IHSG Terkoreksi Tipis ke 6.524, Sektor Energi Justru Menguat 0,24%

Selasa, 25 Agustus 2026 | 06:13:00 WIB

LIPUTANFINANSIAL.COM — Berdasarkan data BEI hingga pukul 09.04 WIB, IHSG tercatat turun tipis 0,84 poin atau 0,013% dari penutupan pekan lalu di level 6.525,69. Indeks sempat dibuka menguat di level 6.544 dan mencapai level tertinggi harian 6.551, namun tekanan jual di awal sesi membuat indeks utama bursa tanah air berbalik arah.

Kondisi berbeda justru terlihat pada indeks sektoral energi. IDX Energy mencatatkan penguatan 7,66 poin atau 0,24% ke level 3.239,82, menjadikannya salah satu sektor dengan kinerja paling resilient di tengah koreksi pasar.

Saham Penunjang Migas dan Kontraktor Tambang Pimpin Penguatan

Kenaikan indeks sektoral ini ditopang oleh pergerakan saham-saham berkapitalisasi menengah di subsektor jasa penunjang migas dan kontraktor pertambangan. Sillo Maritime Perdana melesat 6,48% ke Rp2.300, menjadi pencetak gain tertinggi di pagi ini.

Disusul Dana Brata Luhur yang menguat 2,86% ke Rp1.800 dan Golden Eagle Energy yang naik 1,86% ke Rp1.920. Saham emiten energi lainnya seperti Super Energy, Indika Energy, dan Baramulti Suksessarana juga mencatatkan penguatan antara 0,90% hingga 1,50%.

Tekanan Jual di Saham Batu Bara Berkapitalisasi Besar

Di sisi lain, aksi ambil untung justru terjadi pada emiten batu bara berkapitalisasi jumbo. Transcoal Pacific menjadi yang paling tertekan dengan koreksi 3,88% ke Rp2.230, sementara Bayan Resources turun 3,55% ke Rp15.600.

Adaro Andalan Indonesia terkoreksi 1,01% ke Rp9.800 dan Indo Tambangraya melemah 0,79% ke Rp25.200. Menariknya, sejumlah saham lapis kedua seperti Mitrabahtera Segara, ABM Investama, dan Bukit Asam masih bertahan di level harga sebelumnya tanpa perubahan berarti.

Fenomena ini menunjukkan rotasi sektor terjadi di dalam industri energi itu sendiri. Investor cenderung memindahkan dana dari emiten batu bara besar yang sudah mengalami reli panjang menuju saham-saham dengan valuasi lebih murah di subsektor jasa penunjang.

Pergerakan IHSG yang cenderung sideways ini masih akan dipengaruhi sentimen eksternal, terutama pergerakan harga komoditas global dan arus modal asing. Pelaku pasar disarankan mencermati level support 6.518 yang sempat diuji pada awal sesi sebagai indikator arah perdagangan selanjutnya.

Terkini