Mitos Belahan Jiwa: Riset Ungkap Sisi Gelap Destiny Mindset

Minggu, 30 Agustus 2026 | 16:38:31 WIB
Ilustrasi - Pasangan. (Foto: NET)

JAKARTA — Jika sering mendengarkan lagu cinta, memercayai saran pakar kencan, atau membaca novel romantis, kamu mungkin mulai meyakini bahwa menemukan belahan jiwa adalah sebuah takdir. 

Kamu mungkin menanti datangnya pertanda khusus, seperti kembang api atau bintang jatuh, yang seolah meyakinkanmu bahwa dia adalah sosok yang tepat.

"Namun, bagi kamu yang masih mencari keberadaan sosok tersebut, pencarian ini bisa jadi hanyalah misi yang keliru," kata profesor madya di program studi Social Psychology / Relationship Science, Deakin University, Gery Karantzas, dalam tulisannya di The Conversation, dikutip pada Minggu (30/8/2026). 

Riset mengenai sains hubungan asmara selama dua dekade terakhir menunjukkan fakta mengejutkan. Meyakini bahwa ada satu orang sempurna yang ditakdirkan untuk melengkapi hidupmu rupanya bisa memicu masalah serius.

Menurut Karantzas, pola pikir tentang takdir (destiny mindset) sangat memengaruhi cara seseorang menilai pasangannya, sekaligus memengaruhi bagaimana mereka mempertahankan hubungan yang langgeng. Sisi gelap dari pola pikir ini menghadirkan jebakan ekspektasi yang sempurna. 

Bagi sebagian orang, meyakini takdir asmara sering kali disertai dengan gambaran spesifik mengenai rupa dan sifat pasangannya kelak. Sayangnya, pemikiran ini membawa risiko besar karena seseorang menjadi kurang terbuka untuk merajut kasih dengan individu lain yang sebenarnya memiliki banyak kualitas luar biasa.

Mereka cenderung menolak peluang nyata hanya karena sosok tersebut tidak sepenuhnya cocok dengan bayangan ideal di kepalanya. Selain itu, mereka akan lebih mudah terpaku pada potensi kekurangan pasangannya dan terus membandingkannya dengan angan-angan kesempurnaan. 

Bahkan, seseorang bisa sengaja mengabaikan ketertarikan cinta yang potensial akibat terus berharap akan hadirnya figur lain yang sesuai dengan visi takdirnya, sehingga tanpa sadar mereka membuang kesempatan nyata untuk menemukan cinta.

Selain jebakan ekspektasi, pola pikir ini juga membuat pasangan menjadi malas berusaha dan cepat pasrah. Bagi pasangan yang sudah menjalin kasih, mempertahankan pandangan tersebut mungkin terasa memuaskan apabila kondisi pasangannya nyaris sempurna dan sesuai harapan. 

Kendati demikian, Karantzas menyebutkan bahwa begitu hubungan dihadapkan pada realitas yang tidak sejalan dengan visi takdir, rasa tidak puas akan langsung mendominasi perasaan. 

Penelitian menunjukkan bahwa mereka yang memercayai takdir cenderung enggan berjuang keras demi memperbaiki hubungannya akibat pandangan yang kaku terhadap pasangan. 

Alih-alih meluangkan waktu menyelesaikan persoalan asmara, mereka lebih memilih pasrah pada keadaan dengan anggapan bahwa suatu hubungan ditakdirkan berhasil dengan sendirinya atau gagal tanpa perlu diperjuangkan.

Sebagai alternatif yang jauh lebih sehat, kamu bisa mulai membangun growth mindset dalam percintaan untuk menghadapi konflik secara lebih konstruktif. 

Pendekatan ini mencakup keyakinan bahwa pasangan maupun hubungan asmara memiliki kapasitas untuk terus tumbuh dan berkembang seiring berjalannya waktu, serta keyakinan bahwa setiap masalah pasti bisa diatasi bersama.

Karantzas mengungkapkan bahwa berbagai penelitian membuktikan pola pikir yang berkembang sangat berkaitan erat dengan kemampuan adaptasi yang lebih efektif. Seseorang akan menemukan cara terbaik dalam menghadapi ujian asmara dan semakin mahir menggunakan pendekatan penyelesaian konflik. 

Individu dengan pandangan terbuka ini juga menikmati berbagai hal positif, seperti tingkat kepuasan hubungan dan keintiman seksual yang jauh lebih tinggi, serta memiliki cara yang sangat konstruktif dalam menangani pertengkaran guna menekan risiko kandasnya sebuah hubungan.

Lalu, mungkinkah seseorang memiliki kedua pola pikir tersebut secara bersamaan? Karantzas mengatakan, banyak orang bercerita bahwa mereka langsung tahu telah menemukan sosok yang tepat sejak awal bertemu. 

Akan tetapi, saat mendeskripsikan bagaimana hubungan tersebut bisa bertahan lama, terlihat jelas bahwa ada banyak waktu dan usaha yang kami kerahkan. Mereka tidak sekadar mengandalkan perasaan awal, melainkan aktif mengatasi setiap persoalan.

Orang-orang ini mungkin awalnya memiliki keyakinan tentang takdir, namun secara keseluruhan mereka lebih condong menerapkan pola pikir yang berkembang agar hubungan tetap harmonis. 

Pasangan seperti ini menyadari bahwa diri mereka telah banyak berubah dan mengakui bahwa mereka saling membantu untuk berkembang. 

Oleh karena itu, jika kamu bersedia bekerja keras demi kelangsungan hubungan dan saling mendukung untuk tumbuh, kalian akan saling mengenal dengan sangat baik. Pada titik itulah kamu akan merasa seolah-olah kalian berbagi satu jiwa yang sama, dan barangkali itulah makna sebenarnya dari sosok belahan jiwa.

Terkini