Peran Strategis BI Dorong Pertumbuhan Ekonomi

Rabu, 26 Agustus 2026 | 00:50:32 WIB
Calon tunggal Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti. (Foto: NET)

JAKARTA - Calon tunggal Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, mengungkapkan bahwa sumbangsih bank sentral terhadap perekonomian tidak dapat diukur secara langsung lewat persentase angka tertentu. 

Kendati demikian, BI mampu memberikan andil dengan membangun iklim ekonomi yang sehat melalui instrumen suku bunga, pengelolaan likuiditas, serta penerapan insentif makroprudensial.

Pernyataan tersebut diungkapkan oleh Destry ketika merespons pertanyaan para anggota Komisi XI DPR RI di dalam agenda uji kelayakan dan kepatutan calon pimpinan tertinggi BI pada hari Rabu, 26 Agustus 2026. 

Destry menjelaskan bahwa meskipun perekonomian nasional pada kuartal II 2026 berhasil tumbuh di angka 5,29%, merumuskan seberapa besar persentase andil langsung BI dalam pencapaian itu bukanlah perkara mudah.

"Tentunya kalau melihat seberapa besar kontribusi, berapa persen ke pertumbuhan ekonomi dari 5,29%, berapa besar BI berkontribusi terhadap pertumbuhan itu, itu mungkin tidak akan serta-merta bisa terjawab," ujar Destry.

Walau demikian, menurut pandangannya, bank sentral tetap mengambil peran vital dengan menjaga stabilitas likuiditas serta mengendalikan biaya dana agar senantiasa menopang jalannya aktivitas bisnis. 

Salah satu upaya nyata yang ditempuh adalah memperluas volume transaksi repo tatkala suku bunga acuan merangkak naik guna menambah pasokan likuiditas di pasar keuangan.

Langkah strategis tersebut terbukti mampu menurunkan suku bunga overnight dari posisi puncaknya di level 6,5% melandai ke kisaran 6%. Destry menegaskan bahwa dinamika ini pastinya akan berdampak langsung terhadap efisiensi biaya dana atau cost of fund yang harus ditanggung oleh sektor perbankan.

Di samping pemeliharaan likuiditas, kontribusi nyata BI dalam menggenjot perekonomian turut diwujudkan lewat bauran kebijakan makroprudensial, dengan Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM) sebagai salah satu instrumen utamanya. 

Melalui kebijakan ini, otoritas moneter menggelontorkan insentif likuiditas kepada industri perbankan yang besarnya mencapai 6% dari total Dana Pihak Ketiga (DPK).

Berdasarkan data hingga Agustus 2026, tercatat aliran dana sekitar Rp450 triliun telah kembali diserap oleh sektor perbankan nasional berkat implementasi kebijakan tersebut. Kelompok Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) tercatat sebagai institusi yang paling banyak menerima porsi insentif KLM.

"Dan kalau kami lihat, Pak, sekarang growth kami ini kan juga memang masih sangat didrive oleh bank-bank Himbara," jelasnya.

Menanggapi kondisi tersebut, Destry menilai tren positif itu perlu diperluas dengan merangsang bank-bank swasta agar lebih agresif mengalirkan pembiayaan kredit baru. Dengan demikian, ekspansi kredit tidak lagi bertumpu sepenuhnya kepada kelompok perbankan Himbara semata.

Di sisi lain, BI juga memberikan perhatian khusus terhadap pembiayaan bagi sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Destry mengakui bahwa laju pertumbuhan kredit UMKM saat ini masih tergolong lambat di angka 1,6%, kendati kondisinya sudah berangsur pulih dari fase kontraksi sebelumnya.

Guna mendongkrak sektor ini, BI menyediakan insentif makroprudensial berupa pelonggaran ketentuan Giro Wajib Minimum (GWM) bagi bank komersial yang menunjukkan peningkatan penyaluran kredit kepada segmen UMKM. 

Terobosan lain yang disiapkan adalah membuka ruang bagi bank pemegang portofolio UMKM untuk menerbitkan sertifikasi atau surat berharga agar bisa dibeli oleh institusi perbankan lain.

Penerapan mekanisme ini diharapkan dapat membantu bank lain dalam menuntaskan kewajiban rasio pembiayaan inklusif secara lebih fleksibel. Terlebih lagi, kinerja penyaluran kredit perbankan nasional secara keseluruhan hingga Juli 2026 telah berhasil menembus angka di atas 13%.

Pencapaian pertumbuhan kredit yang impresif tersebut sekali lagi masih didominasi oleh peranan aktif dari bank-bank Himbara. Destry menutup penjelasannya dengan menekankan bahwa dana insentif KLM terbukti menjadi salah satu motor penggerak utama di balik ekspansi kredit bank Himbara tersebut.

"Jadi kalau kami lihat, berarti ada dana KLM kami yang sebenarnya menjadi sumber juga untuk pertumbuhan kredit dari bank Himbara tersebut," imbuh Destry.

Terkini