka peluang pasar karbon yang diestimasi menyentuh angka Rp6,31 triliun.

Pada fase permulaan, implementasi Program PLTS 100 GWp ini mencakup total 14 proyek dengan kapasitas keseluruhan mencapai 5,3 GWp yang tersebar di berbagai wilayah nusantara. 

Berdasarkan kalkulasi efisiensi energi, proyek tahap awal tersebut berpotensi menghemat konsumsi BBM hingga 319.998 kiloliter (kl) tiap tahun serta menekan penggunaan gas alam sebanyak 35,66 ribu million standard cubic feet (MMSCF) setiap tahun atau setara dengan 36.980 billion british thermal unit (BBTU). 

Tidak hanya itu, proyek ini diproyeksikan mampu mencatatkan efisiensi APBN hingga Rp4,6 triliun per tahun khusus untuk pos anggaran biaya kelistrikan.

Pandangan senada turut disampaikan oleh Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, yang menegaskan bahwa pengembangan PLTS berkapasitas besar ini merupakan pilar esensial dalam strategi optimalisasi potensi energi surya di tanah air sekaligus memperkokoh pilar ketahanan dan kemandirian energi nasional.

“Program PLTS 100 GWp merupakan bagian dari langkah strategis Pemerintah untuk mengoptimalkan potensi energi baru terbarukan (EBT), khususnya energi surya yang melimpah di Indonesia. Dengan meningkatkan pemanfaatan energi surya, kami dapat mengurangi ketergantungan pembangkit listrik terhadap bahan bakar fosil sekaligus menciptakan efisiensi biaya energi. Kami beralih dari energi kotor menjadi energi bersih, dari energi impor menjadi energi domestik, serta dari energi mahal menjadi energi yang lebih murah,” ujar Darmawan.

Darmawan menambahkan, integrasi PLTS bersama teknologi BESS juga memegang peranan krusial dalam revolusi sistem kelistrikan di tingkat nasional. 

Pemanfaatan perangkat teknologi tersebut memungkinkan pasokan energi surya yang memiliki karakteristik intermiten untuk diserap dan diinkorporasikan secara lebih stabil ke dalam sistem jaringan listrik, seraya mendongkrak tingkat pemanfaatan sumber daya energi lokal dan terbarukan.

Di sisi lain, guliran Program PLTS 100 GWp ini diyakini bakal memberikan stimulus ekonomi yang signifikan melalui pembukaan lapangan kerja baru serta penguatan rantai pasok industri di dalam negeri. 

Secara keseluruhan, program strategis ini diperkirakan mampu menyerap sekitar 5,518 juta tenaga kerja, yang terbagi ke dalam 3,465 juta peluang kerja pada sektor konstruksi serta 2,053 juta peluang kerja di sektor manufaktur.

“Pengembangan PLTS merupakan salah satu upaya dalam membangun sistem energi yang lebih mandiri, efisien, dan berkelanjutan. Program ini diharapkan tidak hanya mendorong transisi menuju energi bersih, tetapi juga memberikan kontribusi terhadap penguatan ekonomi nasional melalui penciptaan lapangan kerja, pengentasan kemiskinan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” tutup Darmawan.

Terkini

Dilepas Madrid Lewat Telepon, Ceballos Tantang Mantan

Jumat, 04 September 2026 | 06:20:02 WIB

Skenario Lolos Timnas U20 ke Piala Asia 2027

Jumat, 04 September 2026 | 06:18:31 WIB

Bocoran iPhone 18: Harga, Kamera, hingga Layar Lipat

Jumat, 04 September 2026 | 06:17:01 WIB

WBO Desak Sheeraz dan Zhanibek Segera Capai Kesepakatan Duel

Jumat, 04 September 2026 | 06:14:02 WIB