Menaker Yassierli Usulkan Perluasan MRA Keterampilan Pekerja ASEAN

Jumat, 28 Agustus 2026 | 19:41:32 WIB
Pertemuan Menteri-Menteri Ketenagakerjaan ASEAN Plus Three ke-14 (ALMM+3) di Bangkok, Thailand, Kamis (27/8/2026) [FOTO: NET].

JAKARTA — Pemerintah Republik Indonesia secara resmi mengajukan usulan agar perhimpunan negara-negara Asia Tenggara (ASEAN) dapat segera mengambil langkah percepatan serta perluasan cakupan skema pengakuan timbal balik atau Mutual Recognition Arrangement (MRA) yang berkaitan dengan standarisasi keterampilan serta kompetensi tenaga kerja.

Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli, melalui keterangan resmi yang diterima di Jakarta pada hari Jumat, menyampaikan bahwa inisiatif strategis ini memegang peranan krusial dalam upaya membuka peluang mobilitas tenaga kerja yang jauh lebih luas bagi kalangan pekerja terampil, sekaligus memberikan kepastian hukum bahwa kompetensi keahlian yang mereka miliki dapat diakui secara sah oleh para pemberi kerja di seluruh kawasan regional.

Ia menilai bahwa dinamika pergeseran lanskap dunia kerja global yang diakibatkan oleh masifnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan, digitalisasi, arus transisi energi hijau, serta pergeseran tren demografi menuntut seluruh negara anggota ASEAN untuk secara proaktif membekali tenaga kerja domestik mereka dengan portofolio keterampilan yang relevan guna menjawab tantangan kebutuhan jenis pekerjaan di masa depan.

“Karena itu, Indonesia berpandangan bahwa sudah saatnya ASEAN mempercepat agenda pengakuan bersama dan secara bertahap memperluas cakupannya ke lebih banyak jenis pekerjaan dan bidang keterampilan,” ujar Yassierli.

Berdasarkan pandangan Menaker, meskipun variasi kondisi internal dan kapasitas nasional masing-masing negara anggota menunjukkan perbedaan karakteristik, nyatanya negara-negara di kawasan regional ini dihadapkan pada spektrum tantangan yang serupa, yakni fenomena transformasi jenis pekerjaan yang disetir oleh gelombang otomatisasi, penetrasi kecerdasan buatan, serta dinamika perubahan demografi penduduk.

Oleh sebab itu, imbuhnya, fokus prioritas pada sektor pengembangan sumber daya manusia (SDM) mutlak untuk terus dipelihara sebagai komitmen bersama di lingkup kawasan regional.

Di dalam kerangka konteks tersebut, ia memandang bahwa urgensi pengakuan terhadap kompetensi keterampilan menjadi semakin mendesak agar para pelaku industri selaku pemberi kerja mampu memahami, menumbuhkan rasa kepercayaan, serta memberikan pengakuan formal terhadap kapabilitas tenaga kerja yang berasal dari berbagai penjuru kawasan.

Seiring berjalannya roda transformasi perekonomian global, eskalasi kebutuhan terhadap variasi keterampilan baru yang bersifat spesialis dipastikan akan terus bermunculan di berbagai sektor industri, sehingga menuntut ASEAN untuk memiliki kapasitas penghubung yang efektif dalam menjembatani tenaga kerja terampil dengan pelbagai peluang kesempatan kerja yang tersedia.

Menaker Yassierli mengungkapkan bahwa kehadiran sistem pengakuan bersama di lingkup ASEAN yang terbangun jauh lebih kokoh dan luas jangkauannya ini secara otomatis akan turut mendongkrak tingkat kredibilitas kualitas keterampilan serta kompetensi SDM ASEAN di kancah internasional di luar kawasan regional, sehingga pada gilirannya mampu menopang pengakuan global yang lebih komprehensif.

Di samping itu, pihak Indonesia turut menaruh perhatian besar terhadap signifikansi peran strategis yang diemban oleh negara-negara mitra Plus Three, yang meliputi Republik Rakyat Tiongkok, Jepang, serta Republik Korea.

Rekam jejak pengalaman yang dimiliki oleh ketiga negara mitra tersebut dalam hal efektivitas pengembangan sistem keterampilan, penyusunan standar okupasi profesi, mekanisme sertifikasi, hingga pelibatan aktif sektor industri diyakini mampu membantu ASEAN dalam mempercepat agenda pengakuan bersama, serta menjaga agar standar kompetensi yang diakui tetap selaras dan relevan dengan kebutuhan dunia industri yang bergerak dinamis.

Ia menambahkan bahwa bentuk kolaborasi lintas kawasan ini terbukti ampuh dalam memperkuat tingkat keterhubungan antara ekosistem sistem pengembangan keterampilan regional ASEAN dengan realitas kebutuhan bursa industri di lapangan.

“Bagi Indonesia, pengakuan bersama yang lebih luas dapat menciptakan peluang yang lebih besar bagi tenaga kerja terampil ASEAN, mendukung pencocokan talenta yang lebih baik dengan kebutuhan pasar kerja, serta memperkuat kontribusi mereka terhadap produktivitas dan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan,” kata Yassierli.

Terkini

Strategi Menkeu Purbaya Genjot Pajak 2027

Jumat, 28 Agustus 2026 | 21:56:31 WIB

Waspada Penipuan, BRI Ajak Masyarakat Cermat Berinvestasi

Jumat, 28 Agustus 2026 | 21:51:32 WIB

Skema Utang Whoosh Dibahas 15 September

Jumat, 28 Agustus 2026 | 21:48:31 WIB